Tautan-tautan Akses

Dubes Malaysia soal Kepemimpinan Malaysia dalam ASEAN


Duta Besar Malaysia untuk Amerika Seikat, Dr. Awang Adek Hussein (foto: courtesy).

Duta Besar Malaysia untuk Amerika Seikat, Dr. Awang Adek Hussein (foto: courtesy).

Wartawan VOA, Eva Mazrieva mewawancarai langsung Duta Besar Malaysia untuk AS, Datuk Dr. Awang Adek Hussein.

Malaysia tahun ini memainkan peranan penting di Asia dan juga dunia. Selain menjadi Ketua Organisasi Negara-Negara Asia Tenggara ASEAN, mulai 1 Januari lalu Malaysia juga memainkan peran aktif sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.

VOA: Pertama sekali kami ingin mengucapkan selamat dengan dua peran utama Malaysia tahun 2015 ini, yaitu sebagai Ketua ASEAN dan anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Apa prioritas utama Malaysia setelah terpilih sebagai Ketua ASEAN?

Dr. Awang Adek Hussein: “Prioritas utamanya adalah memastikan supaya komuniti ekonomi ASEAN berjaya sepenuhnya menjelang akhir 2015 nanti. Keduanya adalah tema chairmanship Malaysia adalah “people centered ASEAN” yang bermakna “ASEAN berpaksi pada masyarakat” supaya setiap ahli masyarakat di mana saja di dalam negara-negara ASEAN ini merasa berada dalam sebuah masyarakat ASEAN, sehingga ASEAN tidak saja dilihat sebagai arena mesyuarat pemimpin-pemimpin saja”.

VOA: Jika kita menanyakan kepada khalayak ramai tentang ASEAN, sebagian besar di antaranya menilai ASEAN adalah organisasi yang lemah. Misalnya ketika mengatasi sengketa wilayah di Laut Cina Selatan. ASEAN dianggap tidak punya gigi untuk menyelesaikan konflik ini sehingga membuat anggota-anggotanya lebih memilih membawa masalah ini ke mahkamah arbitrase atau meminta perlindungan ke negara-negara yang lebih besar. Bagaimana menurut Bapak?

"Memang kalau dilihat setengah-setengah pandangan begitu. Tetapi ada pula yang menilai ASEAN seharusnya bergerak sebagai satu masyarakat keseluruhan, “kepala dan ekor harus bergerak bersama” – begitu istilahnya – dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Ini cara ASEAN seharusnya. Yang penting menurut saya ada kesadaran bahwa ASEAN ini penting, harus senantiasa bergerak bersama, dan siap menghadapi cabaran semasa yang perlu dihadapi dengan cara yang boleh mendatangkan hasil kepada negara-negara ASEAN dan ahli-ahlinya”.

VOA: ASEAN diibaratkan seperti “anak gadis cantik di tengah sekumpulan pemuda”. Ada desakan agar ASEAN segera mewujudkan ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN, tetapi di sisi lain ada pula desakan agar negara-negara ASEAN bergabung dalam “Trans-Pacific Partnership” TPP (bersama Amerika, Australia, Brunei Darusalam, Kanada, Chile, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Singapura dan Vietnam) atau bergabung dengan “Asian-eco-zone” yang digagas China, atau membentuk “Regional Comprehensive Economic Partnership” RCEP (ASEAN plus enam negara yang sudah memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan ASEAN – Australia, China, India, Jepang, Korea Selatan dan Selandia Baru). Bagaimana Bapak melihat hal ini?

“Saya suka dengan pengibaratan itu. Yang penting menurut saya adalah ASEAN tetap yang utama. Yang lain-lain itu tidak semestinya kita terpaksa mengikuti semuanya. Yang penting tindakan kita tidak konflik dengan ASEAN. Misalnya dalam kerjasama TPP, hanya ada beberapa anggota ASEAN yang terlibat seperti Malaysia, Singapura, Vietnam dan Brunei Darussalam, sementara yang lain memilih tidak terlibat. Tidak apa-apa, tidak masalah. Mungkin suatu masa nanti yang lain ikut bekerjasama. Ini merupakan satu cara dimana setengah-setengah negara yang masih tidak mau atau pun masih tidak bersedia tetap bisa menjalankan urusan mereka tanpa merasa terpaksa. Yang penting agenda ASEAN tetap diteruskan bersama dan diputuskan bersama. Mana yang bisa kita selesaikan sendiri dan mana yang tidak. Sejarah telah menunjukkan bahwa ASEAN telah berjaya dalam banyak bidang dan yang paling unggul adalah ASEAN Economic Community yang begitu ke hadapan sekali dan mendapat faedah yang dapat dirasai oleh seluruh masyarakat ASEAN”.

VOA: Dalam beberapa tahun terakhir ini Amerika menerapkan kebijakan baru yang disebut “Asia pivot”. Apakah hal ini sudah terasa memberi manfaat pada negara-negara di Asia?.

