Selepas Kunjungan Ketua DPR AS, Taiwan Dikepung Rudal China

Militer China melakukan uji coba "serangan rudal presisi" di Selat Taiwan pada hari Kamis (4/8) sebagai bagian dari latihan militer yang telah meningkatkan ketegangan di kawasan itu ke tingkat tertinggi dalam beberapa dekade. (CCTV melalui AP)

Ketua DPR AS Nancy Pelosi telah meninggalkan Taiwan, namun dampak kunjungannya ke wilayah itu masih berlanjut. China pada Kamis (4/8) mengintensifkan latihan militernya di sekitar pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu.

Rudal-rudal China ditembakkan ke arah perairan di lepas pantai Taiwan. Media pemerintah China mengatakan, rudal-rudal itu mendarat di beberapa zona tembakan langsung yang sudah ditentukan.

Salah satu zona tersebut berjarak kurang dari 20 kilometer dari pantai Taiwan.

Pihak berwenang Taiwan mengatakan, China menembakkan 11 rudal pada hari Kamis, menandai latihan militer China yang terbesar dan paling provokatif di Selat Taiwan.

Your browser doesn’t support HTML5

Negara-Negara ASEAN Serukan AS-Tiongkok Menahan Diri

Akan tetapi, juru bicara Kementerian Luar Negeri China justru menyalahkan AS atas ketegangan tersebut.

Hua Chunying, juru bicara Kemenlu China, mengatakan, “Akankah ini menjadi kenormalan baru? Hal itu bergantung pada langkah-langkah yang diambil pihak AS dan pasukan separatis kemerdekaan Taiwan.”

China marah atas kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan, yang berakhir hari Rabu (3/8). Beijing memandang lawatan itu sebagai tantangan terhadap klaimnya atas pulau itu.

AS mengatakan, Beijing sengaja meningkatkan ketegangan.

BACA JUGA: Blinken: AS Menentang Upaya untuk Ubah Status Taiwan

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menuturkan, “Saya ingin menekankan bahwa tidak ada yang berubah dari posisi kami (AS) dan saya sangat berharap Beijing tidak akan membuat-buat krisis atau mencari-cari alasan untuk meningkatkan aktivitas militernya yang agresif.”

Di Taipei, kehidupan berjalan seperti biasa. Warga di wilayah itu mengatakan mereka sudah puluhan tahun menghadapi ancaman China.

Kao Tsun-chi, salah seorang warga Taipei, mengatakan, “Perpecahan antara Taiwan dan China telah ada selama tujuh dekade. Usia saya sekarang 73 tahun. Kami tumbuh besar dengan ancaman China, yang mencakup serangan verbal dan intimidasi militer. China sudah lama membahas pembebasan Taiwan dan berakhir dengan pertumpahan darah. Kami sudah terbiasa dengan segala macam intimidasi.”

Your browser doesn’t support HTML5

Selepas Kunjungan Ketua DPR AS, Taiwan Dikepung Rudal China

Sementara itu, Chen Kuang-ting, dari Taiwan NextGen Foundation mengatakan, “Kami akan melanjutkan kehidupan normal kami – kebanyakan warga Taiwan akan melanjutkan kehidupan normal mereka. itulah cara terbaik untuk menyinggung ataupun menentang China.”

Meskipun China mengklaim Taiwan, mayoritas mendukung dipertahankannya kondisi saat ini. Sebuah jajak pendapat tahun lalu menunjukkan bahwa hanya 1,6 persen warga yang mendukung penyatuan kembali Taiwan dengan China daratan. [rd/lt]