Tautan-tautan Akses

Front Nasional: Perancis Berperang dengan Islam Radikal


Marine Le Pen, pimpinan Partai Front Nasional dalam sebuah konferensi pers partai itu di Nanterre, Paris, 27/5/2014.
Marine Le Pen, pimpinan Partai Front Nasional dalam sebuah konferensi pers partai itu di Nanterre, Paris, 27/5/2014.

Bagi partai ekstrim kanan, Front Nasional, serangan di Perancis awal Januari ini memberi konfirmasi pada apa yang telah diperingatkannya, yaitu Perancis berperang dengan Islam yang radikal dan imigrasi harus dihentikan.

Serangan teroris pada Januari di Paris telah membangun solidaritas besar-besaran di Perancis. Tetapi serangan itu juga membuat penduduk negara itu dalam ketakutan.

Alain Barre tidak menentang imigrasi, istrinya sendiri berasal dari Kuba. Ia percaya bahwa imigran yang datang ke Eropa membuat negaranya lebih baik. Tetapi, pendatang yang terakhir, kebanyakan Muslim dari Afrika utara dan sub-sahara, dianggapnya sebagai beban pada ekonomi Perancis dan ancaman bagi negaranya.

“Mereka tidak mau berintegrasi. Mereka tidak bekerja, tinggal di apartemen yang disediakan pemerintah. Tidak membayar apa-apa, karena mereka tidak berpendapatan, semuanya gratis. Sementara itu rakyat Perancis, yang lahir disini, harus membayar ongkos hidup mereka,” kata Alain Barre.

Barre, tinggal di Bagnolet, sebuah daerah kumuh dengan bangunan bertingkat yang tidak terpelihara. Paris terletak di seberangnya. Komunis dan kini kelompok sosialis sudah lama menguasai kota ini. Tetapi Barre akan memberikan suaranya kepada Front Nasional yang ekstrim kanan. Ia berpendapat ancaman besar bagi Perancis adalah Islam. Dan semakin lama, katanya, kawan-kawannya setuju.

Hal itu juga merupakan retorika yang dirangkul oleh Front Nasional. Setelah serangan teroris pada Januari, partai ini menerbitkan sebuah brosur baru. Didalamnya digambarkan orang-orang jihadis dan peta Perancis – dilengkapi pesan: “”Bahaya Islamis. Marilah kita Melindungi Perancis.”

Dalam wawancara dengan TV Perancis, pemimpin Front Nasional, Marine Le Pen mengatakan, selama bertahun-tahun partainya telah memperingatkan ancaman dari fundamentalisme Islamis. Sekarangpun, katanya, saingan politiknya gagal menawarkan jawaban yang tepat: yakni mengakhiri imigrasi dan menutup perbatasan Perancis.

Sejak didirikian pada tahun 70an, Front Nasional selalu sendirian, dan dikalahkan oleh politik arus utama Perancis. Meskipun demikian, dalam jajak pendapat tahun-tahun terakhir ini, Front Nasional berhasil meraih 25 persen suara pemilih, meskipun sedikit orang Perancis yang mengaku memberikan suara kepada partai itu.

Front Nasional tampaknya sekali lagi berdiri sendirian setelah serangan Januari. Front Nasional tidak ikut dalam unjuk rasa solidaritas besar-besaran di Paris, dan menyelenggarakan relinya sendiri di tempat lain.

Presiden Perancis Francois Hollande yang tidak populer, ikut dalam unjuk rasa besar-besaran itu, menyaksikan popularitasnya meningkat. Tetapi analis meramalkan hal ini tidak akan berlangsung lama.

Ekonomi Perancis yang tertatih-tatih dan tingkat pengangguran tinggi menyebabkan kelompok Sosialis yang berkuasa terpuruk dan sebaliknya, menaikkan pamor Front Nasional.

Ujian pertama dari bagaimana pesan Front Nasional akan diterima publik Perancis akan dilihat dalam beberapa minggu mendatang.

Perancis akan menyelenggarakan pemilihan pada bulan Maret. Sebuah survei baru memperlihatkan Front Nasional memimpin dalam putaran pertama, dan didukung 26 persen dari pemilih. Alain Barre yakin Front Nasional akan menang, karena menurutnya, Perancis benar-benar muak dengan partai-partai politik lainnya.

XS
SM
MD
LG