“Ini saya kira baik untuk ASEAN karena mana-mana saja tumpuan yang diberikan oleh negara besar – kalau mau bertumpu pada ASEAN secara khusus dan Asia secara keseluruhan – sudah tentu akan memberi faedah kepada kita semua di rantau ini. Karena jelas akan menambah faedah perdagangan, keprihatinan, hubungan antar rakyat kita dan rakyat Amerika, disamping negara-negara besar lainnya”.

VOA: Selain terpilih menjadi Ketua ASEAN, Malaysia tahun ini juga terpilih menjadi satu dari sepuluh anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Apakah hal ini akan semakin menjadi dorongan bagi Malaysia untuk menyuarakan kepentingan Asia, dan sekaligus kepentingan Malaysia sendiri?. Misalnya saja membuat Malaysia semakin intensif mendesak pihak-pihak berwenang untuk minta maaf atau memberi ganti rugi kepada para keluarga penumpang pesawat Malaysia Airlines MH17 yang ditembak jatuh di Ukraina Timur 17 Juli 2014 lalu?

“Malaysia merupakan pemain antar bangsa dan kita bermain satu pasukan. Saya kira dengan adanya Malaysia dalam Dewan Keamanan PBB itu bukan berarti Malaysia bisa sewenang-wenang mengambil peluang untuk kepentingan Malaysia semata-mata, tetapi yang penting adalah masyarakat antar bangsa dan masyarakat serantau – seperti di Asia. Malaysia berada disana bukan saja mewakili Malaysia tetapi juga mewakili ASEAN. Banyak yang bisa dilakukan. Penting untuk memiliki hubungan rapat dengan negara-negara besar, terutama sekali dengan negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB karena keputusan apapun yang akan diambil perlu mendapat sokongan mereka. Tidak ada guna kita punya banyak ide dan berjuang habis-habisan tetapi tidak mendapat sokongan dari anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang punya kuasa veto. Menurut saya “cara” itu penting. Bagaimana kita memperjuangkan agenda Malaysia dan agenda ASEAN. Saya kira Malaysia begitu prihatin dengan cabaran dan peluang tersebut”.

VOA: Saya ingin menyinggung satu isu terkait hal ini. Bagaimana peningkatan radikalisasi di dunia – juga di Asia – dipandang sebagai ancaman oleh Barat, tetapi di Asia merupakan hal yang biasa dan sejauh ini bisa ditangani.

“Kita umpamanya ada negara-negara yang mayoritas Muslim seperti Malaysia dan Indonesia, ini dua negara contoh yang baik. Kita memiliki perbedaan-perbedaan tetapi tetap bisa berada dalam kondisi yang aman, damai, saling bertoleransi. Masyarakat kedua negara begitu majemuk, tetapi tidak ada konflik. Manakala di Timur Tengah masyarakatnya lebih homogen, tetapi konfliknya tidak habis-habis. Kita bisa tunjukkan bahwa gagasan modernisasi, keseimbangan dan kesetaraan keadilan, persamaan hukum di Indonesia dan Malaysia terbukti berhasil dan bisa menjadi contoh”.

VOA: Bagaimana Bapak menilai hubungan Malaysia dan Indonesia yang kini berada di bawah kepemimpinan baru?

“Saya yakin hubungan Malaysia dan Indonesia akan terus berkembang baik karena kita adalah serumpun. Kita ada jiran yang paling dekat. Saya rasa Malaysia dan Indonesia merupakan negara yang paling rapat dan tidak dapat dipisahkan. Meskipun secara geografis dipisahkan oleh Selat Malaka tetapi hati dan jiwa kita adalah sama”.

VOA: Bagaimana dengan konflik yang kadang-kadang terjadi. Misalnya saling klaim wilayah atau ketenagakerjaan?.

“Kalau adik beradik tidak senantiasanya terus sejalan dan aman, mesti ada perselisihan paham dan kurang selesa, tetapi semua dapat diselesaikan dalam suasana kekeluargaan yang baik. Harusnya ini dipertahankan dan dilanjutkan. Memang ada sedikit sebanyak, sedangkan lidah bisa tergigit, ini lagi negara dan keluarga. Tetapi yang pokoknya kita adalah dua negara saudara yang tetap unggul dan kukuh”.

VOA: Terakhir, bagaimana Bapak menilai media di kedua negara?. Dari pernyataan-pernyataan Bapak tadi sepertinya hubungan kedua negara tidak ada masalah, tetapi seringkali memanas karena satu dua isu saja. Apakah ditenggarai media ikut memainkan peran?

“Ya kadang-kadang ada kumpulan tertentu yang memiliki kepentingan-kepentingan tertentu. Tetapi akhirnya gambaran yang lebih besar, lebih bermakna, lebih tulen itu dapat mengatasinya. Saya tidak bimbang. Hubungan Malaysia dan Indonesia akan terus erat dan memberi faedah bersama kepada dua negara dan dua rakyat kita”.

XS
SM
MD
LG