Tautan-tautan Akses

Chatib Basri Beberkan Prospek dan Tantangan Ekonomi RI

  • Karlina Amkas

Menkeu M. Chatib Basri membeberkan prospek dan tantangan ekonomi Indonesia di depan anggota United States – Indonesia Society (USINDO) di Washington DC (foto: dok).

Menkeu M. Chatib Basri membeberkan prospek dan tantangan ekonomi Indonesia di depan anggota United States – Indonesia Society (USINDO) di Washington DC (foto: dok).

Menkeu M. Chatib Basri membeberkan tiga hal yang menjadi prospek dan tantangan ekonomi Indonesia tahun 2014 di depan anggota United States – Indonesia Society (USINDO).

Menteri Keuangan M. Chatib Basri juga mengemukakan pandangannya mengenai situasi ekonomi Indonesia pasca pemilu 2014 di depan anggota United States – Indonesia Society (USINDO) di Washington DC Jumat (11/4).

Dalam 10 sampai 15 tahun ke depan, Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, 75 persen penduduk Indonesia akan menyesaki kota-kota besar. Karenanya, menurut Basri, presiden Indonesia mendatang harus memikirkan infrastruktur fasilitas di kota-kota besar.

Dalam jamuan makan malam dan peringatan ulangtahun ke-20 USINDO di Washington, Basri memaparkan, pemerintah perlu melakukan setidaknya tiga reformasi, dalam infrastruktur, sumber daya, dan pemerintahan.

Dalam hal infrastruktur, Basri mengatakan, “Sayangnya, saya harus mengakui, kemajuan pembangunan infrastruktur belum sangat mengesankan. Saya akan katakan bahwa masih banyak masalah.”

Seiring membaiknya perekonomian Indonesia, kelas menengah semakin bermunculan. Kenyataan itu, menurut Basri, mengubah perilaku konsumen. Untuk memenuhi kebutuhan mereka, ia percaya, dalam lima sampai 10 tahun ke depan, bisnis paling menggiurkan adalah dalam bidang pendidikan, kesehatan dan hiburan.

Dalam bidang hiburan, kebutuhan kelas menengah Indonesia kini dipenuhi Singapura. Seharusnya ini menjadi desakan bagi pemerintah supaya tampil sebagai pemerintahan yang baik dan kelak bisa memenuhi kebutuhan yang timbul seiring munculnya kelas menengah.

“Kalau kita bicara mengenai potensi kelas menengah ini, hal paling penting adalah masalah modal sumberdaya. Karena, kalau kita tidak menciptakan modal sumberdaya berkualitas baik, maka kelas menengah yang berkembang, bonus demografi ini, akan menjadi malapetaka demografi.”

Basri mengungkap, 65 persen ekspor Indonesia sekarang ini terkait energi dan komoditas. Karenanya, Indonesia tidak lagi bisa terus mengandalkan sumberdaya alam dan upah murah. Kebijakan pemerintah, kata Basri harus diubah, dengan mulai melongok ke sumberdaya manusia berkualitas.

Untuk itu, pemerintah menyediakan beasiswa bagi siapa saja yang bisa diterima untuk menuntut ilmu di 200 universitas teratas dunia. Pekan lalu, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono meluncurkan Presidential Award berupa beasiswa bagi calon mahasiswa yang diterima di 50 universitas teratas dunia. Basri yakin, banyak dari 50 universitas terbaik dunia, ada di Amerika.

Dalam kesempatan itu, Basri memuji peran USINDO dalam menanam investasi dalam bidang sumberdaya manusia. Baginya, investasi terbaik Amerika untuk Indonesia adalah dalam modal sumberdaya, dalam bidang pendidikan.

Selain infrastruktur dan sumberdaya manusia, reformasi lain yang perlu dilakukan adalah dalam bidang pemerintahan. Basri mengakui, masih banyak masalah di dalam pemerintah. Salah satu reformasi kecil kementrian keuangan adalah menyediakan informasi mengenai dan melaporkan pajak secara online.

“Kami memperkenalkan pertanyaan yang sering diajukan. Jadi artinya setiap petugas pajak akan mempunyai jawaban yang baku untuk pertanyaan apa saja. Saya tahu langkah ini sangat kecil dan tidak membutuhkan persetujuan DPR.”

Upaya itu, kata Basri, menunjukkan pemerintah berusaha. Memang belum cukup, tetapi setidaknya ada upaya ke sana.

Basri percaya, bila Indonesia terus melakukan reformasi dalam ketiga bidang itu, maka pertumbuhan ekonomi bisa mencapai tujuh sampai 10 persen atau bahkan lebih tinggi. Dan dalam 15 tahun sampai 20 tahun ke depan, Basri percaya, Indonesia mampu menjadi salah satu dari 10 negara berekonomi terbesar dunia, salah satu lokomotif perekonomian dunia, yang tidak hanya mengandalkan sumberdaya alam dan tenaga murah melainkan sumberdaya manusia berkualitas baik.*

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG