Penyanderaan di Burkina Faso Berakhir, 32 Orang Tewas Termasuk 4 Teroris

Kendaraan terbakar di luar Splendid Hotel di Ouagadougou, Burkina Faso, 15 Januari 2016, saat diserbu oleh kelompok pria bersenjata Islamis.

Pejabat-pejabat Burkina Faso dan beberapa korban yang selamat hari Sabtu (16/1) mengatakan empat pejuang Al Qaeda yang menyerbu sebuah kawasan yang popular sebagai tempat berkumpul di ibukota Ouagadougou saat makan malam, hanya punya satu misi yaitu membunuh sebanyak mungkin orang sewaktu mereka bergerak menuju ke sebuah hotel dan membakar sebuah café. Dalam pengepungan selama 12 jam yang diselingi baku tembak, sedikitnya 28 orang tewas dalam serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara Afrika Barat, yang selama ini terhindar dari aksi kekerasan oleh kelompok jihad sebagaimana yang dialami negara-negara tetangganya.

Sebagaimana serangan teroris dari Paris hingga Jakarta, para penyerang pada hari Jum’at (15/1) di Burkina Faso itu menarget suatu kawasan dimana orang dari berbagai kewarganegaraan berkumpul. Ketika sejumlah orang sedang menghirup minuman dingin mereka di luar atau di dalam salah satu hotel mewah, yang juga banyak dihuni pekerja bantuan asing, beberapa penyerang menyerbu dan menembaki sebanyak mungkin orang sambil meneriakkan kalimat “Allahu Akbar” ketika mereka memasuki hotel.

Kelompok Al Qaeda yang mengklaim bertanggungjawab atas serangan itu mengeluarkan sebuah rekaman audio yang diberinya judul “Pesan yang Ditandatangani dengan Darah dan Potongan Tubuh.”

Diantara ke-28 korban yang berasal dari 18 negara berbeda itu terdapat seorang ibu dan anak perempuannya yang berusia lima tahun, pemilik Cappucino Café dimana sedikitnya 10 orang tewas dalam baku tembak dan kebakaran, sebelum para penyerang bergerak ke Splendid Hotel yang terletak di dekat café itu. Beberapa orang yang selamat bersembunyi selama beberapa jam di atas atap atau kamar mandi restoran. Dua warga Perancis dan dua warga Swiss juga termasuk diantara korban tewas yang diumumkan kementerian luar negeri kedua negara Sabtu malam ini.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau hari Sabtu juga mengatakan enam korban tewas adalah warga negara Kanada.

Pihak berwenang mengatakan keempat penyerang, yang semuanya tewas dilumpuhkan aparat, datang dengan mobil yang menggunakan plat Niger. Sedikitnya dua di antara mereka adalah perempuan dan seorang lainnya berasal dari Afrika. Beberapa saksi mata mengatakan para penyerang mengenakan sorban yang kerap digunakan di pedalaman Sahel dan beberapa diantaranya berbicara dalam bahasa Perancis dengan logat Arab, yang menunjukkan bahwa mereka berasal dari pedalaman sebelah timur Afrika.

Pasukan Burkina Faso yang didukung tentara Perancis yang ditempatkan di Mali berhasil membebaskan sedikitnya 126 sandera, meskipun para pejabat mengatakan jumlah sandera sebenarnya jauh lebih besar. Puluhan lainnya luka-luka dalam pengepungan selama 12 jam itu, terutama akibat luka tembak.

Burkina Faso umumnya dikenal sebagai negara berpenduduk Muslim, meskipun juga menjadi kediaman sejumlah besar warga Perancis karena sebelumnya merupakan bagian koloni Perancis. Ekstrimis-ekstrimis Islam di kawasan itu sudah sejak lama menarget kepentingan Perancis dan marah dengan keberadaan militer Perancis setelah 50 tahun lebih merdeka. Perancis memimpin upaya militer untuk mengusir para ekstrimis dari sebelah utara Mali tahun 2013 dan melanjutkan aksi kontra-teroris di seluruh kawasan Sahel itu. [em]