Tautan-tautan Akses

AS

2 WNI Ditunjuk Jadi Anggota Gugus Tugas Pemberantasan Perdagangan Manusia


Ima Matul, penyintas dan aktivis anti-perdagangan manusia saat berbicara di depan President’s Interagency Taskforce on Human Trafficking (foto courtesy: Gedung Putih).

Ima Matul, penyintas dan aktivis anti-perdagangan manusia saat berbicara di depan President’s Interagency Taskforce on Human Trafficking (foto courtesy: Gedung Putih).

Tahun ini secara khusus Presiden Obama membentuk gugus tugas untuk memonitor dan memberantas perdagangan manusia. Dua dari 11 anggota gugus tugas itu berasal dari Indonesia.

Sejak tahun 2012 lalu Presiden Amerika Barack Obama telah menjadikan bulan Januari sebagai “Bulan Pencegahan Perbudakan dan Perdagangan Manusia”. Tahun ini secara khusus Presiden Obama membentuk sebuah gugus tugas untuk memonitor dan memberantas perdagangan manusia. Dua dari 11 anggota gugus tugas itu berasal dari Indonesia.

Tidak pernah terbayang bagi Shandra Woworuntu dan Ima Matul akan duduk berhadapan dengan Jaksa Agung Loretta Lynch dan Menteri Luar Negeri John Kerry hari Selasa (5/1) lalu, diangkat sebagai dua dari 11 anggota gugus tugas untuk memonitor dan memberantas perdagangan manusia di Amerika dan dunia.

The President’s Interagency Task Force to Monitor and Combat Trafficking in Persons (PITF) memiliki anggota dari beragam latar belakang, mulai dari sektor pemerintah dan swasta, hingga aktivis, tokoh masyarakat dan keagamaan, penegak hukum, akademisi hingga mantan korban.

Diwawancarai VOA seusai acara di Gedung Putih, Shandra mengatakan sangat bangga bisa menjadi salah satu anggota gugus tugas itu, meskipun ia tahu persis bahwa ini bukan tugas yang mudah.

“Kami bertugas memberi nasehat dan ide terbaik bagi pemerintah Amerika untuk menanggulangi perdagangan manusia, khususnya di Amerika dan seluruh dunia. Kami sedang membuat rencana kerja dua tahun ke depan, yang semoga bisa produktif. Saya tahu ini bukan tugas yang mudah,” papar Shandra.

Shandra Woworuntu, mantan korban yang jadi aktivis di AS

Shandra Woworuntu (kanan) saat berbicara di New York (foto: dok).

Shandra Woworuntu (kanan) saat berbicara di New York (foto: dok).

Nama Shandra Woworuntu mengemuka ketika pada awal tahun 2014 ia membuka pengalaman pahitnya menjadi korban perdagangan manusia di New York. Dalam wawancara dengan VOA ketika itu, Shandra mengaku tertarik mengadu nasib ke Amerika pada tahun 2001 setelah diberhentikan dari pekerjaannya sebagai analis keuangan di sebuah bank, akibat krisis moneter yang melilit Indonesia pada akhir tahun 1998.

Ia mengeluarkan uang hingga 30 juta rupiah kepada sebuah agensi untuk membayar seluruh biaya administratif dan tiket perjalanan – di luar visa yang harus diurusnya sendiri di Kedutaan Besar Amerika di Jakarta.

Shandra mengatakan sangat ingin bisa mengubah nasib dengan bekerja sebagai analis keuangan di sebuah hotel di Chicago – sebagaimana lowongan pekerjaan yang dilamarnya – dan memperoleh uang untuk dibawa pulang ke Indonesia dalam enam bulan.

Mimpinya kandas begitu ia dijemput seseorang yang mengaku sebagai perwakilan agensi itu di bandara John F. Kennedy di New York, yang kemudian justru membawanya ke sebuah hotel. Ditempat itu ia disekap, dipaksa melakukan pekerjaan yang tidak pantas. Shandra bersama beberapa perempuan lain dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Manhattan, Chinatown, Queens, Brooklyn, Bay Side, New London dan Foxwoods adalah beberapa tempat di kota New York yang diingatnya menjadi lokasi operasi sindikat perdagangan manusia itu.

Shandra mencatat semua rincian tempat dan pelaku dalam sebuah buku harian, yang berhasil dibawanya ketika ia melarikan diri pada akhir tahun 2001 dengan melompat dari jendela sebuah kamar mandi hotel di New York. Rincian tempat dan nama pelaku yang dicatat Shandra dalam buku hariannya membantu aparat hukum di Amerika untuk membongkar jaringan itu dan menangkap seluruh pelaku.

