India dan Korsel Hadapi Krisis Tenaga Listrik

  • Anjana Pasricha

Pemadaman listrik di India bukan hal baru. Penggunaan listrik yang lebih besar dari biasanya di sejumlah negara bagian dinilai sebagai penyebab pemadaman listrik.

India mengalami krisis tenaga listrik terburuk yang menyebabkan lebih dari 650 juta orang tanpa listrik. Kekhawatiran yang sama juga terjadi di Korea Selatan.
India mengalami hari kedua gangguan tenaga listrik yang besar yang mempengaruhi hampir separuh negara tersebut. Ini adalah krisis tenaga listrik yang terburuk yang menyebabkan lebih dari 650 juta orang tanpa listrik. Sementara itu terdapat kekhawatiran bahwa Korea Selatan juga akan mengalami nasib yang sama.

Sistem transportasi India berhenti untuk hari kedua, karena kereta-kereta api terhenti dan sinyal lalu lintas macet - para penumpang terlantar demikian juga para supir.

Tiga jaringan listrik gagal hari Selasa, dengan pemotongan tenaga listrik dari wilayah utara Kashmir sampai ke negara bagian Assam di wilayah selatan. Lampu-lampu padam untuk waktu lama di kota-kota besar seperti ibukota New Delhi dan kota di bagian timur Kolkata segera setelah pukul 13:00 waktu setempat.

Ini adalah hari kedua India mengalami pemadaman - tetapi kali ini berakibat sampai ke wilayah yang jauh lebih besar di negara tersebut. Pada hari Senin, pemadaman terjadi di tujuh negara bagian di wilayah utara, menyebabkan lebih dari 300 juta orang tanpa listrik selama hampir sepuluh jam. Pada hari Selasa, lebih dari dua belas negara bagian terkena.

Menteri Tenaga Listrik Sushilkumar Shinde menyalahkan padamnya aliran listrik disebabkan karena adanya negara - negara bagian yang menggunakan lebih banyak listrik dari biasanya.

Shinde mengatakan sebabnya adalah adanya penggunaan listrik yang lebih besar dari seharusnya di banyak negara bagian. Ia telah memerintahkan para petugas untuk mendapatkan daya listrik dari wilayah barat dan beberapa tempat lainnya. Pengaturan alternatif juga telah dilakukan.

Ia juga menambahkan bahwa negara-negara bagian yang menggunakan daya listrik lebih dari biasanya akan dikenai sanksi

Para pejabat mengatakan musim panas yang panjang, pendeknya musim hujan, mengakibatkan meningkatnya permintaan tenaga listrik oleh petani di daerah pedesaan dan penduduk kota menghidupkan AC mereka jauh lebih lama dari biasanya.

Kegagalan listrik besar selama dua hari berturut-turut telah menyorot defisit listrik di India. Para analis telah lama mengatakan bahwa suplai tenaga listrik gagal mengikuti lajunya pertumbuhan ekonomi dan populasi. Akibatnya, pemadaman selama beberapa jam setiap harinya menjadi hal rutin di negara itu.

Namun tidak adanya listrik sama sekali selama dua hari belum pernah terjadi sebelumnya.

Bekas penasihat pemerintah mengenai sumber daya listrik, V. Raghuraman, mengatakan India dapat menghasilkan listrik lebih banyak, tetapi pembangkit listrik banyak yang tidak aktif karena tidak punya bahan bakar.

“Sektor swasta telah memperbesar kapasitas listriknya. Namun karena tidak cukupnya batubara dan gas alam, listrik tidak bisa dibangkitkan,” ujar Raghuraman.

Para pengamat mengatakan kurangnya infrastruktur yang memadai menghambat pertumbuhan ekonomi dan penanam modal, alam maupun luar negeri.

Sementara itu, Korea Selatan memperingatkan kemungkinan kurangnya tenaga listrik pada pertengahan bulan Agustus, yaitu pada saat berakhirnya musim liburan dan permintaan diperkirakan akan memuncak. Pada masa itu, empat dari 23 reaktor nuklir Korea Selatan tampaknya masih akan tidak bekerja.

Korea Selatan tergantung pada reaktor nuklir untuk menghasilan lebih dari sepertiga kebutuhan listriknya.