Tautan-tautan Akses

Gerilyawan Islamis Irak Bergerak menuju Baghdad


Tentara pemberontak Islamis siaga di sebuah pos di Mosul, Irak utara (11/6).

Tentara pemberontak Islamis siaga di sebuah pos di Mosul, Irak utara (11/6).

Pemberontak Islamis bergerak maju menuju Baghdad setelah merebut lebih banyak wilayah hanya 90 kilometer sebelah utara ibukota Irak.

Dalam gerakan cepat beberapa hari terakhir, pejuang-pejuang kelompok Muslim Sunni Negara Islam Irak dan Suriah telah menguasai sebagian besar bagian Irak utara. Dalam serangan terbaru, para militan menguasai kota Dhuluiyah.

Juru bicara pemberontak, yang berupaya mendirikan pemerintahan Islam, bertekad akan memasuki kota Baghdad dan Karbala, kota di barat daya Baghdad yang merupakan salah satu kawasan tersuci bagi umat Islam Syiah.

Pemerintahan Perdana Menteri Nouri al Maliki telah mengupayakan kekuatan yang luar biasa untuk menghadapi para militan dari Negara Islam di Irak dan Suriah. Tapi sidang parlemen yang bertujuan untuk memberlakukan negara dalam keadaan darurat dibatalkan karena tidak memenuhi kuorum.

Wakil ketua parlemen dari kalangan Syiah, Khaled al Attiyah, mengatakan pemerintah pemerintah akan meminta persetujuan Pengadilan Federal Irak untuk mengambil langkah-langkah darurat yang dibutuhkan untuk menghadapi krisis sekarang ini.

Perdana Menteri Maliki mengatakan sangat penting agar kalangan elit politik Irak berhenti bertengkar. Dia mengatakan para pemimpin politik harus melakukan upaya untuk bersatu daripada bertengkar tanpa hasil. Semua orang, tegasnya, harus ikut membantu mengusir apa yang disebutnya "penjahat yang menyerang."

Para pejuang ISIS dilaporkan merebut kota kilang minyak Beiji dan kota kelahiran Saddam Hussein, Tikrit. Al-Jazeera melaporkan ISIS sedang bergerak menuju Sammara, kota salah satu tempat ibadah kaum Syiah yang paling dihormati di Irak.

Pesawat dan helikopter Irak dilaporkan membom pos-pos ISIS di sejumlah daerah di Baghdad utara.

Pada waktu yang sama, para pejuang Peshmerga Kurdi merebut Kirkuk, kota kaya minyak yang disengketakan, dari pasukan pemerintah, kabarnya tanpa perlawanan. Para pejuang Kurdi dan pemerintah Irak telah bersitegang dalam beberapa tahun terakhir mengenai siapa yang seharusnya menguasai kota itu.

Di Washington, Presiden AS Barack Obama, yang mengakhiri sembilan tahun perang Amerika di Irak pada tahun 2011, mengatakan Irak akan membutuhkan lebih banyak bantuan Amerika dan semua kemungkinan sedang dipertimbangkan.

"Kita bertanggung jawab untuk memastikan para jihadis ini tidak mendapat kekuasaan permanen, baik di Irak atau Suriah," tegas Obama.

XS
SM
MD
LG