Sejak itu Shandra Woworuntu menjadi aktivis pemberantasan perdagangan manusia yang vokal. Ia kerap diundang berbicara di berbagai forum, termasuk di Kongres. Kini ia mendirikan sebuah LSM yang memberdayakan para penyintas perdagangan manusia, yang sekaligus aktif mensosialisasikan ke berbagai negara – termasuk Indonesia – tentang resiko perdagangan manusia yang mungkin terjadi pada siapa saja.


‘’Kini saya hanya ingin menghabiskan waktu saya untuk anak-anak Indonesia. Tahun lalu saya ke Cianjur – Jawa Barat untuk membagikan lima ribu buku tentang bahaya perdangan manusia yang mengintai anak-anak Indonesia. Saya juga bagikan ayam dan bibit tumbuh-tumbuhan supaya warga desa punya pekerjaan dan tambahan penghasilan. Tidak tergoda untuk membiarkan anak-anak atau anggota keluarga mereka bekerja di luar negeri. Tahun ini saya inginnya memberi bantuan mesin jahit bagi mereka,” tambah Shandra.

Ima Matul, 3 tahun jadi korban perdagangan manusia

Ima Matul (foto: dok).

Ima Matul (foto: dok).

Lain Shandra, lain lagi pengalaman Ima Matul, salah seorang anggota gugus tugas pemberantasan perdagangan manusia yang ditunjuk Gedung Putih hari Selasa (5/1). Ima Matul tertarik bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Amerika tahun 2002, setelah bercerai dari suami yang berusia 12 tahun lebih tua darinya dan kerap melakukan penganiayaan.

Terbujuk iming-iming bekerja di luar negeri dengan gaji 150 dolar per bulan, Ima pun terbang ke Los Angeles. Tak disangka jika dipaksa bekerja hampir 18 jam setiap hari, tujuh hari seminggu. Ia dilarang berbicara dengan siapa pun dan ditakut-takuti. Setelah tiga tahun baru Ima memberanikan diri menulis pesan minta tolong – dalam bahasa Inggris yang sangat terbatas – kepada pembantu tetangganya.

Tetangganya bertindak cepat, menyelamatkan Ima dan membawanya ke kantor “Coalition to Abolish Slavery & Trafficking” CAST di Los Angeles, yang kemudian membantu proses hukum dan pelatihan bagi Ima hingga ia bisa mandiri. Kini Ima pun menjadi aktivis anti-perdagangan manusia.

Dalam pernyataan di Gedung Putih ketika peresmian gugus tugas ini hari Selasa (5/1), Ima mengatakan tugas penting yang diemban tidak saja memberi informasi dan kesadaran pada masyarakat tentang bahaya perdagangan manusia, tetapi juga memperkuat aturan hukum untuk membawa setiap pelaku ke muka hukum.

Menlu Kerry: Perang melawan perdagangan manusia harus dimenangkan!

Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry yang hadir dalam forum itu mengatakan isu perdagangan manusia sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan jika semua pihak mau serius ikut serta memberantas masalah yang disebut Presiden Obama sebagai “perbudakan modern”.

“Saya percaya ini bukan saja perang yang bisa dimenangkan, tetapi harus dimenangkan! Tidak mungkin kita membiarkan 20 juta orang – pada era modern ini – masih terjebak menjadi budak dan menanti saat di mana pemerintah dan entitas yang bertanggungjawab datang menyelamatkan mereka,” ujar Kerry.

Kerry menambahkan bahwa meskipun diketahui ada lebih dari 20 juta orang yang diperkirakan menjadi korban perdagangan manusia setiap tahun, hanya 1% yang bisa diidentifikasi.


Ada 6,2 juta korban perdagangan manusia di Indonesia

The President’s Interagency Task Force to Monitor and Combat Trafficking in Persons (PITF) yang pertama ini, akan bertugas selama dua tahun dan bertanggungjawab langsung kepada Presiden Obama. Prioritas tugas tim ini adalah memperkuat aturan hukum, memberi nasehat pendanaan layanan bagi korban, mencegah perdagangan manusia dan meningkatkan kesadaran masyarakat.

Sejak tahun 2001 Departemen Luar Negeri diharuskan oleh UU untuk mengeluarkan laporan tahunan “Trafficking in Persons”. Dalam laporan tahun 2015 diketahui bahwa Meksiko adalah sumber dan negara tujuan utama perdagangan manusia atau berada pada “Tier-1”, khususnya untuk kerja paksa dan pelacuran.

Sementara Indonesia berada pada “Tier-2”, sebagai sumber dan tempat transit perdagangan manusia, di mana korbannya diperkirakan mencapai 6,2 juta orang – terutama perempuan. Banyaknya jumlah orang yang melakukan perjalanan lewat laut guna menghindari pemeriksaan imigrasi resmi bisa jadi membuat jumlah korban sebenarnya jauh lebih besar. [em/al]

XS
SM
MD
LG