Tautan-tautan Akses

Banjir di Thailand Rugikan Negara Ratusan Juta Dolar

  • Ron Corben
  • Wita Sholhead

Warga bersusah payah melintasi banjir di pusat kota Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand.

Warga bersusah payah melintasi banjir di pusat kota Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand.

Banjir akhir tahun lalu berdampak buruk bagi ribuan warga Thailand , merusak infrakstruktur dan merugikan perekonomian negara ratusan juta dolar.

Banjir terburuk dalam hampir 50 tahun menewaskan lebih dari 230 orang di Thailand akhir tahun lalu, mengakibatkan kerugian sebesar 1,7 milyar dolar, dan menggenangi puluhan ribu hektar lahan pertanian.

Banjir, yang dimulai Oktober lalu, menimpa separuh dari 76 propinsi di Thailand. Dalam bulan Januari ini provinsi-provinsi di wilayah selatan mengalami banjir baru dan tanah longsor.

Para pakar meteorologi mengatakan banjir diperburuk oleh fenomena alam La Nina, yang terjadi ketika temperatur permukaan Lautan Pasifik lebih tinggi dari biasanya, mengakibatkan curah hujan di atas tingkat normal.

Tetapi, Thailand tidak asing dengan banjir, walaupun tidak ada gejala alam La Nina. Seperti di kebanyakan wilayah Asia Tenggara dan Tiongkok selatan, musim hujan terjadi dalam bulan April atau Mei setelah musim kemarau panjang berakhir, dan kerap mengakibatkan banjir.

Danai Thaitukoo, dosen arkitektur di Universitas Chulalongkorn, Bangkok, mengatakan banjir yang biasa terjadi itu menyoroti perlunya kebijakan pengelolaan air yang efektif dalam jangka panjang. Ia mengatakan, "Kita hanya menyelesaikan masalah yang ada di hadapan kita, tetapi tidak siap menghadapi masalah jangka panjang. Jadi, seperti kita punya cara pemecahannya, tetapi tidak melakukannya. Negara ini perlu melihat masalah banjir sebagai masalah ketahanan nasional; jadi bukan hanya ketahanan pangan, tetapi juga ketahanan terhadap banjir. Tetapi, pada tingkat pembuat kebijakan teratas, semua menteri tidak menanganinya dengan serius.”

Para ilmuwan dan pejabat di sana mengatakan musim kemarau yang panjang di Thailand juga perlu diatasi, karena sering sekali, masyarakat kekurangan air selama musim kemarau.

Anond Snidvongs pakar iklim pada Universitas Chulalongkorn mengatakan, "Kita selalu melihat air dalam musim penghujan, sebagai berlebihan, dan harus dibuang. Dalam musim kemarau kita mengeluh tidak punya cukup air. Kita perlu mengubah sikap dalam memandang masalah air. Air jangan dilihat sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai aset.”

Anond mengatakan harus ada upaya untuk memenuhi kebutuhan akan air dalam musim kemarau dengan membangun tempat-tempat penampungan air, tidak perlu harus bendungan air, untuk menyimpan air selama musim hujan.

Thailand mulai berhasil mengelola arus air. Pembangunan tembok-tembok penahan air yang dilakukan pada dasawarsa lalu berhasil mengurangi risiko banjir di Bangkok. Kota itu telah membangun tembok sepanjang lebih dari 70 kilometer di sepanjang Sungai Chao Phraya dan pembangunan tembok-tembok penahan banjir diperluas sampai ke luar kota Bangkok.

Banjir tahun lalu mendorong pemerintahan Perdana Menteri Abhisist Vejjajiva menilai kembali upaya mengatasi banjir dan sistem pengairan. Pemerintah Thailand berharap dapat mensentralisasi program pengelolaan air.

XS
SM
MD
LG