Tautan-tautan Akses

Kawanan Somalia Sandera Kapal Tangki Minyak dan 8 Awaknya


Sekelompok pria naik ke kapal dan menyandera 8 awaknya di lepas pantai daerah Puntland, Somalia (foto: ilustrasi).

Sekelompok pria naik ke kapal dan menyandera 8 awaknya di lepas pantai daerah Puntland, Somalia (foto: ilustrasi).

Kawanan yang menyandera sebuah kapal tangki minyak dan kedelapan awaknya di lepas pantai Somalia menuntut “ganti rugi” atas meningkatnya penangkapan ikan ilegal di perairan Somalia.

Seksi Bahasa Somalia VOA berbicara lewat telepon dengan salah seorang pembajak hari Selasa (14/3), satu hari setelah sekelompok lelaki naik ke kapal dan menyanderanya kira-kira 30 kilometer di lepas pantai Somalia, kemudian membuang sauh di lepas pantai Alula, sebuah kota di daerah Puntland, Somalia.

Lelaki itu mengatakan tujuh orang mengambil bagian dalam serangan itu. Dia menegaskan bahwa dia dan rekan-rekannya adalah nelayan, bukan pembajak.

“Kami memutuskan, sebagai nelayan lokal, untuk melawan penangkapan ikan secara ilegal. Kami mengangkat senjata untuk mempertahankan diri, dan akan terus berjuang,” demikian kata orang itu, yang tidak mau menyebut namanya dan tidak menyebutkan seberapa besar ganti rugi yang dituntutnya.

Ditanya mengenai awak kapal itu, dia mengatakan: “Bukan prinsip kami untuk membunuh mereka. Mereka sehat. Kami memperlakukan mereka dengan baik. Sasaran kami adalah orang-orang yang mengirim mereka, untuk meyakinkan mereka tidak akan kembali ke sini.”

Kapal itu, Aris 13, milik sebuah perusahaan di Persatuan Emirat Arab dan membawa 8 awak kapal, semuanya dari Sri Lanka.

Para pejabat maritim regional l mengatakan kepada VOA bahwa kapal itu bertolak dari pelabuhan Djibouti dan menuju Mogadishu mengangkut minyak dan gas.

John Steed, manajer regional LSM Ocean beyond Piracy, mengatakan kapal itu didekati oleh dua perahu kecil, salah satu dari mereka minta air.

“Kapten kapal, setelah melaporkan hal itu, tidak terdengar lagi dan perusahaan tidak dapat berkomunikasi dengan kapal itu dan kapal itu terlihat bergerak memasuki pantai Somalia,” kata Steed.

Situasi itu mengingatkan kita kepada pembajakan yang marak di perairan Somali antara tahun 2007 dan 2011. Bandit-bandit pembajak Somali, yang berpangkalan di Puntland atau Somali tengah, membajak puluhan kapal asing pada waktu itu, sering menerima uang jutaan dolar sebagai tebusan untuk membebaskan kapal-kapal dan awaknya.

Pembajakan hampir hilang dalam tahun-tahun berikutnya, sementara kapal-kapal yang melewati Somalia meningkatkan pengamanan di kapal dan Angkatan Laut internasional meningkatkan perondaan di Teluk Aden, Laut Arab dan Samudera Hindia bagian barat.

Kelompok-kelompok kelautan telah memperingatkan bahwa pembajakan dapat kembali lagi karena meningkatnya penangkapan ikan oleh kapal-kapal asing di perairan Somalia, kebanyakan dari Yaman dan Iran.

Namun, Steed mengatakan, dia meragukan pernyataan para pembajak bahwa mereka adalah nelayan. Menurut Steed, itu sangat mustahil. Para pejabat di daerah Puntland mengatakan mereka mengawasi kapal yang dibajak dan menyiagakan pasukan keamanan.

“Mereka ini pembajak. Saya telah menyiagakan tentara di daerah itu. Rencana kami adalah berbuat apapun yang dapat kami lakukan dalam menghadapi tindak pembajakan ini,” kata Ali-Shire Mohamud Osman, pejabat senior di Alula.

Dia mengatakan pemerintah belum mengadakan kontak dengan para pembajak ataupun menerima -tuntutan dari mereka. [sp]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG