Wisata Vaksin ke Amerika, Turis Indonesia: “Kalau Boleh, Kenapa Enggak?”

Your browser doesn’t support HTML5

Berwisata Demi Vaksin Gratis di Negeri Orang, Legalkah?

Ada satu jawaban seragam dari wawancara VOA dengan beberapa warga Indonesia yang sudah dan ingin berwisata ke Amerika Serikat untuk sekaligus disuntik vaksin COVID-19: “Kalau boleh, kenapa enggak?”

Sentimen itu terbaca oleh agen-agen perjalanan wisata yang beberapa bulan terakhir berlomba-lomba menawarkan paket wisata dengan bonus vaksinasi ke AS – negara dengan pasokan vaksin melimpah dan aturan vaksinasi yang mudah.

Akan tetapi, aman dan etiskah berwisata vaksin di tengah krisis?

Tidak Sengaja

Angela Citra Prameswari mengaku “iseng” berjalan-jalan ke kota New York, AS bersama ibunya Maret lalu. Citra, pebisnis kedai kopi di Jakarta Selatan, penasaran dengan suasana kota yang ‘tak pernah tidur’ itu di kala pandemi.

“Memang masih ada visa yang aktif, jadi why not untuk pergi?” katanya saat ditemui VOA di kedai kopinya (26/6).

Angela Citra Prameswari tak menyangka bisa menerima vaksinasi saat berlibur di AS (VOA Indonesia).

Liburan di negeri Paman Sam itu bukan saja memuaskan hobi travelingnya, tapi membuatnya juga menerima vaksin COVID-19 – sesuatu yang tak ia sangka.

“Waktu itu enggak tahu sama sekali kalau misalnya non-American bisa vaksin di sana,” ujarnya.

Dosis itu ia peroleh setelah teman-temannya menyarankan “iseng aja coba-coba vaksin di sana.” Citra lantas berselancar di dunia maya untuk mencari tahu cara vaksinasi di kota New York. Lebih spesifik, ia mencari vaksin Johnson & Johnson, vaksin COVID-19 sekali suntik, mengingat liburannya yang hanya dua minggu.

“(Di) website resmi New York, memang di situ dibilang kalau misalnya selain warga New York enggak boleh divaksin,” tuturnya. Regulasi tersebut kini sudah berubah: siapa pun yang tinggal di AS, tidak harus New Yorker, bisa divaksinasi di negara bagian itu.

Saat itu, karena status sebagai wisatawan tak memungkinkannya mendaftar secara online, Citra langsung mendatangi salah satu apotek yang menyediakan vaksin Johnson & Johnson. Oleh salah seorang pegawai, ia dipersilakan menuliskan namanya dalam daftar tunggu.

Citra akui ia tak banyak berharap, tapi keberuntungan berada di pihaknya. “Benar-benar pagi taruh nama, sore ditelepon untuk kayak, ‘OK, ada pembatalan (jadwal vaksinasi), kalau mau datang aja, nih kita ada dosis buat lo,’” kisah Citra.

Setali tiga uang, Angky Banggaditya juga divaksinasi di AS bulan Maret lalu ketika berlibur selama dua minggu di New York. Dalam wawancara dengan VOA di Jakarta (20/6), Angky bercerita, ia disarankan temannya – yang memang warga Amerika – untuk divaksinasi sebelum pulang ke tanah air.

Angky Banggaditya mendaftarkan dirinya pada sejumlah situs peyedia layanan vaksin COVID-19 di kota New York (dok. pribadi).

“Sebelumnya enggak kepikiran sih untuk vaksin,” ungkapnya. “Dia merasa akan sulit (bagi saya) untuk pulang kalau misalnya belum vaksin. Sulit dalam artian berisiko, karena kan di pesawat itu (waktu) saya ke sana agak lumayan ramai, khususnya kalau kita ambil kelas yang ekonomi, jadi lebih baik coba kita usahakan banget untuk vaksin, jadi pas pulang tuh lebih enak.”

Bermodalkan paspor dan alamat sang kawan di mana ia menginap, manajer hukum salah satu perusahaan startup itu berhasil mendapat vaksin Johnson & Johnson, setelah mendaftarkan diri pada sejumlah situs penyedia layanan vaksinasi COVID-19.

“Beruntungnya karena saat itu pemerintah AS tidak melihat status keimigrasian,” ujarnya. “Dan saya juga senang dapat pin ‘I Got Vaccinated in NYC.’ Nah, itu jadi kenang-kenangan saya di rumah, jarang-jarang orang bisa ikut vaksinasi di sana.”

“Ikhtiar” di Tengah Pandemi

Berbeda dengan Citra dan Angky yang tidak sejak awal berniat vaksinasi saat liburan, Triyekti Suswati memang bertekad ke AS agar bisa divaksinasi sambil jalan-jalan. Pemilik rumah makan asal Tulungagung, Jawa Timur itu berniat berpelesir selama sebulan dengan harapan menerima vaksin COVID-19 di sana.

“Ini termasuk dari ikhtiar ya bagi saya,” ujar Triyekti melalui sambungan Zoom dengan VOA (29/6). Ia mengaku sudah merencanakan wisata ke AS sejak 2019. Akan tetapi, pandemi virus corona memaksanya menunda rencana itu.

Karena senang berlibur ke luar negeri, Triyekti menaruh perhatian khusus pada persyaratan perjalanan yang diberlakukan berbagai negara, termasuk persyaratan vaksinasi. Itu yang mendorongnya berkukuh mendapatkan vaksin merek tertentu untuk mempermudahnya bepergian kelak.

Seorang pria menerima vaksinasi COVID-19 produksi Pfizer di Manhattan, New York City.

“Kalau saya lihat untuk vaksin yang bisa diaccept di negara lain itu kan memang kayak Pfizer, Johnson & Johnson… Nah, itu yang di Indonesia belum ada. Jadi, kenapa enggak? Sekalian kita jalan-jalan, sekalian dapat vaksin,” tuturnya.

Meski demikian, rencananya ke Amerika kembali menghadapi kendala karena ia belum memenuhi persyaratan kuota peserta paket wisata yang ingin dibeli. Triyekti masih harus mengajak satu orang lagi – atau justru lima orang – untuk menggenapkan persyaratan paket wisata ke Amerika yang ditawarkan ATS Vacations.

ATS Vacations (PT Anugerah Tour Semesta) adalah agen perjalanan wisata yang menawarkan berbagai paket liburan di dalam dan ke luar negeri. Sejak Mei, ATS Vacations dan beberapa agen perjalanan lain menawarkan paket wisata ke AS dengan iming-iming kesempatan “mendapatkan vaksin Covid-19” merek Pfizer, Moderna atau Johnson & Johnson.

“Kita lihat memang ada peluang,” kata Muhammad Ramdhani, Executive Assistant ATS Vacations, ketika ditemui Tim VOA di kantor pusatnya di Jakarta (23/6).

Muhammad Ramdhani, Executive Assistant ATS Vacations, berharap paket 'wisata vaksin' dapat membantu menggerakkan lagi perputaran roda bisnis travel agent yang terpuruk (VOA Indonesia).

Peluang yang ia maksud adalah terbukanya akses wisatawan Indonesia ke Amerika diiringi kebijakan vaksinasi AS yang memungkinkan turis menerima vaksin di sana.

“Kita riset, ternyata memang responsnya tuh bagus sekali dari masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan vaksin dan sudah ingin jalan-jalan,” tambah Ramdhani. Ia juga mengungkapkan bahwa perusahaannya memiliki rekanan di Amerika yang bisa membantunya mendapatkan pasokan vaksin tersebut.

Hingga 4 Juli 2021, berdasarkan data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, 54,9% populasi AS telah menerima setidaknya satu dosis vaksin COVID-19, sementara yang sudah divaksinasi penuh mencapai 47,4%. Pemerintah AS juga sudah mengamankan lebih dari satu miliar dosis vaksin berbagai merek, di antaranya Pfizer-BioNTech dan Moderna dengan tingkat kemanjuran di atas 90%, serta Johnson & Johnson sebesar 66,3% – lebih dari cukup untuk memvaksinasi penuh seluruh warganya.

Wali Kota Bill de Blasio mengajak turis berkunjung ke New York, sekaligus mendapatkan vaksinasi COVID-19.

Mei lalu, Wali Kota New York Bill de Blasio bahkan secara terbuka mengundang wisatawan untuk berlibur sekaligus divaksinasi di sana. Pemerintah negara bagian Alaska juga mempersilakan turis menerima vaksin COVID-19 di sejumlah bandara di wilayah itu.

Menurut Kaiser Family Foundation (KFF), lembaga nonprofit yang fokus pada isu kesehatan, per 14 Juni lalu, 24 dari 50 negara bagian di Amerika tidak mensyaratkan status kependudukan bagi calon penerima vaksin COVID-19. CDC juga memutuskan bahwa siapapun, terlepas dari kewarganegaraannya, berhak divaksinasi COVID-19 secara gratis di Amerika.

Dalam keterangan tertulis kepada VOA, juru bicara Kedutaan Besar AS untuk Indonesia, Michael Quinlan, mengatakan bahwa upaya “mendapatkan perawatan medis di AS merupakan tujuan kunjungan yang diizinkan bagi individu yang memiliki visa kunjungan yang berlaku.”

Dengan segala kemudahan tersebut, Ramdhani berharap strategi ‘wisata vaksin’ ke AS dapat membantu menggerakkan roda bisnis travel agent yang tersendat-sendat sejak pandemi melanda. Hingga wawancara dilakukan, ia mengatakan sudah lebih dari 30 orang yang mendaftar untuk berlibur ke Amerika dengan paket tersebut.

Meski demikian, Ramdhani tak menyangkal bahwa pembuatan visa turis di Kedutaan Besar AS masih menjadi kendala.

“Memang kedutaan Amerika ini sekarang kan juga lagi membatasi untuk pembuatan visa baru. Jadi, untuk jadwal interviewnya sendiri untuk yang sekarang itu sudah sampai di bulan Oktober,” terangnya.

Pernyataan itu senada dengan keterangan Kedubes AS dalam situsnya yang menyebut bahwa baik kantor kedutaan di Jakarta maupun Konsulat Jenderal AS di Surabaya beroperasi dalam kapasitas yang dikurangi, sehingga “besar kemungkinan akan terjadi peningkatan waktu tunggu penyelesaian layanan visa nonimigran akibat antrean yang panjang.”

Hal itu yang membuat Amaryllis Anindyaputri, yang sebelumnya – seperti Triyekti – juga berniat membeli paket wisata vaksin ke AS, mengurungkan niatnya.

“Soalnya kemungkinan dapat jadwal wawancara (visa) aja baru di September atau Oktober,” ungkap Putri melalui pesan teks kepada VOA (29/6). “Pfizer (akan) udah masuk sini (Indonesia) Agustus or September.”

Why not?

Angela Citra Prameswari menyadari bahwa ia memiliki privilese karena bisa mendapatkan vaksin COVID-19 yang belum beredar di tanah air. Baginya, yang ia lakukan adalah bentuk kontribusinya mempercepat terbentuknya kekebalan kelompok.

Why not kalau menurut aku. Dan kalau memang mereka bisa, kenapa enggak? Biar cepat kita semua ini punya antibodi yang lebih, jadi kita bareng-bareng bisa lawan virusnya lebih cepat,” ungkapnya.

Alasan senada diutarakan Sari Lestari, tante Citra yang juga divaksinasi di Amerika saat mengunjungi anaknya yang tinggal di sana. Ia menilai kebutuhan seseorang untuk mendapat perlindungan di tengah pandemi merupakan hal wajar. Menurutnya, “sah-sah aja, karena orang kan kepengin dapat protection. Dan proteksi ini di Indonesia masih belum jelas.”

Sari Lestari divaksinasi COVID-19 produksi Pfizer di AS Maret lalu saat mengunjungi sang anak yang tinggal di sana (VOA Indonesia).

Perusahaannya, yang bergerak dalam bidang layanan dan pengadaan mesin ATM, sudah mendaftarkan diri dalam program vaksin gotong royong, program vaksinasi yang ditujukan bagi pegawai perusahaan dan keluarga mereka dengan pendanaan yang dibebankan pada pihak perusahaan. Namun belum ada tindak lanjut dari langkah tersebut.

“Jadi saya merasa nothing to lose lah, mendingan saya vaksin sekarang, lebih terlindungi dan dapat Pfizer,” tuturnya. “Saya pengin dapat the best.”

Insting untuk menyelamatkan diri itu disebut peneliti Pusat Pengembangan Etika (PPE) Universitas Katolik Atma Jaya, Yeremias Jena, sebagai hal manusiawi saat menghadapi krisis. Apalagi langkah itu dimungkinkan oleh sistem.

