Pejabat Afghanistan Tuduh Tentara Pakistan Menembak Lebih Dulu

Warga Pakistan melakukan shalat jenazah atas para korban serangan NATO di Peshawar, Pakistan (27/11).

Laporan pejabat Afghanistan ini membantah keterangan Pakistan bahwa serangan atas pangkalan militernya terjadi tanpa ada provokasi lebih dulu.

Tentara NATO dan Afghanistan yang mengadakan patroli dekat perbatasan Pakistan telah dihujani tembakan, sehingga terpaksa minta bantuan serangan udara yang menewaskan 24 tentara Pakistan hari Sabtu.

Laporan yang mengutip pejabat-pejabat yang tidak disebut namanya ini agaknya membantah keterangan Pakistan bahwa serangan atas dua pangkalan angkatan daratnya di perbatasan itu dilakukan tanpa adanya provokasi.

Pejabat NATO dan amerika berusaha keras untuk meredam imbas politik yang ditimbulkan oleh serangan itu. Kepala NATO Andedrs Fogh Rasmussen hari Minggu berjanji akan mengadakan penyelidikan penuh atas jatuhnya korban yang tidak sengaja itu.

Kata Rasmussen kepada perdana menteri Pakistan Yusuf Raza Gilani, kematian tentara Pakistan itu tidak bisa diterima dan sangat disayangkan.

Hari Minggu pagi, menteri LN Pakistan Hina Rabbani Khar menelpon Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton dan mengatakan serangan udara atas pangkalan militer Pakistan itu, yang juga melukai 14 orang tentara, tidak bisa diterima. Khar mengatakan, serangan itu menunjukkan tiadanya penghargaan sama sekali atas nyawa manusia.

Tidak lama setelah insiden itu Pakistan segera menutup jalur pasokan NATO ke Afghanistan yang lewat Pakistan, dan memerintahkan Amerika supaya meninggalkan sebuah pangkalan udara di propinsi Baluchistan dalam 15 hari.