SBY: Indonesia Kehilangan Tokoh Pers Segala Zaman

  • Wella Sherlita

Jurnalis serba bisa, Rosihan Anwar, meninggal dunia pada usia 88 tahun akibat serangan jantung, Kamis (14/4).

Wartawan senior Rosihan Anwar pergi meninggalkan jejak sejarah, serta berbagai pemikiran kritis bagi masyarakat, media massa dan pemimpin bangsa.

Omar Luthfi Anwar, putra kedua almarhum Rosihan Anwar, mengatakan tidak ada firasat apapun menjelang berpulangnya sang ayah. Apalagi, wartawan senior yang masih aktif menulis itu, memang sempat menjalani operasi by-pass jantung, di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta, pada 24 Maret lalu, dan dirawat sekitar dua minggu. Namun, jurnalis asal Sumatera Barat ini meninggal dunia akibat serangan jantung, Kamis pagi. Ia menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan menuju rumah sakit.

"Beliau sudah lama sakit, bahkan sudah membaik. Kaami pikir sudah tidak ada yang serius lagi. Ternyata baru sehari di rumah (setelah diopname karena operas), sempat tersedak terus meninggal,” uajr Omar Luthfi.

Rosihan tidak meninggalkan pesan khusus kepada keluarganya. Hanya saja, kata Luthfi, ada satu buku yang sudah selesai ditulis dan siap diterbitkan. Buku itu adalah tentang kisah cintanya dengan sang istri, Siti Zuraida binti Moh Sanawi, yang wafat pada September 2010.

Ratusan pelayat dari beragam latar belakang bergantian memenuhi rumah duka di Jalan Surabaya 13 Menteng, Jakarta Pusat, sejak pagi hingga menjelang pemakaman pukul 16.00 WIB. Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono juga sempat hadir, beserta sejumlah menteri.

Kepada para wartawan, Presiden mengaku Indonesia sangat kehilangan atas kepergian tokoh pers dan budayawan segala zaman ini. “Banyak hal yang sudah beliau lakukan untuk negeri ini. Kalau kita lihat perjalanan hidup almarhum itu benar-benar mengalami pasang surut sejarah, dari sejak penjajahan, era Soekarno, Soeharto, dan era reformasi. Beberapa kali terhadap saya beliau juga kritis, tetapi kami bersahabat. Beberapa kali kami bertemu, terakhir di Istana Negara. Pemikiran kritis beliau disertai tanggungjawab dan niat yang baik,” kenang Presiden.

Rosihan Anwar lahir di Kubang Nan Duo, Solok, Sumatera Barat, 10 Mei 1922. Ia menempuh pendidikan dasar dan menengah di Padang dan Jogjakarta, kemudian mengikuti pelatihan drama di Universitas Yale, Amerika Serikat tahun 1950, serta menempuh kuliah jurnalistik di Columbia University, New York, AS mulai tahun 1954.

Pemimpin redaksi harian Pedoman ini adalah wartawan yang menyaksikan pergantian rezim dan penjajahan di Indonesia dari dekat. Salah satu rekan Rosihan, Ajip Rosidi, mengatakan kepada VOA, bahwa meskipun pandai melobi narasumber dan dekat dengan para pemimpin, Rosihan tidak luput dari serangan balik karena kritikan tajamnya.

Akibatnya, harian Pedoman sempat dibredel dua kali; di masa Soekarno dan kemudian di era Soeharto, terkait liputan peristiwa Malari tahun 1974 ketika para mahasiswa berdemonstrasi menyambut kedatangan Perdana Menteri Jepang, Tanaka, ke Jakarta. Peristiwa ini masih dikenang oleh Lutfhi Anwar.

“Di masa-masa kami susah itu ketika koran Pedoman dibredel, itu paling susah tapi alhamdulillah ya beliau bisa bekerja di bidang-bidang lain di luar jurnalistik. Beliau ‘kan suka seni, perfilman, dan budaya. Secara politik, beliau memang berseberangan dengan Bung Karno, tetapi secara pribadi tidak,” tutur Luthfi.

Rosihan Anwar dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Ia meninggalkan tiga anak, enam cucu, dan dua cicit. Di usia senjanya, ia masih aktif menulis untuk berbagai media.

Di kalangan wartawan muda, Rosihan dikenal sebagai tokoh senior yang tidak pernah bosan mengingatkan supaya wartawan rajin membaca dan tidak malas melakukan riset data.