Tautan-tautan Akses

Clinton: Gaddafi Harus Hentikan Pertumpahan Darah


Seorang warga Libya membawa bagian tubuh jenazah demonstran yang menjadi korban kekerasan oleh pasukan keamanan Libya di Benghazi (21/2). Diperkirakan lebih dari 200 orang tewas dalam kekerasan di Benghazi.

Seorang warga Libya membawa bagian tubuh jenazah demonstran yang menjadi korban kekerasan oleh pasukan keamanan Libya di Benghazi (21/2). Diperkirakan lebih dari 200 orang tewas dalam kekerasan di Benghazi.

Menlu AS Hillary Clinton dan para pemimpin dunia telah mengecam kekerasan terhadap pemrotes anti-pemerintah di Libya.

Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton telah mengecam kekerasan terhadap pemrotes anti pemerintah di Libya dan berseru kepada pemerintahan Moammar Gaddafi untuk menghentikan apa yang digambarkannya sebagai “pertumpahan darah yang tidak bisa diterima”.

Clinton mengatakan, Senin, dunia sedang mengamati kejadian-kejadian di Libya dengan cemas. Pernyataannya datang di tengah-tengah laporan dari saksi mata di Tripoli, bahwa helikopter dan pesawat tempur menyerang bagian-bagian tertentu kota dan penembak jitu mengambil posisi di atas atap-atap bangunan.

Sejumlah pemimpin dunia lain menuntut pemecahan damai atas kekacauan di Libya.

Sekretaris Jenderal Liga Arab Amr Mousa Senin menyerukan pengakhiran kekerasan di negara AFrika Utara itu, ia mengatakan tuntutan pemrotes Libya merupakan hal yang wajar.

TV pemerintah Libya menyiarkan gambar pemimpin Libya Moammar Gadhafi, Senin (21/2).

TV pemerintah Libya menyiarkan gambar pemimpin Libya Moammar Gadhafi, Senin (21/2).

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon berbicara lewat telepon dengan pemimpin Libya Muammar Ghadafi dan mengungkapkan keprihatinan mendalam dengan peningkatan skala kekerasan di sana. PBB, kata Ban, menyerukan penghormatan terhadap kebebasan mendasar dan HAM, serta menggaris bawahi perlunya menjamin perlindungan populasi sipil.

Pejabat Uni Eropa mendesak Libya agar bergerak menuju demokrasi. Mereka mengkhawatirkan keselamatan warganya yang kini berada di Libya.

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy mengecam apa yang disebutnya “penggunaan kekuatan yang tidak bisa diterima” di Libya dan menyerukan “pengakhiran segera” terhadap kekerasan disana.

Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan penumpasan maut oleh pemerintah Libya “sangat mengerikan dan tidak bisa diterima” karena mempergunakan “bentuk penumpasan yang paling kejam.” Ia berbicara dari Kairo, di mana ia memulai sebuah lawatan ke Mesir.

XS
SM
MD
LG