Tautan-tautan Akses

Dilanda Krisis Utang, Warga Yunani Beralih ke Sepeda


Warga Yunani, Elena Koniaraki, 39, mengendarai sepeda di antara taksi di pusat kota Athena. (Foto: Reuters/Yorgos Karahalis)

Warga Yunani, Elena Koniaraki, 39, mengendarai sepeda di antara taksi di pusat kota Athena. (Foto: Reuters/Yorgos Karahalis)

Di tengah krisis ekonomi, warga Yunani harus menghemat uang, termasuk biaya transportasi, dengan menjual mobil dan menggunakan sepeda.

Keadaan ekonomi yang buruk di Yunani telah menutup paksa ribuan bisnis, membuat satu dari lima penduduk kehilangan pekerjaan dan menurunkan standar hidup jutaan orang. Namun bagi pembuat sepeda GiorgosVogiatzis, tidak semuanya merupakan kabar buruk.

Krisis telah membuat warga Yunani beralih mengendarai sepeda, sesuatu yang dulu dianggap tanda kemiskinan atau penuh risiko, dan produsen sepeda di negara tersebut bergerak cepat memenuhi permintaan.

Tingginya biaya pajak jalanan, bensin dan perbaikan kendaraan memaksa sejumlah besar warga Yunani untuk tidak menggunakan mobil mereka. Menurut kantor statistic pemerintah, jumlah mobil di jalanan Yunani menurun lebih dari 40 persen setiap tahun pada dua tahun terakhir. Sementara itu, lebih dari 200.000 sepeda dijual pada 2011, naik 25 persen dari tahun sebelumnya.

Toko-toko yang menjual sepeda dan peralatan seperti helm dan pelindung lutut banyak dibuka di ibukota Athena, muncul di antara toko souvenir di daerah pejalan kaki distrik wisata Plaka.

“Mereka tumbuh seperti jamur,” ujar Vogiatzis, yang merancang dan membuat sepeda sesuai pesanan di bengkelnya di pulau Rhodes, Aegean.

Vogiatzis, yang adalah mantan atlet sepeda nasional, membuka usahanya pada pertengahan 80an, menggabungkan kecintaan akan menggambar dan matematika. Namun baru-baru ini saja ia melihat ledakan penjualan dari 40 sepeda per tahun menjadi lebih dari 350.

“Tidak ada lagi uang yang tersedia untuk kemewahan, dan hal itu membantu [penjualan sepeda],” ujar Vogiatzis, yang bekerja keras dengan dua pekerjanya untuk memenuhi permintaan akan segala jenis sepeda, dari yang dicat berkerlip-kerlip sampai yang bergambar bendera Yunani.

“Orang-orang yang sebelumnya tidak pernah tertarik bersepeda sekarang membeli sepeda,” tambahnya. Vogiatzis sekarang mengekspor sepeda ke tujuh negara termasuk Jerman dan Amerika Serikat, serta membuka toko di seluruh Yunani, termasuk Athena, di mana kompetisi sangat ketat.

Tidak seperti toko-toko lain di ibukota yang terpaksa tutup, sebuah pengingat yang menyakitkan akan krisis ekonomi terburuk setelah Perang Dunia II, pemilik toko sepeda memperkirakan bahwa paling tidak ada satu toko sepeda baru yang buka setiap bulan pada 2011.

Vogiatzis tertawa: “Setiap daerah memiliki toko sepeda, seperti juga ada toko kebab di mana-mana.”

Jalan Berlubang, Kemacetan

Di tengah masyarakat yang sedang berhemat, sepeda yang dulu tidak dilirik sekarang ini memiliki banyak penggemar, dari komuter paruh baya yang dulu bergantung pada mobil sampai mereka yang mencemooh mantan perdana menteri George Papanadreou yang mengatakan bahwa bersepeda itu kurang macho.

Tren baru nasional ini bahkan mendorong walikota Athena untuk memulai skema penyewaan sepeda publik seperti di ibukota-ibukota negara Eropa lainnya. Skema seperti ini dilakukan pertama kalinya di kota di mana jalur bersepeda sering diisi pohon cemara atau mobil yang diparkir.

Kurangnya infrastruktur dan struktur tanah Athena yang berbukit-bukit tidak mencegah pengendara sepeda yang baru ini untuk mengarungi kemacetan, naik turun bukit dan melewati jalanan berlubang.

“Athena bukan Berlin. Ada risiko dalam bersepeda, tapi harus dipikirkan bahwa hal ini akan mengurangi biaya taksi dan naik kereta,” ujar Elena Koniaraki, 39, pegawai toko musik yang bercanda bahwa ia akan memasang tanda ‘Belajar’ pada bagian belakang sepedanya.

Pemotongan gaji dua tahun lalu memaksa Koniaraki menjual mobilnya karena ia tidak sanggup lagi membayar pajak jalanan dan bensin. Ia juga pindah dari rumahnya di pinggiran selatan Athena ke tengah kota.

Dan untuk mengirit uang pada bulan Maret lalu, akhirnya ia membeli sepeda bekas untuk pertama kalinya sejak ia masih anak-anak.

“Awalnya teman-teman menertawakan saya dan berkata: Aduh, miskin!” kata Koniaraki, yang sekarang bersepeda ke tempat kerja dari atas bukit tempat reruntuhan Acropolis, melewati daerah turis di Plaka dan melewati alun-alun Syntagma yang ramai.

“Yunani tidak memiliki budaya bersepeda. Kadang-kadang saya pergi ke pasar dengan sepeda, membawa berkantung-kantung tomat dan orang-orang akan berhenti dan melambai pada saya,” she said.

Seiring naiknya harga bensin yang dipicu kenaikan pajak menjadi 1,72 euro per liter pada Juli, salah satu yang tertinggi di Eropa, kultur bersepeda barangkali akan berkembang.

“Banyak orang yang mulai melihatnya sebagai alternatif,” ujar TolisTsimoyannis, penggemar sepeda yang mengimpor sepeda lipat dari Taiwan.

Tsimoyannis, yang membuka bisnisnya pada 2006, mengatakan bahwa ia melihat kenaikan permintaan yang stabil pada dua tahun terakhir. Banyak dari pelanggannya adalah mahasiswa dan orang-orang berusia 40an yang berjuang mencukupi kebutuhan hidupnya. Akhir-akhir ini, bisnis agak menurun bukan karena turunnya permintaan, namun karena banyaknya toko sepeda yang buka sehingga bagian setiap toko menjadi lebih kecil.

Namun bahkan di saat prospek resesi ekonomi di Yunani masih terlihat muram dan banyak yang khawatir penderitaan dari krisis ini hanya akan mempersulit hari-hari ke depan, para penggemar sepeda optimis bahwa daya tarik sepeda akan tumbuh.
“Kami yakin bisnis ini akan terus naik,” ujar Tsimoyannis. (Reuters/Karolina Tagaris)
XS
SM
MD
LG