Tautan-tautan Akses

AS

Kebijakan Non-Intervensi Trump bisa Pecah Partai Republik


Lindsay Graham, Senator Partai Republik dari South Carolina (foto: dok).

Pernyataan non-intervensi (tidak campur tangan konflik negara lain) oleh Donald Trump membuat kesal para anggota Kongres AS pendukung perang dan dikhawatirkan bisa memecah-belah Partai Republik.

Pernyataan non-intervensi Donald Trump membuat kesal para pendukung perang di Capitol Hill dan bisa memecah-belah anggota legislatif dari Partai Republik, setelah presiden terpilih itu menjadi panglima tertinggi bulan depan.

“Suka atau tidak kita akan terlibat dengan konflik di luar negeri,“ kata Senator Partai Republik Lindsay Graham dari South Carolina kepada VOA mengenai apa yang sebutnya “saran” bagi Trump.

Graham, anggota Komite Militer Senat yang lama menjabat itu, mengatakan, “Kita tidak bisa mengalahkan Islam radikal, dari wilayah Amerika.Kita harus berada di medan tempur di luar negeri. Kita tidak bisa mempertahankan kemenangan tanpa tindak lanjut kehadiran militer.”

Berbicara di North Carolina hari Selasa Trump mengatakan ia tidak ingin pasukan Amerika berperang “di daerah-daerah di mana Amerika seharusnya tidak bertempur” dan itu adalah “siklus destruktif intervensi dan kekacauan” yang harus diakhiri.

“Kita akan berhenti berlomba menumbangkan rezim asing yang kita tidak tersangkut paut, di mana kita seharusnya tidak terlibat,” kata Trump kepada pendukung dalam sebuah pertemuan pasca-pemilu.

Presiden terpilih itu juga secara resmi mengumumkan ia telah memilih purnawirawan AL Jenderal James Mattis sebagai calon menteri pertahanannya.

Mattis, yang dijuluki “Matt Dog” selama masa pengabdiannya, sudah tidak asing dengan intervensi militer Amerika. Ia memimpin divisi marinir dalam invasi Irak tahun 2003, dan kemudian memimpin operasi Amerika di Afghanistan dan Irak sebagai panglima Komando Sentral Amerika. [my/ds]

XS
SM
MD
LG