Tautan-tautan Akses

Makanan Tidak Sehat Bunuh Ratusan Ribu Orang


Seorang anak perempuan, yang sakit karena mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi di sekolah, istirahat di hotel di kota Patna, India timur. (Foto: dok.)

Seorang anak perempuan, yang sakit karena mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi di sekolah, istirahat di hotel di kota Patna, India timur. (Foto: dok.)

Menyambut Hari Kesehatan Dunia (7 April), WHO atau Organisasi Kesehatan Dunia mendesak pemerintah untuk memberlakukan sistem keamanan pangan yang kuat unutk melindungi orang-orang dari makanan yang terkontaminasi yang bisa menewaskan mereka.

Manusia harus makan untuk bertahan hidup, tapi WHO memperingatkan bahwa apa yang seseorang makan bisa membunuh mereka. Berkat globalisasi, begitu banyak jenis makanan, entah masih musimnya atau tidak, yang tersedia untuk orang di seluruh dunia.

Sayangnya, WHO mengatakan makanan bisa terkontaminasi oleh bakteri, virus, parasit dan bahan kimia yang berbahaya di manapun seiring dengan rantai produksi dan distribusi makanan yang pelik yang semakin berkembang akibat globalisasi.

Badan PBB tersebut mengatakan penyebab pencemaran makanan telah menyebabkan lebih dari 200 penyakit, mulai dari diare sampai kanker. Untuk pertama kalinya, WHO mengeluarkan perkiraan kasus global akibat penyakit-penyakit yang berasal dari makanan.

Departemen Keamanaan Makanan dan Direktur Zooneses Kazuaki Miyagishima mengatakan pada VOA banyak sekali bahaya terkait makanan, para ahli WHO harus membatasi penelitian mereka di penyakit-penyakit usus yang berbeda.

“Kami menemukan 22 bakteri, virus dan parasit berdasarkan perkiraan kami di tahun 2010, 22 patogen yang berbeda-beda yang menyebabkan 582 juta kasus penyakit yang disebabkan oleh makanan yang kemudian menjadi penyebab 351.000 kematian di seluruh dunia," kata Miyagishima.

Dr. Miyagishima mengatakan WHO memperkirakan bisa mempublikasikan informasi tentang kontaminasi makanan akibat bahan kimia di akhir tahun ini.

Kurangnya sistem kemananan pangan

Ia mengatakan Afrika adalah wilayah dengan kasus penyakit usus akibat makanan tertinggi, diikuti oleh Asia Tenggara. Ia mengatakan situasinya terutama sangat buruk di Afrika karena benua tersebut tidak mempunya sistem keamanan pangan dan kesehatan yang baik. Ia mengatkan produksi dan cara makanan disiapkan cenderung berada di bawah standar keamanan higienis.

Ia mengatakan anak-anak yang masih sangat kecil adalah korban utama akibat pangan yang tidak aman.

“Empat puluh persen penyakit dan kematian terjadi pada anak-anak berusia lima tahun dan di bawahnya, dan di populasi global, populasi anak berusia di bawah lima tahun dan di bawahnya adalah sebesar sembilan persen. Jadi sembilan persen dari populasi anak-anak di dunia berkontribusi terhadap angka 40 persen penyakit yang disebabkan oleh makanan," kata Miyagishima.

WHO mendesak pemerintah di berbagai negara untuk memberlakukan undang-undang dan sistem keamanan pangan untuk melindungi warganya. WHO juga merekomendasikan pemerintah di berbagai negara untuk mengacu pada pedoman standar yang ditetapkan oleh WHO dan Organisasi Pangan dan Pertanian atau FAO.

WHO mengatakan ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan oleh para konsumen untuk melindungi diri mereka sendiri. WHO menyarankan mereka membaca label ketika membeli makanan, mencuci tangan dan mencuci makanan, tidak menyampur makanan mentah dan dimasak menjadi satu, dan memasak makanan sampai matang.

XS
SM
MD
LG