Aktivis Perdagangan Manusia Asal Indonesia Bicara di Konvensi Partai Demokrat

Ima Matul Maisaroh, penyintas dan aktivis anti-perdagangan manusia saat berbicara di Gedung Putih. (Foto: Dok)

Ima bekerja sebagai aktivis di Koalisi untuk Menghilangkan Perbudakan dan Perdagangan Manusia (CAST), LSM yang didatanginya ketika ia melarikan diri dari penyiksaan tahun 2000.

Penyintas dan aktivis anti-perdagangan manusia asal Indonesia, Ima Matul Maisaroh, berharap calon presiden Partai Demokrat Hillary Clinton bisa benar-benar mengakhiri perdagangan manusia.

“Ketika isu perdagangan manusia belum lagi menarik perhatian kita, sebelum ada aturan hukum untuk mengidentifikasi dan melindungi korban, bahkan sebelum saya melarikan diri dari orang yang memperdagangkan saya, Hillary Clinton sudah berjuang untuk mengakhiri perbudakan modern ini," ujar Ima di hadapan ribuan hadirin Konvensi Nasional Partai Demokrat di Philadelphia, Pennsylvania, Selasa malam (26/7).

“Karena itu sebagai penyintas dan aktivis, saya berharap – terlebih karena Hillary Clinton kini bertarung untuk menjadi presiden Amerika – bisa mengakhiri perdagangan manusia."

Ima, perempuan asal desa Gondanglegi, Malang, Jawa Timur, pernah menjadi korban perdagangan manusia. Ia masih belasan tahun ketika datang ke Los Angeles, Amerika, tahun 1997 karena ajakan untuk bekerja.

Orang yang merekrutnya berjanji akan mengurus semua biaya administrasi untuk mendapatkan paspor, visa dan tiket pesawat, serta mencarikannya pekerjaan. Ia juga dijanjikan memperoleh US$150 per bulan. Tetapi Ima Matul justru dijadikan pembantu rumah tangga yang bekerja lebih dari 12 jam sehari tanpa digaji.

Ketika ia angkat bicara memprotes perlakuan itu, ia malah disiksa. Tiga tahun Ima bertahan sebelum ia melarikan diri atas pertolongan pembantu tetangganya.

“Perdagangan manusia tidak hanya terjadi di luar Amerika. Hal ini juga terjadi di halaman belakang rumah kita," tegas Ima.

Kini Ima bekerja sebagai aktivis di Koalisi untuk Menghilangkan Perbudakan dan Perdagangan Manusia (CAST), lembaga swadaya masyarakat yang didatanginya ketika ia melarikan diri tahun 2000.

Berkat kerja keras dan perjuangannya, pada awal tahun ini Ima Matul dan rekannya Shandra Woworuntu, yang juga penyintas perdagangan manusia, diangkat sebagai dua dari 11 anggota gugus tugas untuk memantau dan memberantas perdagangan manusia di Amerika dan dunia atau “The President’s Interagency Task Force to Monitor and Combat Trafficking in Persons (PITF)”.

Your browser doesn’t support HTML5

Perempuan Indonesia akan Berpidato di Ajang Konvensi Partai Demokrat AS

Dalam pernyataan di Gedung Putih ketika peresmian gugus tugas tersebut awal Januari lalu, Ima mengatakan tugas penting yang diemban tidak saja memberi informasi dan kesadaran pada masyarakat tentang bahaya perdagangan manusia, tetapi juga memperkuat aturan hukum untuk membawa setiap pelaku ke muka hukum.

Gugus tugas presiden yang pertama itu akan bertugas selama dua tahun dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Obama. Prioritas tugas tim ini adalah memperkuat aturan hukum, memberi saran mengenai pendanaan layanan bagi korban, mencegah perdagangan manusia dan meningkatkan kesadaran masyarakat.

Sejak tahun 2001, Departemen Luar Negeri diharuskan oleh undang-undang untuk mengeluarkan laporan tahunan perdagangan manusia “Trafficking in Persons”. Dalam laporan tahun 2015 diketahui bahwa Meksiko adalah sumber dan negara tujuan utama perdagangan manusia atau berada pada “Tier-1”, khususnya untuk kerja paksa dan pelacuran.

Sementara Indonesia berada pada “Tier-2”, sebagai sumber dan tempat transit perdagangan manusia, di mana korbannya diperkirakan mencapai 6,2 juta orang, terutama perempuan. Banyaknya jumlah orang yang melakukan perjalanan lewat laut guna menghindari pemeriksaan imigrasi resmi bisa jadi membuat jumlah korban sebenarnya jauh lebih besar.

Selasa malam, Ima Matul menjadi penyintas dan sekaligus aktivis anti-perdagangan manusia asal Indonesia pertama yang berbicara di forum politik terkemuka konvensi nasional Partai Demokrat. Mantan menteri luar negeri Madeleine Albrihgt dan mantan presiden Bill Clinton adalah dua tokoh yang berbicara setelah Ima.