Pendukung Aliran Kiri di Dunia Tangisi Kematian Chavez

Gambar Presiden Venezuela Hugo Chavez pada sebuah altar di Caracas (4/1). (Reuters/Carlos Garcia Rawlins)

Ucapan belasungkawa atas kematian Hugo Chavez berdatangan dari seluruh dunia, terutama dari pendukung aliran kiri dan sosialisme.
Reaksi terhadap kematian Presiden Venezuela Hugo Chavez bercampur aduk, penuh polemik dan besar, seperti juga sang pemimpin tersebut saat masih hidup. Beberapa mengatakan kematiannya merupakan kehilangan yang tragis, sementara yang lainnya mengatakan itu kesempatan bagi Venezuela untuk melepaskan diri dari bayangannya.

Dilihat sebagai pahlawan oleh beberapa pihak karena retorika anti-Amerika dan pemotongan harga minyak, yang lain menganggapnya sebagai ‘bully.’

Sambil menangis, Presiden Bolivia Evo Morales, salah satu sekutu terdekat Chavez dan pengikut paling loyal, mengatakan “Chavez lebih hidup dari kapan pun.”

“Chavez akan terus menjadi inspirasi bagi mereka yang berjuang meraih kebebasan,” ujar Morales, Selasa (5/3), dalam pidato yang disiarkan televisi. “Chavez akan selalu hadir di setiap wilayah dunia dan semua sektor sosial. Hugo Chavez akan selalu bersama kita, menemani kita.”

Di Kuba, pemerintah Presiden Raul Castro mendeklarasikan dua hari berkabung nasional dan memerintahkan pemasangan bendera setengah tiang.

“Kami sangat berduka. Warga Kuba melihatnya sebagai salah satu dari putra yang paling luar biasa,” ujar pernyataan pemerintah.

Beberapa pihak di Kuba khawatir hilangnya sekutu negara nomor satu itu, yang telah mengirim miliaran dolar minyak ke Kuba, dapat mengakibatkan efek riak yang negatif di negara tersebut.

“Ini pukulan keras.. Sekarang saya bertanya-tanya, apa yang akan terjadi dengan kita?” ujar Maite Sierra, warga Havana berusia 72 tahun.

“Akan menjadi masa yang sulit, tidak hanya untuk Venezuela, tapi juga untuk Kuba,” ujar warga Havana bernama Sergio Duran.

“Semuanya akan bergantung dengan apa yang terjadi di Venezuela, namun apapun yang terjadi tidak akan sama seperti saat Chavez masih ada. Bahkan jika partai Chavez menang pemilihan mendatang.”

Di Amerika Serikat, yang hubungannya dengan Venezuela menegang di bawah kepemimpinan Chavez, Presiden Barack Obama menegaskan dukungan Washington terhatap “masyarakat Venezuela dan kepentingannya dalam membangun hubungan yang konstruktif dengan pemerintah Venezuela.”

“Seiring dengan dimulainya babak baru sejarah Venezuela, Amerika Serikat tetap berkomitmen pada kebijakan-kebijakan yang mendorong prinsip-prinsip demokrasi, penegakan hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia,” ujarnya dalam pernyataan tertulis.


Pendukung Presiden Venezuela Hugo Chavez saat kematiannya diumumkan di luar rumah sakit tempat ia dirawat di Caracas (5/3).

Sutradara Oliver Stone, yang memproduksi sebuah film mengenai Chavez dan sekutu-sekutu kirinya, menulis dalam akun Twitternya, “saya berduka cita atas meninggalnya pahlawan besar bagi mayoritas rakyatnya dan mereka yang berjuang di seluruh dunia.. Dibenci oleh kelas-kelas yang mengakar, Hugo Chavez akan terus hidup dalam sejarah. Sahabatku, beristirahatlah dalam damai.”

Sebagian dari yang diperkirakan ada 189.219 imigran Venezuela yang tinggal di Amerika Serikat – sekitar setengahnya ada di Florida – muncul pada Selasa dan bersorak serta melambaikan bendera negara mereka serta menyuarakan harapan akan perubahan di tanah air mereka.

