Tautan-tautan Akses

Greg Dwidjaya, Diaspora Indonesia di Boeing


Greg Dwidjaya adalah salah satu karyawan di Boeing, salah satu dari tiga puluh orang Indonesia yang bekerja di perusahaan tersebut.

Hampir semua orang familiar dengan nama pabrik pembuat pesawat asal Amerika Serikat, Boeing. Boeing yang merupakan salah satu perusahaan dirgantara terbesar di dunia ini terletak di Everett, negara bagian Washington dan memiliki sekitar 160 ribu karyawan. Para karyawan ini tersebar di berbagai fasilitas Boeing di Amerika dan di seluruh dunia, di mana 70 ribu di antaranya berdomisili di negara bagian Washington.

"Ini adalah perusahaan besar dan bertaraf dunia, kami menghubungkan orang dari seluruh penjuru dunia," ujar John Schubert, selaku managing Director, Marketing Asia Pacific & India di Boeing Commercial Airplanes.

Tak heran bila keberagaman bangsa juga menjadi salah satu nilai yang dihargai di perusahaan yang memproduksi pesawat komersil, pertahanan, ruang angkasa dan sistem keamanan ini.

Greg Dwidjaya adalah salah satu karyawan di Boeing, salah satu dari tiga puluh orang Indonesia yang bekerja di perusahaan tersebut.

"Saya kerja di bagian flight test, sebagai project manager di Boeing Test and Evaluation," ujarnya.

Greg yang sejak kecil memang sudah menyukai pesawat sebelumnya bekerja untuk IPTN. Dia pindah ke Boeing dengan bekerja di bagian pemasaran dengan membuat riset dan menganalisa pasar untuk pesawat 737 dan 767. Greg kemudian pindah ke bagian Engineering dan sejak 2009, dia telah bekerja sebagai project manager Boeing test and evaluation.

"Tahun 2000 saya pindah ke Boeing, kebetulan saya dapat kesempatan untuk bekerja di sini dan memberikan ilmu-ilmu saya untuk Boeing ini. Tugas saya di bagian flight test, di mana tugas saya adalah untuk menyiapkan dan memastikan kita telah sesuai dengan prosedur yang ada supaya tidak melanggar export policy dari Amerika," jelasnya.

Greg merasa beruntung dapat berkarir di Boeing karena menurutnya, kesempatan berkarir di luar negeri tidak mudah didapatkan semua orang.

"Pertama kita harus siap, kita harus punya skill, lalu kedua komunikasi, communication skill terutama bahasa Inggris karena sampai sekarang bahasa Inggris adalah bahasa yang dipakai di banyak negara di dunia. Lalu yang ketiga, ya jangan takut, kita jangan takut salah, jangan takut gagal. Jangan takut berkarya," terangnya.

Walaupun lama berkarir di Amerika, Greg yang juga ketua asosiasi "sister city" Seattle dan Surabaya dan ketua Indonesia Diaspora network di greater Seattle ini tetap mencintai Indonesia sebagai tanah airnya.

"Setiap tahun kita ada acara Festival Indonesia. Lalu kita juga ada satu hari yang memakai batik di mana kita sesuaikan dengan hari batik nasional, jadi kita sama-sama mempromosikan Indonesia cuma di luar negri gitu dan kebetulan diaspora ini kita mendapatkan kesempatan hidup dan kerja di luar negeri, tapi tetap kita juga cinta Indonesia, kita juga tetap berusaha untuk memberi nama baik Indonesia di kancah internasional," ujar Greg menutup wawancara dengan VOA Indonesia. [hi/dw]

XS
SM
MD
LG