Presiden Putin Janjikan Kerjasama dengan Perancis dalam Perang Melawan ISIS

Persiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Perancis Francois Hollande dalam jumpa pers di Kremlin, Moskow (26/11).

Hari Kamis (26/11) Rusia mengumumkan bahwa pasukannya telah menyapu bersih kelompok-kelompok pemberontak Suriah yang beroperasi di sepanjang perbatasan dengan Turki yang terletak dekat lokasi di mana jet Rusia ditembak jatuh pekan ini.

Presiden Perancis Francois Hollande telah memperoleh janji Presiden Rusia Vladimir Putin untuk bekerjasama memerangi militan Negara Islam (ISIS).

Hollande berbicara dengan Putin di Moskow, Kamis sore (27/11) waktu setempat setelah mengadakan pertemuan serupa dengan para pemimpin Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Italia. Reporter VOA Zlatica Hoke melaporkan rencana presiden Perancis untuk menjalin aliansi yang lebih kuat untuk melawan kelompok teroris itu telah diperumit oleh ketegangan antara Turki dan Rusia.

Presiden Perancis Francois Hollande mengatakan, jelas bahwa terorisme itu musuh bersama dunia beradab.

"Kita tahu, kelompok teroris itu punya nama. Namanya Daesh, Negara Islam. Mereka punya wilayah, pasukan dan sumber daya. Jadi, kita harus membuat koalisi besar, sebagaimana yang saya bicarakan, untuk menghantam para teroris ini," katanya.

Presiden Rusia Vladimir Putin telah menjanjikan kerjasamanya. Namun, masalah Moskow dalam konflik Suriah dengan salah satu anggota NATO, Turki, menyulitkan upaya Hollande. Setelah Turki menembak jatuh sebuah jet Rusia, Putin menuduh Turki membeli minyak yang membantu pendanaan ISIS.

"Sejumlah orang tertentu terus mengantungi ratusan juta dan miliaran dolar," kata Putin.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan segera menanggapi pernyataan Presiden Putin itu. "Anda seharusnya membahas masalah ini dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad yang selama ini Anda dukung. Karena ISIS menjual minyak ke Assad dan ISIS mendapat dana dari dia. Sumber keuangan ISIS jelas," jawab Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Hari Kamis (26/11) Rusia mengumumkan bahwa pasukannya telah menyapu bersih kelompok-kelompok pemberontak Suriah yang beroperasi di sepanjang perbatasan dengan Turki yang terletak dekat lokasi di mana jet Rusia ditembak jatuh pekan ini. Pengeboman ini, kata analis Peter Seltov dari National Defense University, kemungkinan akan membuat Turki lebih marah.

"Sulit untuk mengatakan apa yang lebih penting bagi mereka, bagi agenda politik mereka, bagi masalah domestik mereka,karena jelas, contohnya, Erdogan memanfaatkan nasionalisme seperti halnya Putin memanfaatkannya untuk agenda domestiknya, untuk popularitasnya dalam pemilu, untuk segalanya," lanjutnya.

Selain itu, kata Peter Seltov, Putin ingin menanam bibit perpecahan di antara sesama anggota NATO.

"Ini adalah strategi yang sedang diusahakannya akhir-akhir ini, dan khususnya setelah serangan di Paris," kata Peter Seltov.

Dalam kunjungan Hollande ke Washington Selasa lalu,Presiden Barack Obama mengatakan, Rusia bisa memainkan peran yang lebih konstruktif jika negara itu mengubah fokus serangannya untuk mengalahkan ISIS. [ab/lt]