Taliban Afghanistan Didesak Keluar Pakistan

Tentara Pakistan berjaga-jaga di dekat perbatasan Torkham antara Pakistan dan Afghanistan, 15 Juni 2016.

Para pemimpin Taliban Afghanistan yang buron semakin terdesak untuk pindah dari Pakistan bersama keluarga dan perusahaan mereka karena menolak ikut dalam pembicaraan perdamaian dengan Kabul, kata para pejabat dan sumber-sumber pemberontak kepada VOA.

“Tekanan terus dilakukan terhadap Taliban dan sebagian sudah berangkat atau meninggalkan negara itu,” kata seorang pejabat tinggi Pakistan yang terlibat langsung dalam hal-hal yang berhubungan dengan kebijakan Afghanistan.

Ia tidak ingin namanya disebut karena pemerintah belum secara terbuka mengakui penindakan terhadap Taliban itu, yang merupakan bagian dari kebijakan untuk mengusahakan pemulangan segera dari Pakistan hampir 3 juta orang pengungsi Afghanistan yang terdaftar dan yang tidak terdaftar.

Pakistan telah didesak oleh mitra-mitra internasionalnya, khususnya Amerika Serikat, agar tidak memberi tempat bagi Taliban dan kelompok-kelompok lain yang melancarkan pemberontakan dengan kekerasan di Afghanistan. Negara itu membantah tuduhan bahwa dukungan rahasia badan intelijensnya telah memungkinkan Taliban dan sekutunya, Jaringan Haqqani, memperpanjang perang Afghanistan dan memperluas pengaruh pemberontak setelah penarikan pasukan tempur internasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Peningkatan pertempuran telah merongrong usaha meningkatkan hubungan bilateral antara Afghanistan dan Pakistan.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani telah berkali-kali menuduh Islamabad tidak mengambil tindakan terhadap para pemimpin Taliban yang buron. Pihak Pakistan sebaliknya menuduh para petugas intelijens Afghanistan melindungi dan mendukung buronan yang terkait dengan Taliban anti-Pakistan.

Pihak berwenang Pakistan sebelumnya bulan ini menangkap beberapa pemimpin utama Taliban di daerah-daerah di dan sekitar Quetta, ibukota provinsi Baluchistan, Pakistan barat-daya yang berbatasan dengan Afghanistan. Orang-orang yang ditahan itu termasuk Ahmadullah Muti, yang biasanya dikenal dengan nama Mullah Nanai, Suleman Agha dan Mullah Samad Sani.

Ketiganya ditangkap karena mereka meremehkan permohonan untuk mengadakan pembicaraan perdamaian dan rekonsiliasi dengan pemerintah Afghanistan, demikian menurut para pejabat Pakistan dan pemberontak. [gp]