Peran Mumi dalam Pengobatan Modern

  • Budi Setiawan

Mumi dari zaman Mesir Kuno membantu para pakar meneliti penyakit masa lalu untuk mencegah penyakit di masa kini dan mendatang.

Mumi telah menjadi inspirasi puluhan film horor Hollywood dan merupakan gambaran ke masa lampau bagi para arkeolog. Tapi, ahli mumi terkenal mengatakan tubuh yang diawetkan sebenarnya memiliki peran yang penting dalam dunia modern, yaitu membantu para dokter memahami penyakit yang menjangkiti manusia selama ribuan tahun.

Pada tahun 2005, saat Frank Ruhli hendak menyelidiki penyebab meninggalnya Firaun Mesir Kuno yang tersohor, Raja Tut, Ruhli menggunakan alat pemindai tubuh.

Menurut Ruhli, teknologi baru untuk memindai beberapa penumpang pesawat untuk mengetahui ada tidaknya bahan peledak, kini dapat pula diterapkan untuk menghasilkan informasi lebih banyak lagi untuk bidang arkeologi.

"Dengan mengaplikasi teknologi ini di atas teknologi lainnya, ini akan membantu kita untuk melihat sebuah spesimen itu secara berbeda. Teknologi ini juga tidak menggunakan bahan radiasi, yang secara teoritis paling tidak bisa memusnahkan sisa DNA pada mumi tersebut," ujar Ruhli.

Ruhli menambahkan, "Dengan menggunakan alat pemindai berkapasitas Terahertz atau satu trilyun hertz, kita dapat melihat zat-zat dalam mumi itu, umpamanya cairan yang digunakan untuk membalsem mumi. Dengan cara itu kita dapat melakukan semacam analisis senyawa yang tidak dapat kita lakukan dengan sinar rontgen yang konvensional."

Alat pemindai Terahertz juga dikenal sebagai pemindai seluruh tubuh.

Proses mumifikasi membuat bakteri dan virus jenazah tidak membusuk.

Ruhli dan periset setimnya di Institut Mumi Swiss baru saja menyelesaikan studi kelayakan yang pertama mengenai cara menggunakan teknologi ini untuk menyingkap rahasia mumi, tanpa merusak kondisi mumi. Ia mengatakan beberapa gambar yang mereka kumpulkan dengan alat pemindai Terahertz sangat menjanjikan, dan hasilnya menarik tidak hanya bagi sejarahwan.

"Orang sekarang semakin banyak menyadari fakta, bahwa bila kita ingin mengetahui lebih mengenai obat atau bagaimana cara mengobati pasien dengan segala isu kesehatan, kita juga harus melihat ke masa lalu," kata Ruhli.

Mumi paling terkenal berasal dari Mesir, dengan dicapai dengan mengeringkan jenazah secara hati-hati dengan garam, dirawat dengan minyak dan damar, lalu dibungkus dengan kain linen sebelum dimasukkan dalam peti mati.

"Ada beberapa kondisi yang sebenarnya menghasilkan pengawetan mayat secara alami. Biasanya ini merupakan kombinasi suhu dan aliran udara. Bahkan dalam jaman modern, kita bisa mendapati bahwa orang yang terbaring di apartemen selama sepuluh tahun setelah meninggal dan menjadi mumi, karena aliran udara dan suhu tertentu yang mendukung proses pengawetan mayat, " jelas Ruhli.

Bagaimanapun caranya terjadi, proses mumifikasi itu dilakukan dengan mengawetkan jaringan lunak tubuh agar tidak membusuk. Dan bersamaan dengan cara itu, virus atau bakteri orang meninggal tadi juga tidak membusuk.

Selain sebagai ahli penyakit purbakala, Ruhli juga seorang dokter umum. Ia mengatakan melihat kembali ke masa lampau dapat membantu para peneliti melihat ke depan dalam menyingkap bagaimana penyakit berkembang lama-kelamaan. Mereka bahkan dapat memetakan kode genetik patogen yang berubah dari generasi ke generasi.

Ruhli mengatakan para periset menggunakan teknik itu untuk mempelajari evolusi bakteri TBC dari jaringan mumi berumur 2.000 tahun ke bakteri zaman modern. Dan para periset telah melakukan penelitian serupa pada penyakit flu Spanyol tahun 1918.

"Fakta bahwa jaringan itu diawetkan lebih dari beberapa dekade membantu kami untuk mengetahui lebih banyak lagi mengenai penyakit di masa lalu dan sebenarnya kelak membantu untuk mencegah jenis penyakit-penyakit tersebut di masa mendatang," kata Ruhli.

Selagi para dokter sibuk menangani penyakit flu H1N1, beberapa studi seperti ini terbukti bisa bermanfaat.

Ruhli mengatakan riset seperti itu tidak mungkin menggantikan studi klinis modern. Tapi dia mengatakan dengan mengkaji masa lalu dapat ikut member pengertian lebih dalam yang mungkin tidak terlihat oleh para periset.