Tautan-tautan Akses

Filipina, Amerika Mulai Latihan Gabungan Militer 'Balikatan 2015'

  • Simone Orendain

Wakil Panglima Angkatan Laut Filipina, Alexander Lopez (kiri) dan Brigjen Marinir AS Christopher Mahoney (tengah) membuka gulungan bendera Balikatan dalam upacara pembukaan latihan militer gabungan tentara Amerika dan Filipina "Balikatan 2015", 20 April 2015 (Foto: AP Photo/Bullit Marquez)

Wakil Panglima Angkatan Laut Filipina, Alexander Lopez (kiri) dan Brigjen Marinir AS Christopher Mahoney (tengah) membuka gulungan bendera Balikatan dalam upacara pembukaan latihan militer gabungan tentara Amerika dan Filipina "Balikatan 2015", 20 April 2015 (Foto: AP Photo/Bullit Marquez)

Latihan militer bersama Amerika Serikat dan Filipina yang melibatkan jumlah pasukan yang lebih besar dan lebih kompleks dari biasanya dimulai di Filipina, Senin (20/4).

Perwira Filipina dan Amerika di markas umum militer Filipina di Manila mengibarkan bendera putih menandai dimulainya latihan gabungan yang melibatkan 5.000 lebih tentara Filipina dan sekitar 6.500 tentara Amerika Serikat. Asisten Direktur Latihan Militer Filipina Jenderal Rodolfo Santiago mengatakan biasanya total yang berpartisipasi hanya 6.000 sampai 8.000 tentara per tahun.

"Tapi jika Anda melihat tren itu benar-benar meningkat setiap tahun, dan seperti yang telah saya katakan, itu adalah kemajuan alami tingkat pengembangan kemampuan yang semakin matang, tingkat kemampuan itu setara dengan kompleksitas operasi dan latihan yang kita lakukan," kata Jenderal Rodolfo Santiago.

Mitra Santiago di pihak AS, Jenderal Christopher Mahoney, mengatakan latihan tahun ini melibatkan pendaratan amfibi, latihan tembak menembak dan pengawasan maritim yang lebih canggih dan lebih terlibat daripada di masa lalu.

Tapi tahun ini juga menandai dimulainya perjanjian pertahanan baru yang akan menempatkan lebih banyak tentara Amerika, dan memberi akses untuk menempatkan aset militer di pangkalan militer Filipina.

Perjanjian Kerjasama Pertahanan yang Ditingkatkan antara kedua negara, yang ditandatangani April tahun lalu, belum dilaksanakan karena ada tantangan terkait dasar konstitusi-nya di pengadilan tinggi Filipina.

Menteri Pertahanan Nasional Filipina Voltaire Gazmin mengemukakan hambatan itu dalam pidato upacara pembukaan.

"Kita akan melakukan latihan ini sembari kita berusaha menuju operasionalisasi Perjanjian Kerjasama Pertahanan yang Ditingkatkan ini,jika diizinkan oleh Mahkamah Agung, yang akan memungkinkan kita melakukan latihan gabungan dengan lebih efisien dan efektif," kata Voltaire Gazmin.

Tanpa menyinggung hal yang spesifik, juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina mengatakan kepada VOA ada beberapa latihan yang ingin disertakan dalam latihan bersama tahun ini tapi menunggu keputusan yang masih tertunda.

Carl Baker adalah direktur program Pacific Forum di Center for Strategic and International Studies, sebuah lembaga studi keamanan di Washington, DC. Dia mengatakan walaupun tanpa memberlakukan perjanjian itu, kedua negara masih bisa merasakan manfaatnya.

"Pergeseran nyata, dan mungkin mengapa mereka membawa lebih banyak tentara, adalah Amerika Serikat dan Filipina sama-sama mengatakan penting untuk menunjukkan bahwa Filipina mengubah fokusnya dari pertahanan internal ke eksternal, dan tentu saja itu membutuhkan lebih banyak tentara dan mungkin membutuhkan kehadiran pertahanan yang lebih besar oleh Amerika Serikat," kata Carl Baker.

Sementara pejabat militer Amerika Serikat dan Filipina mengatakan latihan ini tidak menargetkan satu negara tertentu, Baker menyebut jumlah pasukan yang meningkat itu "respon yang tidak terlalu provokatif" terhadap China semakin berani di Laut Cina Selatan.

China semakin giat di perairan yang disengketakan dalam beberapa tahun terakhir dengan patroli rutin, aktivitas pengeboran dan sekarang konstruksi di kepulauan yang diperebutkan itu, sambil menyatakan kembali "kedaulatan tak terbantahkan" atas laut dan sumber alamnya. Filipina, Vietnam, Brunei, Malaysia dan Taiwan juga mengklaim sebagian wilayah itu.

XS
SM
MD
LG