Tautan-tautan Akses

Gay Beragama Katolik di AS Sambut Kedatangan Paus


Papan potret Paus Fransiskus di sisi sebuah bangunan di kota New York.

Papan potret Paus Fransiskus di sisi sebuah bangunan di kota New York.

Para pemimpin hak-hak kelompok gay ingin lebih dekat dengan Paus dan memakai pendekatan lunak untuk dapat memperbaiki hubungan dengan Gereja Katolik Roma.

Selama berbulan-bulan, para gay beragama Katolik telah merencanakan cara menyambut kunjungan Paus Fransiskus di Amerika Serikat: Melambaikan bendera pelangi, mengenakan pakaian misa bercorak pelangi dan membawa rosaria berwarna pelangi. Sebuah halaman di media sosial Tumblr sedang dibuat, dan petisi daring akan diedarkan.

Yang jelas adalah mereka tidak berniat melakukan protes, duduk bersama atau demonstrasi skala besar pada kunjungan tanggal 22-27 September tersebut, atas perlakuan terhadap umat Katolik yang gay oleh para pemimpin Gereja, yang melobi melawan pernikahan sesama jenis dan memaksa pemecatan pekerja gay dari lembaga-lembaga mereka.

Para pemimpin hak-hak kelompok gay dengan sengaja melakukan pendekatan lunak, berharap dapat memperbaiki hubungan dengan Gereja Katolik Roma, tanpa risiko menghina seorang Paus yang populer dan telah menawarkan pesan-pesan pengampunan.

Kunjungan Paus untuk pertama kalinya ke AS tersebut terjadi hanya beberapa bulan setelah peristiwa bersejarah bagi gay di Amerika, ketika Mahkamah Agung melegalkan pernikahan sesama jenis di semua 50 negara bagian.

"Kami tidak mencari peluang konfrontasi," ujar Lisbeth Melendez Rivera, ketua inisiatif Latino dan Katolik di Human Rights Campaign, yang bekerja untuk persamaan hak gay, lesbian, biseksual dan transgender (LGBT). "Kami menginginkan dialog yang mengarah pada inklusivitas penuh bagi kelompok kami di Gereja."

Para gay beragama Katolik telah disemangati pernyataan-pernyataan Paus, yang merespon, "Siapa saya yang harus menghakimi?" ketika ditanya mengenai pria-pria gay yang bekerja di keuskupan, dalam tahun pertama jabatannya sebagai Paus.

Baru-baru ini, Paus mendorong para orangtua untuk lebih menerima anak-anak mereka yang gay dan lesbian, dan bertemu secara privat dengan seorang pria transgender di Vatikan.

Meski secara terbuka mendorong gereja yang lebih inklusif, Paus Fransiskus masih terikat dengan doktrin Gereja, seperti yang ia indikasikan bulan Januari bahwa Gereja terancam dengan pernikahan sesama jenis. Perubahan dalam doktrin, seperti yang dipahami para aktivis gay, kemungkinan akan terjadi perlahan, atau tidak sama sekali.

Harapan

Dengan kenyataan seperti itu, para pengelola membahas kemungkinan kehadiran yang lebih nyata dalam kunjungan Paus ke Washington DC, New York City dan Philadelphia, menurut Ross Murray, direktur program kelompok pemantauan media gay dan lesbian, GLAAD.

"Namun saya kira untuk banyak umat Katolik ini, terutama mereka yang merasa ada harapan dalam Fransiskus, mereka ingin secara hati-hati menyerukan hierarki Gereja untuk masuk ke dalam fase hubungan berikutnya dengan orang-orang LGBT," ujarnya.

Seperti apa fase tersebut sulit diperkirakan. Gereja masih sulit ditembus gay dan lesbian, yang mencakup empat persen dari 78 anggota Gereja di AS, menurut para advokat. Gereja mengajarkan pantangan berhubungan seks sebelum menikah dan bahwa homoseksualitas adalah penyakit, bukannya identitas seksual, sementara pernikahan sesama jenis tidak diakui.

"Mereka tidak merasa bagaimana kata-kata mereka tidak hanya menyakitkan komunitas LGBT, tapi juga keluarga-keluarga komunitas LGBT," ujar Nicholas Coppola, gay beragama Katolik yang dipecat dari posisi kepastoran di parokinya setelah ia menikah.

Posisi Gereja membuatnya tidak selaras dengan banyak penganut Katolik di Amerika. Sebuah studi dari Pew Research menemukan bahwa 75 persen Katolik di AS, berusia antara 18 dan 29 tahun, mendukung pernikahan sesama jenis, meski umat Katolik berusia lebih lanjut kurang mendukung.

"Kita harus ingat bahwa Gereja tidak hanya sebuah hierarki," ujar John Freml dari Equally Blessed, koalisi kelompok-kelompok Katolik yang mendukung hak-hak gay dan transgender. "Para uskup sangat vokal dan keras suaranya, tapi mereka mereprestnasikan persentase yang sangat kecil di dalam Gereja Katolik," lanjutnya.

Tetap saja, para uskup ini yang akan menentukan ajaran Gereja mengenai isu-isu gay. (hd/eis).

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG