Tiongkok Keluhkan Kegagalan Film 'The Flowers of War' Raih Oscar

Aktor Inggris, Christian Bale (kiri) dan sutradara Tiongkok, Zhang Yimou berpose untuk promosi film "The Flowers of War" dalam festival di Berlin (23/2).

Media pemerintah Tiongkok mengeluh atas kegagalan film paling ambisius di negara itu untuk menang dalam penghargaan Oscar tahun ini.

Harian Global Times yang berafiliasi dengan partai Komunis dalam situs webnya menyesali impian Tiongkok yang lagi-lagi kandas untuk membawa pulang patung emas Oscar.

Koran itu menambahkan masyarakat perfilman Hollywood bahkan tidak menominasikan 'The Flowers of War' berlatar belakang pembunuhan massal di Nanjing tahun 1937 dan dianggap sebagai film termahal yang pernah dibuat.

Salah satu adegan dalam film "The Flowers of War" yang dibintangi aktor Inggris, Christian Bale (kiri).

Dibintangi oleh aktor Inggris Christian Bale dan disutradarai oleh Zhang Yimou - yang dikenal lewat film-film seperti “Raise The Red Lantern” -- film The Flowers of War dengan sengaja dirancang untuk menjembatani jurang antara penonton Tiongkok dan barat.

Global Times mengatakan banyak warga Tiongkok berkesimpulan bahwa tidak peduli sekeras apapun usaha pembuat film Tiongkok, mereka tidak akan pernah bisa memenuhi selera barat.

Seperti diberitakan sebelumnya, Film 'The Artist' muncul sebagai pemenang besar pada penghargaan piala Oscar ke-84 hari Minggu (26/a), memenangkan penghargaan film terbaik, serta empat penghargaan lainnya, termasuk untuk sutradara terbaik dan aktor terbaik.

Pemenang besar lainnya dalam ajang Oscar kali ini adalah film Hugo, sebuah film 3-Dimensi karya pelopor film Prancis. Hugo memenangkan lima penghargaan Oscar, termasuk untuk sinematografi terbaik.

Dalam kategori film asing, film iran yang menjadi favorit 'A Separation' berhasil meraih penghargaan film berbahasa asing terbaik. Disutradarai oleh Asghar Farhadi, film itu menceritakan kisah kehidupan sulit yang harus dialami oleh pasangan suami-isteri yang sedang dalam proses perceraian.