Peran Barbershop Mendorong Warga Kulit Hitam AS Sadar Bahaya Covid-19

Barbershop ikut berperan dalam mendorong warga kulit hitam AS sadar bahaya Covid-19 (ilustrasi).

Warga kulit hitam AS diperkirakan hampir empat kali lebih berisiko meninggal dunia akibat Covid-19 dibandingkan warga kulit putih.

Akan tetapi, jajak pendapat menunjukkan bahwa lebih banyak warga kulit hitam yang mengatakan mereka tidak akan memvaksin diri mereka ketika vaksin Covid-19 tersedia.

Sejarah rasisme dalam dunia kedokteran menyebabkan kepercayan terhadap sistem kesehatan lebih rendah di kalangan warga Amerika keturunan Afrika. Untuk membantu mengatasi masalah itu, pejabat kesehatan meminta bantuan institusi yang dihormati komunitas warga kulit hitam: barbershop alias tempat pangkas rambut.

Barbershop, alias tempat pangkas rambut, jadi 'tempat berlindung' warga kulit hitam AS sejak dulu.

Fred Spry membuka barbershop atau tempat pangkas rambut di utara kota Washington, DC. Ia mengaku dekat dengan para pelanggannya. “Kebanyakan pelanggan saya adalah teman dan keluarga sendiri. Dan bila mereka bukan teman atau keluarga, mereka akan menjadi teman dan keluarga saya setelah saya mengenal mereka.”

Hubungan akrab antara pemangkas rambut dan pelanggan mengakar jauh dalam kebudayaan warga Amerika keturunan Afrika.

Stephen Thomas, yang mengepalai Pusat Keadilan Kesehatan di Universitas Maryland, menuturkan, “Sepanjang sejarah, tempat pangkas rambut warga kulit hitam telah menjadi tempat mencari perlindungan. Barbershop itu seperti tempat yang sakral.”

Rasa saling percaya antara klien dan pemangkas rambut jadi jembatan mengedukasi warga.

Menurutnya, hubungan atas dasar rasa saling percaya itu menjadi sangat penting selama pandemi Covid-19, karena kepercayaan terhadap dokter amat rendah di kalangan warga kulit hitam.

“Bagi banyak warga Amerika keturunan Afrika, merupakan sebuah tradisi turun temurun untuk tidak mempercayai orang berjas putih yang datang ke lingkunganmu dengan dalih mau membantu,” imbuh Thomas.

Barbershop di AS ikut menyesuaikan diri di tengah pandemi Covid-19 (foto: ilustrasi).

Thomas mengatakan bahwa tradisi itu mengakar akibat praktik rasisme selama berabad-abad, termasuk eksperimen medis yang tidak tak etis terhadap warga kulit hitam.

Meskipun warga kulit hitam Amerika yang berisiko meninggal dunia akibat Covid-19 lebih banyak daripada warga kulit putih, Thomas menuturkan bahwa mereka justru lebih skeptis terhadap vaksin.

Akan tetapi, Thomas punya rencana untuk membangun kepercayaan mereka.

Satu yang pasti, ia ingin tempat pangkas rambut warga kulit hitam menawarkan tes Covid-19. Selama lebih dari sepuluh tahun, Thomas mengajak para pemangkas dan penata rambut untuk mengadvokasi isu-isu kesehatan.

Your browser doesn’t support HTML5

Peran Barbershop Untuk Mendorong Warga Kulit Hitam AS Sadar Bahaya Covid-19

Mereka telah membantu mengedukasi para pelanggan tentang berbagai masalah kesehatan, seperti HIV, penyakit jantung dan kanker, di mana lebih banyak kelompok minoritas mengidapnya.

Penelitian menunjukkan cara itu berhasil. Fred Spry mengatakan bahwa ketika salah satu pelanggannya menjalani pemeriksaan potensi kanker, sang dokter menemukan sebuah tumor dan langsung mengangkatnya. “Rasanya senang karena saya mungkin telah menyelamatkan nyawanya dan mungkin juga keluarganya, karena tidak harus berduka lebih awal dari yang seharusnya.”

Stephen Thomas, Kepala Pusat Keadilan Kesehatan di Universitas Maryland.

Thomas ‘mempersenjatai’ jaringan pemangkas dan penata rambutnya dengan fakta-fakta seputar Covid-19 untuk memerangi misinformasi. Dan seiring mendekatnya musim flu yang bisa memperparah pandemi, Thomas ingin mereka mendorong para pelanggan untuk segera disuntik vaksin flu.

“Kita harus fokus ke sana sekarang, alasan kenapa orang-orang tidak disuntik vaksin flu mungkin sama seperti alasan kenapa mereka tidak mau divaksin Covid-19 kalau nanti sudah tersedia. Rasa takut. Rasa tidak percaya,” tukasnya.

Itu semua bisa berubah dengan satu cukuran jenggot atau cukuran rambut, disertai nasihat dari seseorang yang mereka percayai. [rd/jm]