Tautan-tautan Akses

Mesir Bergejolak oleh Adu Protes Pendukung dan Pengecam Morsi

  • Edward Yeranian

Seorang perempuan Mesir menyerukan slogan-slogan anti-Presiden Morsi, memegang kartu yang bertuliskan "pergi" dalam protes di Lapangan Tahrir, Kairo (28/6).

Seorang perempuan Mesir menyerukan slogan-slogan anti-Presiden Morsi, memegang kartu yang bertuliskan "pergi" dalam protes di Lapangan Tahrir, Kairo (28/6).

Pendukung dan penentang Presiden Mesir Morsi mengadakan demonstrasi di Kairo, dan di tempat lain di Mesir, dua hari sebelum pawai oposisi diperkirakan akan menarik pengunjuk rasa yang lebih besar.

Ribuan pendukung Morsi berkumpul di depan sebuah masjid di distrik Kota Nasr di pinggiran Kairo sewaktu sholat Jumat. Banyak yang membawa spanduk yang menyatakan dukungan bagi presiden dan massa itu kemudian meneriakkan "pemerintahan Islam, pemerintahan Islam."

Pada saat yang sama, pengunjuk rasa anti-Morsi meneriakkan slogan-slogan yang menyerukan presiden untuk mengundurkan diri, berpawai dari setidaknya tiga distrik Kairo menuju Lapangan Tahrir, ikon kota itu.

Di Iskandariyah, kota terbesar kedua di Mesir, ribuan penentang presiden berkumpul di sebuah distrik pinggir laut, meneriakkan slogan-slogan yang menghendaki jatuhnya pemerintah.

Para pengunjuk rasa juga menuntut agar kelompok Ikhwanul Muslimin berhenti ikut campur dalam politik. Kantor berita Reuters melaporkan sedikitnya 36 orang terluka dalam bentrokan di Alexandria.

Bentrokan antara pendukung dan penentang Morsi di provinsi Fayyoum, Sharqiya dan Dhekeliya menewaskan sedikitnya tiga orang dan mencederai 300 orang dalam 48 jam terakhir. Setidaknya satu kantor politik Ikhwanul Muslimin diserang dan dibakar, di dekat Kairo.

Sebuah gerakan oposisi baru yang menamakan dirinya "tamarud" atau "pemberontakan" mengklaim telah mengumpulkan 15 juta tanda tangan yang meminta presiden untuk mundur. Ada kekhawatiran bahwa para anggota tamarud muda akan bentrok dengan para pendukung presiden yang mengatakan bahwa dia terpilih secara "demokratis" dan harus tetap menjabat.

Said Sadek, yang mengajar sosiologi politik di American University di Kairo, mengatakan bahwa situasi di negara itu “bergolak”. Tapi dia mengatakan konflik fundamentalnya adalah ekonomi, bukan agama.

Sadek mengatakan para pelaku politik Islam menggunakan terminologi agama untuk menutupi perbedaan dan persaingan sosio-ekonomi. Ia menambahkan ini murni konflik politik, bahwa Morsi tidak kompeten dan dia tidak tahu bagaimana mengelola negara.

Namun Akademisi Timur Tengah, Fouad Ajami, dari Institusi Hoover, mengatakan konflik sosial di Mesir tidak dapat diselesaikan dengan protes-protes di jalanan dan bahwa tidak banyak yang akan dihasilkan dari serangkaian protes ini:

Dia mengatakan protes-protes ini hanya menunjukkan pergolakan dan terpecah-belahnya negeri itu, namun keesokan harinya Mesir akan kembali ke kebuntuan politik yang sama.

Para pejabat militer Mesir memberitahu para taruna baru-baru ini bahwa militer hanya akan campur tangan dalam konflik politik di negara itu jika kekerasan pecah di jalan-jalan.
XS
SM
MD
LG