Tautan-tautan Akses

Kelompok Perakit Bom Tambora dan Depok Terkait Jaringan Lama


Humas Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar menunjukkan bukti bom rakitan pada insiden di Beji, Depok. (VOA/Andylala Waluyo)

Humas Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar menunjukkan bukti bom rakitan pada insiden di Beji, Depok. (VOA/Andylala Waluyo)

Bom rakitan yang ditemukan di Depok dan Tambora mirip dengan yang digunakan dalam beberapa peristiwa pengeboman di masa lalu.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Markas Besar (Mabes) Kepolisian Republik Indonesia, Brigjen Boy Rafli Amar, menjelaskan di Jakarta, Rabu (12/9), bahwa bahan-bahan pembuat bom dan rangkaian sirkuitnya tidak jauh berbeda dengan bom-bom sebelumnya. Hanya saja, ada perbedaan di wadah bom rakitan itu, yang untuk kali ini lebih bervariasi.

“Ada kemiripan dalam sistem kerja, hanya bungkusnya saja yang berbeda. Jika dulu ada gotri, kali ini diganti dengan paku, mur dan baut. Dan kalo dulu bom itu diletakkan di wadah yang kemudian dibawa dengan mobil, sekarang lebih variatif, seperti di ikat pinggang, pipa peralon ukuran kecil hingga sedang dan sebagainya,” ujar Boy.

Sementara itu, terkait dengan identifikasi korban yang diduga pelaku perakit bom yang menderita luka berat saat bom rakitan meledak di Beji Depok, tim Indonesia Automatic Fingerprints Identification System (INAFIS), Mabes Polri mengatakan yang bersangkutan berinisial W.

Boy menjelaskan W diduga masuk dalam daftar buronan teroris.

“Kita duga kuat W ini termasuk yang aktif untuk merakit dan merangkai (bom) ini. Kita sudah ada bahan terkait dengan W. Kita coba untuk mengkonfirmasi siapa sebenarnya ia. Kalau memang ya, ada sumber-sumber yang mendukung. Karena ini berkait denga orang-orang lama yang sudah tidak muncul, namun kembali di peristiwa Beji ini,” ujar Boy.

Kelompok ini, menurut Boy, terinspirasi dari tokoh-tokoh pelaku teroris sebelumnya.
“Mereka mendapat inspirasi dari tokoh-tokoh sebelum mereka, yang sepertinya dijadikan bahan mereka untuk merencanakan seperti ini. Kemudian mereka bergabung satu sama lain,” tambahnya.

Terduga teroris asal Tambora, Jakarta Barat, Muhammad Toriq, diidentifikasi merupakan jaringan Abu Omar aktivis Darul Islam yang keluar masuk wilayah konflik. Pengamat teroris Noor Huda Ismail kepada VoA memastikan, kelompok ini memiliki pengetahuan militer dan menargetkan aparat keamanan sebagai sasaran antara.

“Itu kan sebetulnya karena faksinya si Abu Omar. Karena Abu Omar in adalah dari kalangan Darul Islam senior yang keluar masuk wilayah konflik. Meski dia sudah di penjara, tapi jejaringnya masih terus bergerak. Sebetulnya ini sasaran antara, karena selama ini aparat keamanan menghalangi mereka,” ujar Noor.

“Jika nanti faksi kemudian menguat, mereka akan kembali ke sasaran lama. Lagipula kalau sasarannya ke polisi itu lebih spesifik, dibanding ke simbol-simbol barat tapi banyak menyasar ke masyarakat sipil. Sebagaimana Bom Bali, dan hal itu mendapat banyak kritikan diantara mereka sendiri.”

Kelompok Abu Omar berasal dari kelompok Darul Islam, kemudian pecah menjadi Jamaah Islamiyah (JI) dan Abu Omar. Abu Omar alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman ditangkap Juli 2011 di Jakarta atas dasar penyelundupan senjata dari Filipina bagian selatan ke Indonesia. Abu Omar adalah ayah tiri Farhan Mujahid yang tewas ditembak di Solo beberapa waktu lalu.
XS
SM
MD
LG