Tillerson Peringatkan Rusia soal Suriah sebelum Pembicaraan di Moskow

  • Cindy Saine

Menlu AS Rex Tillerson (kiri) dan Menlu Rusia Sergey Lavrov sebelum pertemuan di Moskow, Rusia hari Rabu (12/4).

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson berada di Moskow untuk melakukan pembicaraan yang mendapat banyak perhatian dengan Menteri Luar Negeri Rusia hari Rabu. Pembicaraan itu berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan mengenai Suriah.

Dugaan serangan senjata kimia Suriah terhadap warga sipilnya sendiri pekan lalu dan serangan balasan militer AS kemungkinan akan mempersulit tercapainya harapan untuk kerjasama AS-Rusia yang lebih erat di bawah Presiden Donald Trump.

Rex Tillerson mengatakan ia ingin menyingkirkan perbedaan tajam dengan Rusia, pada waktu ia memulai pertemuan yang tegang dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

Lavrov mengatakan Rusia memiliki banyak pertanyaan mengenai gagasan-gagasan Amerika yang sangat ambigu dan kontradiktif. Ia mengatakan penting sekali bagi Rusia untuk memahami niat pemerintahan Trump yang sesungguhnya.

Sementara itu, Tillerson mengatakan ia ingin memahami mengapa ada perbedaan pendapat antara Amerika dan Rusia. Ia mengatakan, kedua negara telah sepakat bahwa jalur komunikasi mereka harus tetap terbuka.

Berbicara sebelumnya dalam pertemuan dengan para menteri luar negeri G7 di Italia, Tillerson mengatakan setelah bertahun-tahun mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad, Rusia kini perlu menentukan pilihan.

"Rusia benar-benar telah bersekutu dengan rezim Assad, Iran dan Hizbullah. Apakah itu aliansi jangka panjang yang memenuhi kepentingan Rusia, atau apakah Rusia lebih memilih untuk bersekutu kembali dengan Amerika Serikat, dengan negara-negara Barat lainnya dan negara-negara Timur Tengah yang berusaha untuk menyelesaikan krisis Suriah?,” kata Tillerson.

Tillerson mengatakan dia dan para pemimpin dunia lainnya sepakat bahwa kekuasaan keluarga Assad akan segera berakhir, dan dia akan tegas terhadap Rusia karena tidak memastikan Assad membersihkan cadangan senjata kimia.

Tillerson menambahkan, “Tidak jelas apakah Rusia gagal melaksanakan kewajiban ini dengan serius, atau Rusia tidak mampu, tapi perbedaan ini tidak lagi berarti bagi orang-orang yang sudah mati.”

Hari Selasa (11/4) sore, Sean Spicer, juru bicara Gedung Putih ditanya apakah Assad harus disingkirkan.

“Pasti. Tidak ada Suriah yang damai dengan Assad yang terus berkuasa. Saya tidak melihat bagaimana hal itu bisa berlangsung,” tegas Sean Spicer.

Presiden Rusia Vladimir Putin kemungkinan besar tidak akan mengubah kebijakan mendukung Assad hanya karena Amerika mengatakan kebijakan itu berada pada sisi yang salah dalam sejarah, kata analis Thomas Wright dari Brookings Institution kepada VOA.

“Jika Rusia harus mempertimbangkan kembali dukungannya bagi Assad, maka itu akan membutuhkan konsesi nyata sebagai imbalannya, hal-hal yang benar-benar diinginkannya. Masalahnya adalah semua hal yang benar-benar diinginkan oleh Rusia itu adalah hal-hal yang – karena alasan yang baik – Amerika sangat enggan berikan, seperti konsesi di Eropa Timur dan Ukraina, dan mengenai ekspansi NATO,” ujar Thomas.

Apa pun hasilnya, banyak pihak di seluruh dunia akan mengamati dengan seksama kunjungan pertama ke Rusia oleh anggota senior pemerintahan Trump. [lt/uh]