Tautan-tautan Akses

Hidup sebagai Muslim di Amerika

  • Alina Mahamel

Muhammad Ali dan Imam Mohamad Joban berbagi cerita tentang kehidupan muslim di AS di @America, Jakarta, 13 JUni 2014 (Foto: VOA/Alina)

Muhammad Ali dan Imam Mohamad Joban berbagi cerita tentang kehidupan muslim di AS di @America, Jakarta, 13 JUni 2014 (Foto: VOA/Alina)

Islam adalah agama yang paling pesat perkembangannya di Amerika saat ini. Banyak media di Amerika yang menyebut Islam sebagai agama masa depan Amerika.

Salah seorang tokoh muslim Indonesia, Imam Mohamad Joban, berbagi pengalaman hidup sebagai muslim di Amerika, dalam diskusi kehidupan beragama di Pusat Kebudayaan @america, Jakarta, Jumat malam (13/6).

“Banyak media di Amerika yang menyebutkan kalau Islam adalah agama yang paling pesat penyebarannya di Amerika. Islam adalah agama masa depan di Amerika,” kata Imam Joban.

“Islam mengajarkan kebersihan, tapi dimana kita mendapatkan kebersihan lebih banyak? Di negara Islam atau justru di Amerika? Islam juga mengajarkan kita toleransi, disini sebagai seorang da’I, saya pergi ke kampus, penjara dan gereja disini semua bebas sekali, tidak ada yang menghalangi,” jelasnya.

Menurutnya Islam akan tumbuh dan berkembang dengan baik pada negara yang menjamin warga negaranya untuk bebas memilih agama seperti di Amerika.

Selain itu menurut Imam Joban, banyak warga Amerika yang memutuskan untuk masuk Islam, karena perilaku umat Islam yang mereka nilai sesuai dengan perintah agama. “Jadi banyak orang Amerika yang masuk Islam karena bertemu dengan muslim yang mereka nilai seperti Al Quran berjalan,” ungkap Imam Joban.

Imam Mohamad Joban adalah Imam Mesjid Ar Rahmah di Redmond, Washington. Saat ini ia adalah Ketua dari Dewan Fatwa Imam-Imam di AS dan juga seorang pembimbing rohani bagi para tahanan di Dinas Penjara Negara Bagian Washington.

Muhammad Ali, pengajar Studi Islam di University of California, Riverside,memberikan penjelasan berdasarkan pengalamannya dalam diskusi ini. “Amerika beda dengan Indonesia. Di Amerika, negara tidak boleh mendukung atau melarang suatu agama. Dengan negara netral masyarakat justru berkembang, makanya masyarakat Amerika termasuk yang paling relijius di barat bahkan secara umum lebih relijius jika dibandingkan dengan banyak negara di Eropa,” kata Ali.

Faktor lain menurutnya yang membuat jumlah muslim terus meningkat adalah karena Amerika merupakan negara yang terbuka terhadap pendatang. “Maka berbondong-bondonglah orang-orang Islam dari Timur Tengah, Spanyol, Maroko, Mesir, Asia Selatan, India, Pakistan, termasuk Indonesia. Keberadaan imigran ini pengaruhnya sangat besar,” tambahnya.

Hal ini didukung pula oleh profil muslim yang mayoritas berasal dari kelas menengah dan terdidik, sehingga pengaruhnya menjadi semakin besar. “Kebanyakan orang Islam di Amerika bukan orang-orang yang marjinal, artinya mereka adalah orang berpendidikan, bekerja di lembaga-lembaga tertentu dengan pendapatan yang lumayan,” kata Muhammad Ali, Pengajar Studi Islam di University of California, Riverside.

Wakil Duta Besar AS untuk Indonesia, Kristen Bauer, dalam kesempatan tersebut mengatakan agama menjadi bagian penting dalam budaya Amerika, karena sebagian besar rakyat Amerika merupakan penganut agama yang taat. Namun fakta yang banyak tidak diketahui adalah 20 dari 50 negara bagian di Amerika penganut agama terbesar keduanya adalah Islam.

Data terakhir tahun 2011 menyebutkan saat ini di Amerika terdapat 2016 masjid dan California menjadi wilayah dengan jumlah masjid terbesar di Amerika.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG