Tautan-tautan Akses

Diduga Rencanakan Serangan Teroris, Sembilan Terduga Ditangkap Densus 88

  • Fathiyah Wardah

Kepala Kepolisian Indonesia Jenderal Badrodin Haiti (Foto: dok.)

Kepala Kepolisian Indonesia Jenderal Badrodin Haiti (Foto: dok.)

Densus 88 Anti Teror telah menangkap sembilan terduga teroris di beberapa daerah yang merencanakan serangan teror pada akhir Desember ini. Kantor polisi dan kelompok syiah adalah salah satu target serangan mereka.

Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri telah menangkap sembilan terduga teroris di enam kota pekan lalu. Kesembilan terduga teroris itu ditangkap di Tasikmalaya, Banjar, Gresik, Kota, Mojokerto dan Sukoharjo.

Dalam penangkapan itu Densus 88 Anti Teror menemukan barang bukti berupa pupuk urea, paku , gotri, sakelar listrik, parang , parafin, buku panduan merakit bom serta peta daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Penangkapan ini merupakan tindak lanjut informasi yang diterima kepolisian Indonesia dari Polisi Federal Australia, Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika dan badan inteljen Singapura, yang pada bulan September telah mendeteksi potensi terjadinya aksi teror pada akhir tahun ini.

Kepala Kepolisian Indonesia Jenderal Badrodin Haiti hari Senin (21/12) mengatakan berdasarkan hasil interogasi terungkap bahwa pejabat kepolisian, termasuk pejabat Densus dan mantan Densus, kantor-kantor kepolisian dan kelompok Syiah menjadi sasaran mereka.

Kepolisian telah berkoordinasi dengan organisasi Syiah terkait dengan ancaman ini.

Menurut Badrodin, anggota jaringan terduga teroris pimpinan Abdul Karim alias Abu Jundi ini merupakan bekas anggota Jamaah Islamiyah yang terkait ISIS. Mereka menyiapkan bom bunuh diri, tetapi tidak secara eksplisit menjelaskan apakah aksi itu ditujukan untuk Natal dan Tahun Baru atau lainnya.

Badrodin juga mengungkapkan modus baru yang digunakan teroris ketika ingin melakukan aksi teror. Mereka, tambahnya, keluar dari kelompok atau organisasi yang dinaunginya selama ini dan membuat kelompok/organisasi baru yang lebih kecil.

“Keluar dari kelompok itu untuk membentuk kelompok-kelompok baru yang kecil-kecil sehingga organisasi lamanya terlepas dari tuduhan bahwa kelompok itu terlibat teror. Mereka ini adalah ex JI (Jamaah Islamiyah), juga ada kaitannya dengan ISIS,” ujarnya.

Kelompok Abu Jundi merupakan simpatisan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Bahkan Abu Jundi sendiri disebut-sebut sebagai orang yang merekrut dan mengirim orang yang ingin bergabung dengan ISIS ke Suriah.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan mengatakan 150 ribu aparat keamanan dikerahkan untuk mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru di seluruh Indonesia. Pengamanan lanjutnya akan dipusatkan di rumah ibadah dan pusat berkumpul atau pusat keramaian dan objek vital.

Aparat tambahnya juga meningkatkan pengamanan di tempat–tempat yang disebut menjadi sasaran teroris. Dia juga meminta masyarakat menginformasikan kepada aparat jika ada hal-hal yang mencurigakan.

Luhut mengatakan, "Sekarang polisi dan TNI, 150 ribu orang kita letakan di tempat-tempat strategis, di samping itu operasi intelijen, monitor semua kami lakukan. Kita juga mengikutsertakan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama melaporkan, menginformasikan manakala ada aktivitas-aktivitas yang tidak biasa terjadi di tempat itu."

Sebelumnya dalam kesempatan terpisah anggota Tim Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Wawan Purwanto mengatakan pemantauan terhadap pergerakan warga negara Indonesia yang pulang dari Suriah juga terus dilakukan. Pengawasan ini dilakukan untuk mengantisipasi ancaman teror dari kelompok radikal, terutama ISIS. Wawan mengatakan sekarang ini ada 300an warga negara Indonesia yang kembali dari Suriah. Tiga puluh di antaranya adalah anak-anak. Aparat keamanan tambah Wawan juga telah menangkap delapan orang dari yang pulang itu karena terbukti menjadi milisi ISIS atau ikut perang di baris terdepan ketika berada di Suriah. Sementara yang lainnya terus diawasi.

"Ada yang ditangkap, dicabut paspornya, diinterogasi karena terlibat dalam front combatan, pasti bisa bikin sesuatu di sini, itu yang dikhawatirkan," kata Wawan.

Sejumlah pakar menilai langkah yang efektif untuk menangkal pengaruh radikal adalah memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat lokal seperti Nahdlatul Ulama (NU) atau yang berafiliasi dengan Muhammadiyah di daerah-daerah. [fw/em]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG