Victoria's Secret Minta Maaf Atas Pemakaian Hiasan Kepala Indian

Model Karlie Kloss memakai hiasan kepala Indian pada peragaan busana Victoria's Secret 2012 di New York. (AP/Starpix, Amanda Schwab)

Produsen pakaian dalam Victoria's Secret meminta maaf atas pemakaian hiasan kepala suku asli Amerika dalam peragaan busananya.
Produsen pakaian dalam Victoria's Secret meminta maaf karena salah satu modelnya memakai hiasan kepala khas suku asli Amerika dalam sebuah peragaan busana, yang mengundang kecaman karena memperlihatkan ketidakpedulian akan budaya kesukuan dan sejarah.

Perusahaan tersebut mengatakan menyesal telah membuat geram banyak kalangan, dan menambahkan bahwa mereka tidak akan menyertakan busana tersebut dalam peragaan yang akan disiarkan televisi bulan depan atau dalam semua materi pemasaran.

“Kami tidak berniat menghina siapa pun,” ujar perusahaan tersebut akhir pekan lalu.

Dalam sejarah, hiasan kepala merupakan simbol penghormatan, dipakai oleh prajurit dan pemimpin perang suku asli Amerika. Untuk suku Great Plains, misalnya, setiap bulu di hiasan kepala memiliki makna penting dan harus diperoleh dari tindakan yang memperlihatkan keberanian atau kasih sayang.

“Jika seorang kepala suku Lakota mengenakan hiasan kepala yang lengkap, berarti ia orang yang sangat dihormati. Ia adalah pemimpin yang telah melakukan banyak hal terhormat untuk rakyatnya,” ujar Michelle Spotted Elk dari Santa Cruz, California, yang merupakan warga keturunan suku asli dan bersuamikan suku Lakota.

“Hiasan kepala juga memiliki makna relijius. Bagi mereka, tidak ada pemisahan antara spiritualitas dan kepemimpinan.”

Model Victoria's Secret Karlie Kloss berjalan di atas panggung peragaan busana minggu lalu memakai hiasan kepala berbulu yang menjuntai sampai lantai, baju dalam bermotif macan dan sepatu hak tinggi.

Dalam tulisannya di Twitter, ia mengatakan, “sangat menyesal bila apa yang saya pakai dalam peragaan telah membuat orang marah.”

“Kami telah melalui penderitaan untuk bertahan hidup dan memastikan untuk tetap hidup,” ujar juru bicara Navajo Nation Erny Zah, dalam sebuah wawancara Senin (12/11).

“Setiap lelucon, baik dalam Halloween, Victoria’s Secret...itu bagaikan meludahi wajah kita. Meludahi budaya kita, dan itu sangat menyesakkan,” ujarnya.

Sebelumnya, Paul Frank Industries Inc. dan band No Doubt menerima kecaman serupa karena memakai hiasan kepala tersebut untuk pakaian produksi, pesta dan video musik. Mereka juga telah meminta maaf.

Jennie Luna, yang berasal dari suku Chicana and Caxcan, mengatakan masyarakat secara umum tidak peduli terhadap spiritualitas suku asli dan tidak paham bahwa hal itu tidak dapat digunakan dalam pemasaran secara komersil. Ia dan banyak pihak lain mengatakan bahwa pendidikan mengenai budaya suku asli Amerika perlu ditingkatkan.

“Kami adalah manusia, bukan pernyataan mode,” ujar Luna. “Kami adalah masyarakat yang menghadapi masalah serius, dan tindakan yang memperkuat stereotip dan ketidakpedulian terhadap cara hidup kami sangat tidak bisa diterima.”

ReGina Zuni dari Isleta Pueble di New Mexico menyarankan perusahaan yang ingin menggunakan unsur budaya suku asli Amerika untuk berkonsultasi dengan warga yang memiliki pengetahuan mengenai tradisi, budaya dan kebiasaan suku asli.

Ia sendiri tidak marah dengan penggunaan hiasan kepala oleh Victoria’s Secret, namun lebih kepada kurangnya perhatian pada perawatan kesehatan, pendidikan, perumahan dan isu lainnya terkait masyarakat Indian.

"Jika orang ingin menarik perhatian media mengenai isu yang dihadapi Indian, bukan itu masalah yang harus dikedepankan dan disoroti,” ujarnya. (AP/Felicia Fonseca)