Tautan-tautan Akses

Jejak Pemanasan Global Tampak dalam 24 Kasus Cuaca Aneh

  • Associated Press

Topan tropis Chapala menghantam Mukalla, Yaman, November 2015.

Topan tropis Chapala menghantam Mukalla, Yaman, November 2015.

Perubahan iklim merupakan faktor, baik kecil maupun besar, dalam 24 dari 30 kondisi cuaca yang aneh.

Sebuah laporan ilmiah baru menemukan bahwa perubahan iklim buatan manusia memainkan peranan dalam dua puluhan peristiwa cuaca ekstrem tahun lalu, tapi tidak dalam kondisi cuaca lain di seluruh dunia.

Sebuah laporan tahunan yang dirilis Kamis (15/12) oleh Badan Kelautan dan Atmosferik Nasional (NOAA) di Amerika Serikat menemukan bahwa perubahan iklim merupakan faktor, baik kecil maupun besar, dalam 24 dari 30 kondisi cuaca yang aneh. Kondisi itu termasuk 11 kasus panas tinggi, dan cahaya matahari di musim dingin yang tidak biasa di Inggris, kebakaran hutan di Alaska dan banjir pada "hari-hari cerah" yang ganjil di Miami.

Studi itu mendokumentasikan cuaca akibat perubahan iklim di Alaska, negara bagian Washington, bagian tenggara AS, Kanada, Eropa, Australia, China, Jepang, Indonesia, Sri Lanka, wilayah topan di bagian barat utara Pasifik, india, Pakistan, Mesir, Ethiopia, dan Afrika bagian selatan.

Dalam enam kasus, termasuk cuaca dingin tiba-tiba di Amerika Serikat dan hujan besar di Nigeria dan India, para ilmuwan tidak mendeteksi dampak perubahan iklim. Namun ilmuwan lain menyanggah temuan itu untuk cuaca dingin tiba-tiba di bagian timur laut.

Para ilmuwan menyoroti anjir di Miami pada September 2015 yang disebabkan oleh peningkatan permukaan laut dan penurunan permukaan tanah, sehingga gelombang tinggi ekstrem membanjiri jalanan dengan air setinggi 56 sentimeter.

Banjir itu luar biasa karena tidak ad sepotong awan pun di angkasa, dan jenis-jenis banjir ini menjadi semakin sering.

Laporan itu juga menemukan bahwa peningkatan aktivitas dan kekuatan topan tropis di bagian barat Pasifik sebagian bisa dipersalahkan atas perubahan iklim dan sebagian lagi karena El Nino, fenomena cuaca alam yang sekarang sudah berlalu. Namun penguatan badai yang serupa belum terlihat meningkat di sekitar AS.

Laporan itu diterbitkan dalam Bulletin of the American Meteorological Society.

Profesor meteorologi dari Columbia University, Adam Sobel, memuji studi ini namun menekankan bahwa penelitiannya belum komprehensif karena tidak mempelajari semua kondisi ekstrem cuaca. [hd]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG