Tautan-tautan Akses

Bencana Garut, Presiden Perintahkan Usut Pelaku Perusakan Lingkungan


Tim penyelamat mencari korban yang hilang di tepi Sungai Cimanuk di Kabupaten Garut, Jawa Barat pada tanggal 22 September 2016, sehari setelah terjadinya serangkaian tanah longsor dan banjir bandang di beberapa daerah. (foto: AFP Photo/Timur Matahari)

Tim penyelamat mencari korban yang hilang di tepi Sungai Cimanuk di Kabupaten Garut, Jawa Barat pada tanggal 22 September 2016, sehari setelah terjadinya serangkaian tanah longsor dan banjir bandang di beberapa daerah. (foto: AFP Photo/Timur Matahari)

Presiden Joko Widodo meninjau penanganan korban bencana banjir bandang Garut Jawa Barat.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meninjau kawasan banjir bandang Garut Jawa Barat hari Kamis (29/9). Kepada wartawan usai meninjau Rumah Sakit Umum Dokter Slamet Garut, Presiden menjelaskan telah menginstruksikan kepada Kapolri untuk menindak tegas para pelaku perusakan lingkungan yang menjadi penyebab terjadinya banjir bandang yang telah menewaskan puluhan orang.

“Penegakan hukum, ini yang paling penting. Karena tanpa itu hutan, vegetasi, dan pohon ini akan terus digunduli. Saya perintahkan tindakan hukum dari Kapolri untuk para perusak lingkungan yang menyebabkan banjir bandang seperti yang terjadi di Garut ini. Tidak hanya di sini, saya kira di seluruh Tanah Air,” ujar Presiden Joko Widodo.

Presiden juga memerintahkan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melakukan penataan hulu Sungai Cimanuk melalui konservasi tanah dan air serta penataan ruang. Kondisi daerah aliran sungai (DAS) Cimanuk yang rusak menurut Presiden juga berkontribusi menyebabkan banjir bandang.

“Mengenai kerusakan di hulu daerah aliran Sungai Cimanuk, ini dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup sudah turun ke lapangan dan juga akan dilakukan proses-proses dalam rangka konservasi lahan yang ada di sana. Dan juga penataan ruang yang betul agar vegetasi-vegetasi yang ada di atas itu tidak semuanya hilang dan gundul,” jelas Presiden Joko Widodo.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya telah menyatakan bahwa DAS di hulu Sungai Cimanuk disinyalir menjadi faktor utama dari penyebab bencana banjir bandang di Kabupaten Garut. Faktor manusia menjadi salah satu penyebab kerusakan tersebut yang antara lain karena penggunaan lahan dan penambangan galian seperti pasir, tanah liat, dan lain-lain.

Sementara itu mengenai perbaikan infrastruktur dan sarana umum Presiden menjelaskan, perbaikan tanggul dan penyediaan air bersih sedang dikerjakan. Untuk tempat tinggal bagi para korban yang kini berada di pengungsian, telah diputuskan bersama dengan pemerintah daerah bahwa akan dibangun dua rumah susun (rusun).

“Tadi saya bertanya ke Bupati Garut apakah masyarakat menyetujui untuk tinggal di rusun. Jawabannya setuju. Sudah diputuskan juga untuk pembangunan secepat-cepatnya dua tower rusun yang nantinya bisa ditempati masyarakat. Yang di Sumedang juga sama, tapi rusun atau tidak rusun, nanti akan dicek di lapangan,” imbuh Presiden Joko Widodo.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Joko Widodo juga menyampaikan kepada Bupati Garut untuk mencari lahan pengganti di lokasi yang lebih aman untuk pembangunan dan relokasi rumah sakit. Sebab, menurut Presiden, rumah sakit yang tersedia saat ini dibangun di daerah yang rawan bencana. Terkait dengan pencarian korban hilang, Presiden menjelaskan sampai saat ini Badan SAR Nasional (Basarnas) masih terus melakukan pencarian korban hilang yang diperkirakan 19 orang.

Dalam kunjungannya, Presiden menyempatkan bertemu langsung dengan para pengungsi yang menjadi korban dalam bencana banjir bandang tersebut. Presiden memberikan bantuan bahan pokok dan perlengkapan sekolah yang langsung dibagikannya sendiri di lokasi. Presiden juga menyalurkan bentuk bantuan lainnya yang berupa selimut, pembalut, makanan, susu bayi, dan alas tidur.

Solidaritas Masyarakat untuk Bencana Garut

Bencana banjir bandang di Garut yang menelan puluhan korban tewas dan belasan lainnya masih hilang mengundang simpati warga masyarakat dengan membantu mengoordinasikan bantuan kemanusiaan untuk para korban. Salah satunya dari Tim Relawan Masjid At Taufiq Lippo Cikarang Bekasi yang menyalurkan langsung bantuan dari warga sekitar. Koordinator Tim Relawan At-Taufiq Chawari (42 tahun) menjelaskan kerja kemanusiaan yang ia lakukan bersama rekan-rekannya tidak lain merupakan aplikasi dari ritual ibadah sholat 5 waktu umat Muslim.

“Risaunya teman-teman itu bukti nyata bahwa Sholat itu tidak hanya rutinitas, tapi aplikasi aktual dari Sholat itu apa, ya berbagi sesama. Jadi mereka para relawan punya tugas masing-masing, ada yang distribusi, jemput bantuan dan lain-lain. Semuanya bergerak,” ujar Chawari, Koordinator Tim Relawan At-Taufiq.

Sementara itu Yuli (40 tahun) salah seorang pengurus dari kumpulan ibu-ibu As Sakinah komplek perumahan Lembah Hijau Bekasi menjelaskan, setiap ada kejadian bencana kemanusiaan, perkumpulannya langsung bergerak mengoordinasikan bantuan kemanusiaan. Di antaranya mengumpulkan pakaian layak pakai.

“Ini pakaiannya kita pisah-pisahin. Yang dewasa laki-laki, dewasa perempuan, anak perempuan, anak laki dan bayi. Ini biar mudah distribusinya. Jadi kita kumpulin ibu-ibu As-Sakinah untuk kerja sosial. Ini karena kemanusiaan pak. Ibu-ibu disini sudah biasa kerja seperti ini,” ujar Yuli, salah seorang pengurus perkumpulan ibu-ibu As-Sakinah.

Data Pos Komando Tanggap Darurat Banjir Bandang Garut menyebutkan 1.784 rumah rusak dengan rincian 411 rusak berat, 239 rusak sedang, 970 rusak ringan dan 164 hanyut, sedangkan kerusakan fasilitas pendidikan dengan rincian 8 sekolah rusak berat, 11 rusak sedang, dan 30 rusak ringan.

Banjir bandang Garut juga berdampak pada kerusakan dua rumah sakit dan 15 tempat ibadah. Posko terus melakukan upaya penanganan, seperti pencarian korban hilang, distribusi bantuan bagi masyarakat terdampak, pemberian vaksin dan vitamin kepada para relawan. Sekitar 3.180 personel gabungan terlibat dalam penanganan pascabencana. [aw/lt]

XS
SM
MD
LG