Tautan-tautan Akses

Harimau, 2 Singa di Kebun Binatang Jambi Tewas Akibat Racun


Peter, seekor harimau jantan berusia delapan tahun mati di kandangnya pada 17 Agustus, seminggu setelah ia ditemukan lumpuh di Kebun Binatang Taman Rimbo di Jambi. (Foto: Dok)

Peter, seekor harimau jantan berusia delapan tahun mati di kandangnya pada 17 Agustus, seminggu setelah ia ditemukan lumpuh di Kebun Binatang Taman Rimbo di Jambi. (Foto: Dok)

Proses otopsi menunjukkan tiga hewan tersebut tewas setelah memakan daging yang dibubuhi racun yang biasa dipakai untuk membunuh anjing penderita rabies.

Sebuah penyelidikan sedang berlangsung setelah otoritas memastikan bahwa seekor harimau Sumatra dan dua singa Afrika di kebun binatang Jambi ditemukan tewas akibat racun, menurut pihak berwenang, Rabu (29/8).

Peter, seekor harimau jantan berusia delapan tahun mati di kandangnya pada 17 Agustus, seminggu setelah ia ditemukan lumpuh di Kebun Binatang Taman Rimbo di Jambi, menurut Nurazman, seorang pejabat dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Singa-singa tersebut, Gebo dan Sonia, keduanya berusia sekitar tiga tahun, juga ditemukan tewas pada 17 Agustus, ujar Nurazman. Kedua satwa itu dipindahkan dari kebun binatang dari Jawa Barat pada Juli.

Nurazman mengatakan proses otopsi menunjukkan bahwa tiga hewan tersebut tewas akibat racun. Mereka diyakini telah memakan daging yang dibubuhi racun yang biasa dipakai untuk membunuh anjing penderita rabies.

Seekor harimau betina berusia dua tahun bernama Ayu, yang merupakan anak Peter, juga mengkonsumsi daging beracun tersebut namun bertahan hidup, dan sekarang sedang dirawat, ujar Nurazman.

Pihak kebun binatang telah menginterogasi enam orang, termasuk penjaga kebun binatang, terkait kematian tersebut.

Juru bicara Kepolisian Daerah Jambi, AKBP Almansyah mengatakan, polisi juga sedang menyelidiki kasus tersebut, berkoordinasi dengan otoritas kebun binatang dan para dokter hewan.

Harimau Sumatra merupakan subspesies terlangka, dengan jumlah tinggal 400 ekor di alam liar. Jumlahnya telah menurun dari 1.000 pada 1970an karena kerusakan hutan dan perburuan. (AP)
XS
SM
MD
LG