Tautan-tautan Akses

BNPT: Aksi Tunggal Teroris Sulit Dilacak

  • Yudha Satriawan

Kepala BNPT dalam Kegiatan BNPT di Perbatasan Solo-Sukoharjo, 20 Oktober 2016 (Foto: VOA/ Yudha)

Kepala BNPT dalam Kegiatan BNPT di Perbatasan Solo-Sukoharjo, 20 Oktober 2016 (Foto: VOA/ Yudha)

Aksi terorisme terus terjadi di Indonesia, terakhir aksi penyerangan terhadap polisi di Tangerang yang berakibat pelaku tewas dan sejumlah polisi luka berat. BNPT mensinyalir aksi aksi tunggal simpatisan militan ISIS ini menjadi tren aksi terorisme.

Suasana kegiatan BNPT: “Modus aksi terorisme ISIS sekarang memakai beragam cara berupa aksi tunggal, di luar negeri dengan membawa senjata tajam maupun senjata api membabi buta di kerumunan, kemudian ada yang menggunakan truk menabrak keramaian dan mengakibatkan puluhan orang tewas. Di Indonesia menyerang polisi dan sebagainya.”

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merespon aksi penyerangan simpatisan ISIS terhadap sejumlah polisi di Tangerang yang terjadi Kamis kemarin (20/10). Kepala BNPT, Komisaris Jenderal Suhardi Alius, ketika menghadiri kegiatan BNPT di Perbatasan Solo-Sukoharjo, Jumat siang (21/10) mengatakan aksi terorisme yang terjadi di Tangerang terinspirasi oleh aksi simpatisan ISIS di berbagai negara. Menurut Suhardi, aksi terorisme tunggal atau lone wolf ini sulit terlacak.

“Polanya tidak berubah, kelompok teroris masih memakai sosial media dan internet untuk mempengaruhi dan melakukan rekrutmen. Kasus yang terjadi di Tangerang kemarin kan kelihatan pelaku belajar dari internet, social media. Termasuk cara pembuatan bom, terinspirasi bentuk aksi dan sasaran aparat pemerintah sebagai target. Contoh yang terjadi di Medan, Sumatera Utara, Batam, Bom di Polresta Solo, dan terakhir Tangerang kan sudah mulai seperti itu. Sampai saat ini masih melalui social media," kata Komisaris Jenderal Suhardi Alius.

"Harus kita waspadai ternyata bisa menyasar siapa saja, pelaku di Tangerang ternyata memiliki dua anggota keluarga yang berprofesi sebagai polisi, aparat. Kita tidak bisa mengestimasi lone wolf atau pelaku tunggal aksi terorisme seperti ini. Sulit terlacak, harus ada kepedulian sekitarnya. Kan ada tahapannya, memisahkan diri dari lingkungan sekitar, internetan terus, rendahnya kepedulian terhadap anggota keluarga yang lainnya, tekanan kondisi ekonomi, usia remaja masih mencari identitas diri, rasa ingin tahu tinggi, intens membuka situs radikal di internet. Jadi sudah,” lanjutnya.

Lebih lanjut Suhardi mengungkapkan masih menelusuri keterlibatan kelompok jaringan ISIS di Indonesia terkait aksi terorisme yang terjadi di Tangerang kemarin. BNPT mencatat ada 500 WNI militan ISIS yang pulang dari Suriah dan negara konflik lainnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komisaris Jenderal Suhardi Alius dalam Kegiatan BNPT di Perbatasan Solo-Sukoharjo, 20 Oktober 2016 (Foto: VOA/ Yudha)

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komisaris Jenderal Suhardi Alius dalam Kegiatan BNPT di Perbatasan Solo-Sukoharjo, 20 Oktober 2016 (Foto: VOA/ Yudha)

Bentuk aksi terorisme dengan pelaku tunggal simpatiisan ISIS sempat terjadi di berbagai daerah antara lain penikaman tokoh agama sebuah gereja di Medan, aksi bom bunuh diri di Polresta Solo, dan penikaman sejumlah polisi di Tangerang.

Penikaman pelaku teror pada polisi menambah daftar panjang aksi terorisme di Indonesia. Solo telah mengalami aksi terorisme dua kali dengan sasaran polisi. Kapolresta Solo, Komisaris Besar Achmad Lutfi, saat ditemui di kantornya, Jumat pagi (21/10), mengatakan pasca aksi terorisme penikaman polisi di Tangerang, Kepolisian di Solo melakukan antisipasi sesuai prosedur pengamanan.

“Tidak ada kegiatan khusus di wilayah kita pasca aksi terorisme di Tangerang kemarin. Pola pengamanan sudah terprogram sesuai prosedur, fungsi intelejen, personil pengamanan, penegakan hukum, berlangsung seperti biasa. Di tingkat pos polisi, polsek, hingga polres tetap sama. Tidak ada apa-apa, aman. Yang terjadi di Tangerang kemarin kan kasuistis, meski pernah terjadi juga di Solo," jelas Komisaris Besar Achmad Lutfi.

"Setiap pos polisi di lapangan ada empat orang, dengan format dua-dua. Untuk personil yang bersenjata itu tergantung kemampuan perorangan, karena anggota POLRI yang punya klasifikasi senjata api adalah mereka yang sudah lulus tes psikologi. Kalau tidak lulus, ya tidak diberi senjata api,” imbuhnya.

Dua kali aksi terorisme di Solo menjadikan polisi sebagai sasaran. Tahun 2012, sejumlah pos polisi di Solo menjadi sasaran penyerangan dengan senjata api kelompok teroris, satu polisi tewas dan dua terluka. Kemudian menjelang Lebaran pertengahan tahun ini, Mapolresta Solo menjadi sasaran aksi tunggal bom bunuh diri. Pelaku yang tewas ternyata jaringan ISIS di Indonesia.

Selain itu, aksi terorisme terbuka terjadi di jalan MH Thamrin Jakarta, sekelompok teroris menyerang polisi yang sedang bertugas di pos lalu lintas. Bom dan rentetan tembakan terjadi di lokasi tersebut.

Aksi terorisme juga pernah terjadi di sebuah gereja di Medan, di mana seorang simpatisan ISIS menyerang seorang pemuka agama dengan senjata tajam dan bom gagal ledak.

Aksi terakhir, seorang simpatisan ISIS memasang stiker logo ISIS di sebuah pos polisi di Tangerang, pelaku menyerang dengan senjata tajam ketika sejumlah polisi menegurnya. Tiga polisi mengalami luka berat akibat serangan dengan senjata tajam sedangkan pelaku luka berat akibat tembakan senjata api saat dilumpuhkan oleh polisi lainnya, dan akhirnya tewas dalam perjalanan ke rumah sakit. [ys/lt]

XS
SM
MD
LG