Pesawat Bertenaga Surya Berangkat Keliling Dunia

Pesawat bertenaga surya 'Solar Impulse 2' setelah lepas landas dari Bandara Eksekutif Al Bateen di Abu Dhabi Emirates (9/3).

Sebuah pesawat bertenaga surya buatan Swiss berangkat meninggalkan Abu Dhabi Senin (9/3) pagi untuk menempuh tahapan pertama penerbangan yang diharapkan menjadi penerbangan keliling dunia pertama tanpa menggunakan bahan bakar.

Pesawat berkursi tunggal Solar Impulse 2 dari bahan serat karbon ini memiliki lebar sayap 72 meter, lebih lebar dari Boeing 747, namun beratnya setara dengan berat sebuah mobil. Tak kurang dari 17.000 panel surya yang ditanamkan di sayapnya menyerap sambil menyimpan tenaga matahari, memungkinkan pesawat untuk tetap terbang di malam hari.

"Solar Impulse ingin membangkitkan antusiasme masyarakat akan teknologi yang akan mampu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan menciptakan citra positif bagi sumber energi yang dapat diperbarui," menurut pernyataan dalam situs resmi penerbangan ini, www.solarimpulse.com. Peta penerbangan dan siaran audio dari kokpit dapat disimak langsung dalam situs tersebut.

Dibutuhkan waktu 12 tahun untuk membangun Si2, yang dirancang dua ilmuwan Swiss, Bertrand Piccard dan Andre Borschberg.

Borschberg, yang menjadi pilot Si2 Senin, adalah CEO Solar Impulse. Ia terlatih sebagai pilot pesawat tempur dan berpengalaman sebagai pilot pesawat profesional dan helikopter. Ia and Piccard akan bergantian menerbangkan Solar Impulse.

Piccard adalah seorang psikiatris, penjelajah dan penerbang yang mencatat sejarah sebagai orang pertama yang melakukan penerbangan keliling dunia non-stop dengan balon

Kedua pilot dan ilmuwan ini mengatakan mereka tidak berniat merevolusi industri aviasi, tapi bermaksud menunjukkan bahwa sumber energi alternatif dan teknologi baru dapat mencapai apa yang dipandang mustahil.

"Keajaiban dapat dicapai dengan energi yang dapat diperbarui dengan tenaga matahari," ujar Bertrand Piccard, yang terbang keliling dunia non-stop dengan balon pada tahun 1999, kepada Reuters di bulan Januari.

"Kami ingin menunjukkan kami bisa terbang siang dan malam dengan pesawat tanpa setetes pun bahan bakar," katanya.

Sebagian dari perjalanan dengan Si2 ini mengharuskan pilot untuk berada di dalam kokpit mungil selama 5-6 hari berturut-turut. Karena pilot tidak akan dapat beranjak dari kursi selama durasi tersebut, kursi pilot dapat direbahkan saat pilot harus beristirahat, selain juga berfungsi sebagai toilet.

Pesawat ini akan singgah di Oman, India, Myanmar dan China. Setelah melintasi Samudera Pasifik lewat Hawaii, pesawat akan berhenti tiga kali di AS, mendarat di Phoenix, Arizona dan New York, dan mungkin satu lokasi lagi tergantung pada kondisi cuaca.

Setelah melintasi Samudera Atlantik, Si2 akan berhenti di Eropa selatan atau Afrika Utara sebelum tiba kembali di Abu Dhabi di penghujung bulan Juli atau awal Agustus.

Sebagian materi untuk laporan ini berasal dari Reuters