Tak Ada Akses Pendidikan, UNICEF Peringatkan Anak-anak Rohingya Hadapi Masa Depan Suram

  • Lisa Schlein

Anak-anak Rohingya bermain di "sekolah darurat" di kamp pengungsi Kutupalong, Cox's Bazar, Bangladesh.

Satu tahun setelah kekerasan dan penganiayaan di Myanmar yang memaksa pengungsian massal warga Rohingya, dana anak-anak PBB (UNICEF) memperingatkan akan satu generasi anak-anak yang akan terlunta-lunta di Cox's Bazar, Bangladesh, karena mereka tidak mendapat pendidikan yang mereka butuhkan untuk mengukir masa depan yang baik.

Lisa Schlein melaporkan dari Jenewa pada peluncuran studi "Futures in the Balance: Membangun Harapan untuk Generasi Anak-anak Rohingya."

Penelitian UNICEF mencatat keadaan yang kacau dan kebingungan di seluruh kamp-kamp sempit dan kotor di Cox's Bazar selama sebagian besar tahun lalu sudah hilang. Dikatakan, perbaikan dalam bidang prasarana dan kegiatan ekonomi telah dilakukan dan dilaporkan kekhawatiran akan wabah besar penyakit, seperti kolera dan kerusakan luas selama musim hujan telah dihindari. Disamping semua hasil positif itu, dana anak-anak PBB mengatakan keputusasaan dan penderitaan di antara anak-anak pengungsi Rohingya menjadi keprihatinan besar.

Badan PBB itu melaporkan, lebih dari setengah juta anak hanya punya kesempatan kecil untuk mendapat pendidikan yang layak untuk mempelajari keterampilan dasar yang mereka butuhkan untuk menjalani hidup.

Anak-anak Rohingya menikmati lebaran Idul-Adha di Kutupalong dengan bermain wahana hiburan "kincir ria" yang diputar dengan tenaga manusia.

Penasihat Komunikasi Senior UNICEF, Simon Ingram mengatakan 140.000 anak terdaftar di sekolah. Namun sangat sedikit peluang pendidikan yang tersedia untuk remaja, dan mereka frustrasi tentang masa depan mereka.

β€œIni jelas sesuatu yang sangat berbahaya bagi mereka, untuk diri mereka, untuk masa depan mereka, dan untuk masa depan jangka panjang warga Rohingya. Jadi, kita benar-benar berbicara tentang satu generasi anak-anak Rohingya yang pendidikan dan harapannya untuk mempelajari keterampilan dasar yang mereka butuhkan untuk bekal kesuksesan hidup mereka, untuk mencapai apapun dalam hidup mereka dan yang bisa disumbangkan untuk masa depan komunitas mereka, berada dalam bahaya,” ujar Ingram.

Ingram mengatakan, keprihatinan bagi anak-anak di Cox's Bazar meluas ke sekitar 360.000 anak Rohingya yang hidup dalam keputusasaan di negara bagian Rakhine, di utara Myanmar.

UNICEF melaporkan, pihaknya berencana untuk meluncurkan kerangka pembelajaran baru bulan depan di kamp-kamp pengungsi yang dirancang untuk menyediakan pendidikan bermutu tinggi bagi anak-anak. Kurikulum itu akan mencakup kompetensi dalam membaca dan menulis, bahasa dan matematika, serta keterampilan hidup yang penting.

Tahap pertama dari program ini akan berfokus pada anak-anak TK dan SD. UNICEF mengatakan, pihaknya berharap dapat memberi kesempatan pendidikan bermutu tinggi bagi anak-anak sampai tingkat SMP pada akhir tahun. [ps/as]