Tautan-tautan Akses

Kevin Herjono Bangkitkan Imajinasi Dalam Video Game di Amerika


Kevin Herjono, 3d generalist di Blur Studio milik sutradara Tim Miller penggarap film "Deadpool" (Dok: Kevin Herjono)

Kevin Herjono, 3d generalist di Blur Studio milik sutradara Tim Miller penggarap film "Deadpool" (Dok: Kevin Herjono)

Anak muda Indonesia, Kevin Herjono di California terjun ke dunia efek visual sebagai 3d generalist di perusahaan Blur Studio milik sutradara Tim Miller yang menggarap film "Deadpool."

Kecintaan Kevin Herjono terhadap dunia efek visual sudah tertanam sejak masih duduk di bangku SMA saat sekolahnya mengadakan festival film untuk para murid jurusan IPS. Hobinya menonton film Hollywood, salah satunya Harry Potter, juga memicu ketertarikannya untuk terjun ke bidang ini.

Setelah lulus dari Savannah College of Art and Design di Savannah, Georgia tahun 2015 lalu, anak muda kelahiran tahun 1993 ini kini bekerja sebagai seorang 3D generalist di Blur Studio di Culver City, California, yang ikut didirikan oleh sutradara penggarap film “Deadpool,” Tim Miller.

Sebagai seorang 3d generalist, pekerjaan Kevin tidak hanya berkutat dengan penggarapan efek visual dan gambar tiga dimensi saja, tetapi ia juga ditantang untuk menghaluskan tekstur dari sebuah karakter dan memainkan cahaya, sehingga apa yang nampak di layar bisa terlihat lebih realistis. Semua ini kemudian dituangkan ke dalam satu video pendek sejenis trailer atau yang dikenal sebagai cinematic game.

Kevin Herjono, 3d generalist di Blur Studio milik sutradara Tim Miller penggarap film "Deadpool" (Dok: Kevin Herjono)

Kevin Herjono, 3d generalist di Blur Studio milik sutradara Tim Miller penggarap film "Deadpool" (Dok: Kevin Herjono)

“Kalau misalnya teman-teman lihat (video game) World of War Craft atau lihat Diablo di YouTube biasanya suka ada lima sampai sepuluh menit short movie gitu, itu game cinematic,” jelas Kevin Herjono saat dihubungi oleh VOA Indonesia belum lama ini.

Saat masih kuliah di Savannah College of Art and Design di Savannah Georgia, Kevin mengambil jurusan visual effects, di mana ia harus memilih untuk mendalami animasi atau efek visual.

“Saya pertama kali masuk enggak begitu tau sebenernya apa. Tapi waktu saya baca deskripsinya ada animation, ada visual effects, kayaknya saya lebih tertarik di visual effects,” papar alumni SMA Kolese Loyola Semarang ini.

Dalam dunia animasi, seorang animator fokus bertugas untuk menggerakkan sebuah karakter atau obyek.

“Pertama sih kalau di visual effects sendiri kan lebih ke art base kan, tantangannya yang paling berat terutama di estetika dan art-nya tuh harus benar-benar belajar waktu di awal,” papar pecinta fotografi dan traveling ini.

Saat ini Kevin sedang disibukkan dengan penggarapan proyek cinematic terbaru produksi perusahaan Microsoft dan Warner Brothers.

“Belum bisa disebutkan spesifik gamenya. Tapi akan dirilis tahun depan,” kata Kevin.

Bagi teman-teman yang tertarik untuk terjun ke dunia efek visual, kuncinya menurut Kevin adalah rajin berlatih.

"Kalau (mau) terjun ke visual effects yang paling efektif sebenarnya latihan terus, mengerjakan proyek. Kebanyakan orang bertanya kita pakai software apa. Sebenarnya kalau teknik sendiri bisa dipelajari. Yang paling susah biasanya adalah latihan untuk aesthetic skill nya. Itu yang harus dilatih terus,” papar Kevin menutup wawancara dengan VOA.

XS
SM
MD
LG