Uni Eropa Gelar KTT di Tengah Situasi Bergolak

Bendera-bendera negara anggota terlihat berkibar di dalam markas Dewan Eropa menyambut penyelenggaraan KTT Uni Eropa di Brussels, Belgia, 14 Desember 2016. (REUTERS/Yves Herman)

Perdana Menteri Inggris Theresa May dijadwalkan meninggalkan pertemuan itu lebih dulu daripada 27 kepala negara anggota lainnya, yang akan bertemu dalam acara makan malam dan diskusi informal mengenai pandangan mereka terhadap Brexit.

Para pemimpin Uni Eropa bertemu di Brussels, Kamis (15/12) untuk mengikuti KTT, setelah melewati tahun penuh gejolak bagi kelompok beranggotakan 28 negara itu. Sementara itu, pertanyaan mengenai keutuhan dan masa depan organisasi tersebut terus membayang.

Di antara tantangan utama yang akan dibahas pada pertemuan satu hari itu adalah mengenai kelanjutan sanksi-sanksi terhadap Rusia terkait Ukraina, krisis migran Eropa, dan keputusan Inggris Juni lalu untuk meninggalkan Uni Eropa atau Brexit.

Perdana Menteri Inggris Theresa May dijadwalkan meninggalkan pertemuan itu lebih dulu daripada 27 kepala negara anggota lainnya, yang akan bertemu dalam acara makan malam dan diskusi informal mengenai pandangan mereka terhadap Brexit.

Tidak diikutkannya May dalam acara makan malam itu merupakan satu di antara tanda-tanda pertama mengenai kenyataan bahwa Inggris, ekonomi terbesar kedua Uni Eropa, dalam waktu dekat tidak akan lagi menjadi bagian dari blok tersebut. Dalam suatu pernyataan, juru bicara May tidak menganggap penting apa yang ditafsirkan sebagian pengamat sebagai penghinaan terhadap pemimpin Inggris itu.

Mengenai Rusia, diperkirakan tidak akan muncul kejutan dalam pertemuan ini. Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Francois Hollande pekan ini menyatakan mereka akan mendukung perpanjangan sanksi-sanksi terkait Ukraina. Keputusan ini akan diambil meskipun tekanan semakin besar di kalangan investor dan perusahaan energi di Eropa, termasuk di dalam Jerman sendiri, agar sanksi-sanksi tersebut dilonggarkan.

Menurut para analis, karena presiden terpilih Amerika Donald Trump menyatakan kesediaan untuk bekerja sama lebih erat dengan Rusia guna menyelesaikan konflik dan memerangi terorisme, maka sekarang ini dianggap bukan momentum yang tepat untuk melanjutkan sanksi-sanksi terhadap Rusia.

Uni Eropa telah mengecam keras serangan pemerintah Suriah yang didukung Rusia terhadap beberapa bagian Aleppo. Tetapi para analis menyatakan kemungkinan besar tidak akan ada sanksi-sanksi baru terhadap Moskow terkait Suriah.

Isu yang diperdebatkan dalam pertemuan ini adalah sikap Belanda terhadap Ukraina.

Para pemilih Belanda April lalu menolak perjanjian antara Uni Eropa dan Ukraina untuk memperkuat hubungan ekonomi dan politik antara Brussels dan Kiev, suatu kesepakatan yang oleh banyak kalangan ditafsirkan sebagai langkah pertama menjadi anggota Uni Eropa. [uh/ab]