“Kami tidak merayakan kematian,” ujar Ana San Jorge, 37. “Kami merayakan dibukanya pintu baru untuk harapan dan perubahan.”

Banyak yang menyuarakan optimisme dan kekhawatiran.

“Meski kita bersatu merayakan sesuatu hari ini, kita tidak tahu masa depan seperti apa,” ujar Francisco Gamez, 18, di sebuah restoran Venezuela terkenal di Doral, yaitu El Arepazo.

“Sesuatu yang buruk harus terjadi sebelum menjadi baik,” ujar Mario Di Giovanni, aktivis mahasiswa Venezuela di Miami yang membantu mengorganisir pemilih untuk pemilihan umum Oktober lalu. “Jadi saya kira ini langkah awal untuk perubahan yang sebenarnya di Venezuela.”

Anggota Kongres AS dari Partai Republik, Ileana Ros-Lehtinen, mengatakan kematian Chavez bisa menjadi kesempatan bagi demokrasi di Venezueala.

Presiden Argentina Cristina Fernandez, sekutu lain Chavez, mengumumkan tiga hari berkabung nasional. Ia dan Presiden Uruguay Jose Mujica, bersiap terbang ke Venezuela untuk pemakaman.

Di Nikaragua, negara lain yang mengambil manfaat dari minyak harga rendah Venezuela, Rosario Murillo, istri dan juru bicara Presiden Daniel Ortega, mengatakan Chavez adalah “mereka yang wafat namun tak pernah mati.”

Namun Raul Martinez, pemimpin kelompok kiri pro-pemerintah Sandinista Youth, mengatakan kematian Chavez merupakan “pukulan yang keras.”

“Hugo Chavez adalah sekutu terbaik kami, namun kami yakin bahwa Venezuela akan terus memberikan dukungan,” ujar Martinez.

Presiden Ekuador Rafael Correa, juga salah satu sekutu terdekat Chavez, memperkirakan pengaruh Chavez akan bertahan lama. “Kita telah kehilangan seseorang yang revolusioner, namun jutaan dari kita akan terus terinspirasi.”

Baik atau buruk, pengaruh Chavez memang terasa di seluruh Amerika Latin.

“Ia contoh dari keberanian, perjuangan dan semangat integrasi Amerika Latin. Dunia kehilangan orang besar,” ujar Alfonso Astorga, 65, seorang guru matematika di Santiago, Chili, sambil menahan tangis.

Di China, yang telah memberikan pinjaman miliaran dolar untuk membantu Chavez menggulirkan program sosial untuk ditukar minyak, para pemimpin tidak langsung berkomentar. Namun di Itnernet, pujian untuk Chavez berdatangan karena sikapnya melawan AS dan kebijakan-kebijakan sosialisnya.

“Chavez dan ‘sosialisme abad 21’ yang ia advokasi merupakan cahaya besar terang setelah perubahan drastis di Uni Soviet dan Eropa Timur menenggelamkan gerakan sosialis dunia, dan ia juga dikenal sebagai pembawa standar anti-Amerika,” tulis Zhu Jidong dari Pusat Riset Sosialisme Dunia di Chinese Academy of Sciences , dalam situs mikroblog China.

“Mari berkabung atas kematian pejuang besar ini.”

Ucapan selamat tinggal yang emosional berdatangan terhadap pahlawan sosialis yang oleh beberapa pihak disamakan dengan para pejuang revolusioner pada 1960an.

Penyanyi Kuba Silvio Rodriguez, yang terkenal karena lagunya untuk sang pejuang revolusi Ernesto “Che” Guevara, menggunakan judul lagunya untuk mengucapkan selamat tinggal pada Chavez di dalam blognya.

"Hasta siempre, comandante," tulisnya, atau bahasa Spanyol untuk “Selamat tinggal selamanya, komandan." (AP/Peter Orsi dan Christine Armario)