Studi: Vaksin Ebola Tak Seampuh yang Diharapkan

  • Steve Baragona

Profesor Adrian Hill, direktur Jenner Institute di Oxford University dan kepala penelitian uji coba, memegang tabung vial berisi vaksin Ebola.

Studi itu menemukan bahwa respon-respon imunitas yang lebih rendah beberapa kali lipat pada manusia dibandingkan dengan yang terlihat dalam penelitian-penelitian terhadap monyet.

Salah satu vaksin Ebola yang akan diuji cobakan di Liberia kemungkinan tidak seampuh yang diharapkan para peneliti, menurut sebuah studi baru, yang menimbulkan pertanyaan sebaik apa vaksin itu dapat mencegah infeksi.

Vaksin tersebut, dikembangkan oleh GlaxoSmithKline, adalah salah satu dari dua uji coba klinis skala besar yang akan dimulai pada dua minggu mendatang. Vaksin satu lagi diproduksi oleh Merck.

Studi-studi awal menunjukkan bahwa satu dosis vaksin GSK dapat melindungi monyet dari Ebola.

Namun dalam sebuah studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine, “kami melihat respon-respon imunitas yang lebih rendah beberapa kali lipat dibandingkan dengan yang terlihat dalam penelitian-penelitian terhadap monyet tersebut," ujar salah satu peneliti Adrian Hill, direktur dari Jenner Institute di University of Oxford.

“Pertanyaan yang timbul adalah, apakah vaksin itu akan bekerja sama baiknya pada manusia seperti pada monyet? Jawaban singkatnya adalah, kami tidak tahu," tambahnya. "Namun itu adalah pertanyaan sama atas uji-uji coba di Liberia dan semua tempat yang harus dijawab."

Uji coba di Liberia akan menggunakan dosis vaksin yang lebih tinggi. Sebuah studi dari vaksin terkait yang diterbitkan pada November menunjukkan bahwa pasien-pasien yang diberikan dosis lebih tinggi membentuk respon kekebalan yang lebih kuat. Monyet dengan respon yang dapat dibandingkan terlindung dari infeksi.

Vaksin Merck tersebut juga telah melalui uji-uji awal, namun data dari studi-studi tersebut belum diterbitkan.

Para peneliti bergerak pada kecepatan tinggi untuk mengembangkan vaksin untuk mengatasi wabah Ebola yang belum pernah ada sebelumnya yang terpusat di Liberia, Guinea dan Sierra Leone. Lebih dari 22.000 orang telah terinfeksi dan hampir 9.000 orang tewas.

Menurunnya jumlah infeksi baru adalah kabar baik bagi petugas kesehatan, namun membuat lebih sulit lagi untuk menentukan efektivitas vaksin.