Rasialisme, Kekerasan Senjata di AS Kejutkan Dunia

  • Associated Press

Para jemaat Gereja Episkopal Metodis Afrika Emanual tiba untuk menghadiri kebaktian pertama sejak penembakan massal di gereja tersebut (21/6). (Reuters/Brian Snyder)

Serangan di Charleston menguatkan persepsi bahwa orang-orang Amerika memiliki terlalu banyak senjata dan belum mengatasi ketegangan rasial.

Sering menjadi sasaran tuduhan pelanggaran hak asasi manusia oleh AS, China tidak membuang-buang waktu membalas tuduhan itu menyusul penembakan massal di sebuah gereja bersejarah di South Carolina, yang menewaskan sembilan orang.

Di wilayah lain di seluruh dunia, serangan itu menguatkan persepsi bahwa orang-orang Amerika memiliki terlalu banyak senjata dan belum mengatasi ketegangan rasial.

Beberapa mengatakan serangan itu membuat mereka semakin ragu dengan keamanan pribadi di AS, terutama untuk orang asing non-kulit putih, sementara yang lain masih merasa aman berkunjung.

Terutama di Australia dan Asia timur laut, di mana senjata api sangat dikontrol dan kasus kekerasan senjata hampir tidak terdengar, banyak yang bingung dengan keteguhan banyak orang Amerika untuk memiliki senjata meski berulang kali ada penembakan massal. Salah satunya adalah tragedi tahun 2012 di Sekolah Dasar Sandy Hook di Newtown, Connecticut, di mana seorang pria bersenjata membunuh 20 anak-anak dan enam orang dewasa.

"Kami tidak paham kebutuhan Amerika untuk memiliki senjata," ujar Philip Alpers, direktur proyek GunPolicy.org di University of Sydney, yang membandingkan aturan-aturan senjata di seluruh dunia. "Ini sangat membingungkan bagi orang-orang non-Amerika."

Sebagai negara perbatasan seperti AS, Australia memiliki sikap sama terhadap senjata sebelum penembakan massal tahun 1996 yang menewaskan 35 orang. Tak lama setelahnya, pembatasan ketat untuk kepemilikan senjata diberlakukan dan tidak ada insiden lagi dilaporkan sejak itu.

Dampak serupa telah terlihat di negara lain.

"AS betul-betul salah langkah dibandingkan dengan negara-negara lain. Kita telah memperketat aturan senjata dan melihat adanya pengurangan (kasus kekerasan bersenjata)," ujar Claire Taylor, direktur media dan kehumasan di Gun Free South Africa.

Rasialisme

Ahmad Syafi'i Maarif, cendekiawan Muslim Indonesia dan mantan ketua Muhammadiyah, mengatakan penembakan gereja itu mengejutkan banyak pihak.

"Orang-orang di seluruh dunia yakin rasialisme telah dihapuskan dari AS ketika Barack Obama terpilih untuk memimpin negara adikuasa itu, dua kali," ujarnya.

"Tapi penembakan di Charleston mengingatkan kita kembali bahwa faktanya, benih-benih rasialisme masih ada dan tertanam di hati komunitas-komunitas kecil di sana, dan dapat meledak kapan saja, seperti aksi teroris oleh seorang individu."

Banyak wilayah di dunia yang menghadapi masalah rasialisme dan prasangka terhadap orang asing, namun penembakan massal di AS, di mana amandemen kedua Konstitusi melindungi hak menyimpan dan menggunakan senjata, seringkali mendapat perhatian global secara luas.

"Senjata ada di konstitusi mereka," ujar Joanna Leung, 34, seorang warga Toronto. "Saya cukup yakin tidak ada negara lain memiliki aturan yang serupa. Saya tidak pernah paham mengapa mereka merasa kekerasan bersenjata akan mengatasi semuanya."

Di Inggris, serangan itu memperkuat pandangan bahwa Amerika memiliki terlalu banyak senjata dan terlalu banyak orang rasis. Berita utama halaman depan koran The Independent berjudul singkat, "Aib Amerika."

Surat kabar itu mengatakan dalam tajuknya bahwa Amerika kelihatannya telah mundur dalam hal hubungan ras sejak terpilihnya Obama, dan "penyebaran senjata yang parah hanya memperbesar tragedi-tragedi" seperti penembakan di gereja.

Koran berhaluan kiri di Mexico City, La Jornada mengatakan, AS telah menjadi "negara penuh kekerasan secara struktural" di mana kekuatan seringkali digunakan dalam upaya domestik dan internasional untuk mengatasi perbedaan.

Di China, kantor berita resmi Xinhua mengatakan kekerasan di South Carolina "mencerminkan tidak adanya tindakan pemerintah AS atas kekerasan bersenjata yang meluas dan meningkatnya kebencian rasial di negara tersebut."

"Kecuali Presiden AS Barack Obama betul-betul mengatasi isu-isu mengakar seperti diskriminasi rasial dan ketimpangan sosial dan mengambil tindakan konkret atas kontrol senjata, tragedi semacam itu sulit dicegah untuk bisa terulang," tulis Xinhua dalam tajuk beritanya.

Syafi'i Maarif mengatakan ia berharap insiden itu akan membantu rakyat Amerika untuk berhenti menyamakan terorisme dengan Islam.

"Terorisme dan radikalisme dapat muncul di setiap strata masyarakat dengan aneka topeng dan atas nama etnisitas, agama dan ras," ujarnya.