Trump Pertimbangkan Boikot Perdagangan atas Negara-negara Berbisnis dengan Korut

Presiden AS Donald Trump didampingi Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin memberikan keterangan kepada media (foto: dok).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan hari Minggu (3/9) bahwa dia sedang mempertimbangkan untuk menghentikan semua perdagangan dengan negara manapun yang melakukan bisnis dengan Korea Utara setelah rezim komunis yang tertutup itu melakukan uji coba nuklir terbesar dan dia tidak mengesampingkan serangan balasan terhadap Pyongyang.

Trump mengatakan bahwa dia akan bertemu dengan Menteri Pertahanan Jim Mattis dan kepala staf Gedung Putih John Kelly, keduanya purnawirawan jenderal A.S., dan pemimpin militer lainnya untuk membahas pilihan mereka dalam menanggapi uji coba nuklir keenam Korea Utara.

Pyongyang mengatakan bahwa ujicoba bom hidrogen yang dimaksudkan untuk dipasang pada rudal balistik antar benua itu "berhasil sempurna". Ledakannya dilaporkan mengguncang bangunan di China dan Rusia.

Trump berkata, "Kita lihat saja nanti," ketika ditanya apakah dia akan menyerang Korea Utara sebagai pembalasan atas uji coba nuklir tersebut, sebuah ledakan yang menimbulkan kecaman luas di seluruh dunia.

Pemboikotan ekonomi oleh A.S. terhadap negara-negara yang melakukan bisnis dengan Korea Utara dapat dengan cepat menghambat perdagangan tahunan hampir $ 650 miliar antara AS dan China, karena Beijing adalah sekutu utama Korea Utara dan mitra dagang terbesarnya.

Menteri Keuangan AS, Steve Mnuchin mengatakan kepada Fox News bahwa dia akan menyiapkan paket baru sanksi ekonomi terhadap Korea Utara untuk dipertimbangkan.

"Kami akan bekerja sama dengan sekutu kami, kami akan bekerja sama dengan China," kata Mnuchin. "Tapi orang perlu menghambat Korea Utara secara ekonomi, ini adalah perilaku yang tidak dapat diterima."

Seorang pejabat intelijen A.S. mengatakan Amerika Serikat tidak punya alasan untuk meragukan bahwa Korea Utara telah meledakkan sebuah bom nuklir, yang 10 kali lebih kuat dari yang diujicobanya setahun silam.

"Kami sangat yakin ini adalah uji coba perangkat nuklir yang maju dan apa yang kami lihat sejauh ini sesuai dengan klaim Korea Utara," kata pejabat intelijen tersebut.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk pengujian tersebut sebagai "sangat menggoyahkan keamanan regional." Dewan Keamanan PBB akan mengadakan pembicaraan darurat mengenai situasi tersebut Senin.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengecam Korea Utara hari Minggu karena telah melaksanakan uji coba nuklir terbesarnya, menyebutnya "negara nakal" yang "kata-kata dan tindakannya terus sangat bermusuhan dan berbahaya bagi Amerika Serikat."

Dalam dua komentar Twitter, pemimpin A.S. tersebut mengatakan Korea Utara "telah menjadi ancaman besar dan mengacaukan bagi China, yang berusaha membantu namun kurang berhasil."

Tapi Trump juga mencerca Korea Selatan, dengan mengatakan sekutu A.S. itu mendapati, seperti yang dikatakan Trump kepada mereka, bahwa pembicaraan damai dengan Korea Utara tidak akan berhasil, negara itu hanya mengerti satu hal. [as]