Presiden Maladewa mengatakan, Jumat (7/5), ledakan yang melukai mantan pemimpin Mohamed Nasheed adalah serangan terhadap demokrasi dan ekonomi negara itu, dan mengumumkan bahwa polisi Australia akan membantu penyelidikan.
Nasheed, 53, terluka dalam ledakan Kamis malam di luar rumahnya dan kini dirawat di sebuah rumah sakit di ibu kota, Male, kata polisi. Menteri Dalam Negeri Imran Abdulla mengatakan kepada televisi lokal bahwa luka-lukanya tidak mengancam jiwa.
Ia adalah ketua parlemen saat ini dan merupakan presiden pertama yang terpilih secara demokratis di negara kepulauan di Samudra Hindia itu, dari 2008 hingga 2012. Presiden Ibrahim Mohamed Solih mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi bahwa tim penyelidik Kepolisian Federal Australia akan tiba, Sabtu. Baik Solih maupun polisi belum memberikan rincian lebih lanjut tentang serangan itu dan belum ada yang mengaku bertanggung jawab.
Foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan sepeda motor yang hancur di tempat kejadian.
Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar dalam cuitannya di Twitter menggambarkan ledakan itu sebagai serangan terhadap Nasheed. “Semoga ia cepat sembuh. Saya tahu ia tidak akan pernah bisa diintimidasi,'' kata Jaishankar.
Mantan Presiden Maladewa Mohamed Nasheed. (Foto: dok).
Kepresidenan Nasheed mengakhiri pemerintahan otokratis selama 30 tahun, tetapi ia sendiri tidak mengakhiri masa jabatannya karena mengundurkan diri di tengah protes. Ia dikalahkan dalam pemilihan presiden berikutnya dan tidak memenuhi syarat untuk mengikuti pemilihan 2018 karena sempat mendekam di penjara. Rekan satu partainya, Solih, memenangkan pemilu itu.
Nasheed tetap menjadi tokoh yang berpengaruh dan terpilih sebagai ketua parlemen pada 2019.
Ia telah memperjuangkan upaya global untuk memerangi perubahan iklim, terutama kenaikan permukaan air laut yang mengancam pulau-pulau dataran rendah di negara kepulauannya.
Ia juga terkenal sebagai pengecam keras ekstremisme agama di negara yang mayoritas penduduknya Muslim Sunni itu, di mana dakwah dan pengamalan agama lain dilarang berdasarkan undang-undang.
Maladewa dikenal dengan resor mewahnya tetapi telah mengalami serangan kekerasan yang jarang terjadi. Pada 2007, ledakan di sebuah taman di ibu kota melukai 12 turis asing.
Ekstremisme agama dianggap sebagai penyebab meningkatnya kekerasan di negara itu. Maladewa adalah negara yang memiliki salah satu jumlah militan per kapita tertinggi yang bertempur di Suriah dan Irak.
Penangkapan telah dilakukan dari waktu ke waktu. Otoritas Maladewa mengumumkan Januari lalu bahwa delapan orang yang ditangkap November lalu ditemukan berencana menyerang sebuah sekolah dan sedang dalam proses membuat bom di sebuah kapal di laut. [ab/uh]