Tautan-tautan Akses

AS

AS Diperkirakan Jadi Produsen Minyak Terbesar pada 2015


Kilang minyak di Monterey Shale, California. (Foto: Dok)

Kilang minyak di Monterey Shale, California. (Foto: Dok)

Dominasi AS akan berakhir pada pertengahan 2020 karena sumber daya akan berkurang di lapangan-lapangan minyak yang sedang digarap saat ini.

Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan bahwa pada 2015, Amerika Serikat akan menyalip Arab Saudi dan Rusia sebagai produsen minyak terbesar dunia dan akan menghadapi swasembada energi dalam dua dekade.

IEA yang berbasis di Paris itu mengatakan Selasa (12/11) bahwa untuk 10 tahun mendatang, keberhasilan AS dan Kanada dengan penggalian minyak shale dan produksi di perairan dalam (deepwater) di Brazil akan mengurangi peran Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang didominasi oleh Timur Tengah sebagai produsen minyak paling terkemuka di dunia.

Namun lembaga penasihat 28 negara konsumen energi itu mengatakan bahwa posisi AS sebagai produsen minyak teratas dunia akan berakhir pada pertengahan 2020 karena sumber dayanya menipis di lapangan-lapangan yang saat ini sedang digarap di negara-negara bagian tengah seperti North Dakota dan Texas. IEA mengatakan negara-negara Timur Tengah akan menyediakan sebagian besar peningkatan dalam pasokan minyak global.

Dalam laporan tahunan Perkiraan Energi Dunia, IEA menyatakan bahwa AS bergerak stabil "dalam memenuhi semua kebutuhan energi dari sumber-sumber daya domestik pada 2035." Swasembada energi telah lama menjadi tujuan para pemimpin Amerika.

Di seluruh dunia, IEA mengatakan permintaan energi akan meningkat akibat dorongan dari negara-negara ekonomi baru, dan bahwa China akan menyalip Amerika Serikat sebagai konsumen minyak terbesar dunia pada sekitar 2030. Laporan tersebut mengatakan bahwa China, India dan Timur Tengah akan mendorong permintaan energi global sebanyak sepertiga lebih tinggi.

Namun IEA mengatakan keamanan energi di seluruh dunia sedang dihambat harga yang tinggi, dengan harga minyak rata-rata lebih dari US$110 per barrel sejak 2011.

Direktur Eksekutif IEA Maria van der Hoeven mengatakan, "periode harga minyak yang tinggi yang berkelanjutan ini belum pernah terjadi sebelumnya." Namun lembaga ini memperkirakan bahwa harga minyak akan terus naik, mencapai $128 per barrel pada 2035.

IEA mengatkaan meski harga minyak "relatif seragam" di seluruh dunia, harga-harga gas alam beragam. Dengan produksi gas yang besar di AS, IEA mengatakan para konsumen dan perusahaan di AS membayar harga yang jauh lebih rendah dibandingkan di Eropa dan Jepang, yang harus mengimpor sebagian besar minyaknya.
XS
SM
MD
LG