Perancis: Memata-matai Sesama Sekutu Tak Dapat Dibenarkan

WikiLeaks mengatakan bahwa Badan Keamanan Nasional AS (NSA) memata-mematai 3 Presiden Perancis, dari kiri: Jacques Chirac, Nicolas Sarkozy, dan Presiden Francois Hollande (foto: dok).

Gedung Putih hari Rabu (24/6) mengatakan, pihaknya tidak menyasar komunikasi Presiden Hollande dan tidak akan berbuat demikian.

Juru bicara pemerintah Perancis, Stephan Le Foll hari Rabu (24/6) menerangkan kepada wartawan di Paris bahwa "mendengarkan secara rahasia pembicaraan orang" tidak dapat dibenarkan di antara negara-negara sekutu.

Presiden Perancis Francois Hollande mengadakan rapat dengan team keamanannya setelah WikiLeaks mengeluarkan dokumen menyatakan bahwa Badan Keamanan Nasional AS (NSA) memata-mematainya dan dua presiden pendahulunya.

Juru bicara itu mengatakan, sulit dibayangkan apa yang menggerakkan satu sekutu memata-matai sekutu lainnya, terutama jika keduanya sedang memerangi terorisme.

Dokumen yang dikeluarkan WikiLeaks bekerjasama dengan suratkabar Prancis Liberation serta website penyelidik Mediapart mengatakan, pemerintah Amerika mendengarkan pembicaraan telepon Presiden Hollande, Nicolas Sarkozy dan Jacques Chiraq. Belum ada konfirmasi tentang kebenaran dokumen itu.

Gedung Putih mengatakan, pihaknya tidak menyasar komunikasi Presiden Hollande dan tidak akan berbuat demikian. Juru bicara NSA Ned Price mengatakan, pemerintahan Obama tidak melakukan kegiatan mata-mata di luar negeri kecuali kegiatan itu mempunyai "tujuan kepentingan nasional tertentu dan sah" - sebuah standar yang katanya berlaku bagi pemimpin dunia dan warga biasa.

"Kami bekerja erat dengan Perancis dalam semua hal yang menyangkut kepentingan internasional dan Perancis adalah mitra yang tidak dapat diabaikan," kata Price.

Namun, juru bicara NSA itu tidak menanggapi apakah Amerika pernah memata-matai Presiden Hollande dan pendahulunya pada masa-masa lalu.