“Peran pemerintah itu tidak lebih dari peran polisional, tidak mengintervensi pasar. Jadi apa yang dimaui oleh pasar, ya udah… Pemerintah asal punya regulasi, misalnya memastikan bahwa orang bepergian itu ada visanya, pengurusan visanya oke, kemudian ada tanda bebas COVID-19, sudah vaksin, atau sehat, hanya sekadar itu sekarang,” beber Yeremias.

Akan tetapi, secara etika, Yeremias memandang miring praktik wisata vaksin karena berpotensi memperlebar kesenjangan masyarakat, seperti yang juga diungkapkan Hermawan Saputra, anggota Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

“(Wisata vaksin) ini menjadi ironis ya, karena rasa keadilan akhirnya tidak didapatkan,” kata Hermawan melalui Zoom kepada VOA (4/7). “Yang disebut keadilan itu dalam teori vaksin harus accessible dan affordable. Terjangkau secara biaya, tetapi juga accessible, bisa diterima oleh keseluruhan masyarakat di manapun berada.”

Komite Etika Pariwisata Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO) dalam situsnya mengatakan bahwa “vaksin tidak seharusnya menjadi bagian dari paket wisata vaksinasi dan harus tetap menjadi barang untuk kepentingan masyarakat global.”

Rekomendasi UNWTO itu diamini pakar wisata medis sekaligus Direktur Pusat Kedokteran Pariwisata RS Mount Auburn, Massachusetts, Lin Hwei Chen. Ia menilai pemerataan distribusi vaksin, seperti mekanisme COVAX, adalah solusi terbaik untuk mengakhiri pandemi.

“Secara etika, (wisata vaksin) ini tidak adil karena ini hanya (bisa dilakukan) orang-orang yang mampu bepergian untuk divaksinasi dan mungkin mencari-cari cara untuk bisa melakukannya,” kata Chen kepada VOA (30/6) melalui Skype.

Pun dari segi keamanan, wisata vaksin memiliki banyak risiko. Chen menjelaskan, “kapanpun seseorang bepergian dari satu tempat ke tempat lain, kita harus memikirkan apakah ia terinfeksi di perjalanan, apakah ia akan menularkan (penyakit) dari satu tempat ke tempat lain. Misalnya, (negara) tujuannya sudah berhasil mengendalikan pandemi, (lantas) apakah ia akan memaparkan atau menularkan kembali penyakit itu di sana, terutama dengan varian-varian baru yang muncul.”

BACA JUGA: Vaksin AS Melimpah, Wisatawan Indonesia Dapat Jatah

Ketika ditanya apakah ada cara agar wisata vaksin yang terlanjur menjadi fenomena umum itu bisa dilakukan secara lebih aman, ia mengatakan tidak ada jawaban mutlak, namun “bila seseorang amat sangat berhati-hati dan telah mengikuti semua protokol kesehatan umum seperti misalnya menjaga keselamatan diri, memakai masker, mencuci tangan dengan benar, menjaga jarak dari kerumunan sebelum mereka sampai di (negara) tujuan untuk divaksinasi, maka saya rasa hal itu bisa membuat wisata vaksin yang kita bicarakan ini sedikit lebih aman.”

Selain Amerika Serikat, yang notabene menjadi ‘rumah’ beberapa produsen vaksin dan memiliki pasokan yang melimpah, beberapa negara lain juga menjadi destinasi wisata vaksin, seperti Rusia, Guam hingga Maladewa. Belakangan, pemerintah Indonesia juga tengah mendalami gagasan menjadikan Bali sebagai pilot project wisata vaksin yang menyasar wisatawan dalam negeri.

Your browser doesn’t support HTML5

Wisata Vaksin ke Amerika, Antara Etika dan Insting Menyelamatkan Diri


Hingga awal Juli, menurut data Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), baru 7,5% dari target 181 jutaan penduduk Indonesia (berusia di atas 18 tahun dan memenuhi syarat) yang sudah divaksinasi penuh. Capaian itu sebagian besar mencakup kelompok tenaga medis, lansia dan petugas pelayanan publik yang menjadi sasaran utama tahap II vaksinasi COVID-19 nasional. [rd/ab]