Penghitungan Korban Pasca Bencana Sulit Dilakukan

Para penyintas topan Haiyan mengantre beras gratis di sebuah gudang milik pengusaha di kota Tacloban, Filipina tengah (12/11). (Reuters/Erik De Castro)

Kerusakan saluran komunikasi dan tercerai berainya pemerintah daerah adalah di antara faktor-faktor yang menyebabkan sulitnya menghitung korban tewas secara akurat.
Dalam kekacauan yang ditimbulkan bencana alam, penghitungan korban tewas secara akurat seringkali sulit dan terkadang tidak menjadi prioritas.

Hal itu tidak terkecuali dalam bencana topan Haiyan di Filipina, dimana perkiraan awal korban tewas adalah 10.000. Presiden Benigno Aquino menolak perkiraan tersebut dengan mengatakan bahwa kemungkinan jumlahnya mendekati 2.000 atau 2.500. Perhitungan resmi menunjukkan ada 2.344 korban tewas.

Pada satu pihak, hal itu tidak berarti banyak di luar ruangan media. Berapapun jumlahnya, kematian tersebut adalah tragedi, baik 2.000, 2.000 atau 10.000. Terkait perencanaan operasi-operasi bantuan darurat, jumlah orang yang memerlukan bantuan dan kerusakan terhadap infrastruktur seringkali lebih penting. Seiring waktu, jumlah final akan dihitung, dan dalam kasus bencana-bencana yang lebih besar, ada perkiraan yang disepakati.

Faktor-faktor berikut adalah penyebab kebingungan di Filipina: rusaknya saluran komunikasi membuat mustahil untuk mendapatkan informasi terkini; pemerintah daerah tercerai berai sehingga tidak mampu bekerja dalam kapasitas penuh; warga segera menguburkan korban tewas atau jenazah tersedot ke laut dan tidak terhitung.

Faktor-faktor serupa disebut-sebut setelah tsunami di Asia pada 2004, ketika dalam beberapa kasus badan-badan pemerintah yang terpisah di Indonesia memberikan angka-angka yang jauh berbeda, tanpa menyadari kebingungan yang diciptakan.

Pada Minggu, dua hari setelah topan di Filipina, seorang pejabat polisi setempat mengatakan pada wartawan bahwa jumlah korban tewas diperkirakan pada 10.000, berdasarkan laporan-laporan dari kepala desa setempat yang dikumpulkan oleh gubernur. Pada hari yang sama, walikota Tacloban, salah satu daerah yang terkena kerusakan paling parah, memperkirakan 10.000 orang telah tewas di kota itu saja.

Dewan Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan bencana memperbarui jumlah korban tewas pada Rabu sore menjadi 2.344, dan 79 hilang. Jumlah itu merupakan penghitungan jenazah aktual dari wilayah-wilayah yang terdampak, dan angkanya terus meningkat.

Aquino, dalam sebuah wawancara dengan CNN, mengatakan bahw angka 10.000 yang dikhawatirkan atau diperkirakan, yang telah dikutip secara luas, adalah “terlalu banyak.”

“Sejauh ini 2.000, sekitar 2.500 adalah jumlah yang kita gunakan untuk korban tewas,” ujarnya. (AP/Chris Brummitt)