Para jenderal AS dan Filipina mengatakan ratusan pasukan Amerika Serikat dan Filipina telah mengakhiri latihan perang di wilayah Filipina utara pada Senin (10/6). Latihan tersebut menguji ketahanan tempur mereka dalam cuaca panas dan berubah-ubah dalam latihan yang berlangsung selama lebih dari satu minggu. Latihan itu bertujuan untuk mempersiapkan para tentara untuk merespons ancaman yang datang dari hutan tropis dan wilayah-wilayah terpencil.
Latihan tempur yang berlangsung dari 1 sampai 10 Juni itu berakhir pada Senin dengan sebuah upacara digelar di Filipina utara.
Pemerintahan Biden telah memperkuat sebuah persekutuan militer di kawasan Indo-Pasifik guna menghadapi China, termasuk kemungkinan konfrontasi akibat pertikaian soal Taiwan dan titik-titik konflik lain. Langkah tersebut menyusul usaha Filipina untuk meningkatkan pertahanan teritorialnya di tengah-tengah pertikaian yang semakin sengit dengan Beijing di Laut China Selatan.
BACA JUGA: Menhan China Peringatkan 'Batasan' Kemampuan Beijing dalam Menahan Diri di Laut China SelatanLatihan tempur tersebut, yang telah digelar di Hawaii dalam beberapa tahun terakhir, diperkenalkan di Filipina pada tahun ini. Versi latihan serupa juga digelar di wilayah Alaska. Latihan itu memberikan kesempatan bagi tentara AS dan sekutunya untuk berlatih dibawah kondisi ekstrem "di mana mereka akan beroperasi di wilayah kepulauan, hutan-hutan, dan juga di bawah cuaca panas terik di wilayah tropis serta dataran tinggi dan caca dingin ekstrem di wilayah Arktika," ungkap Mayor Adan Cazarez, pejabat urusan publik di Divisi Infanteri Tentara AS ke-25.
Latihan dari tanggal 1 hingga 10 Juni itu dimulai dengan serangan udara terhadap pasukan musuh buatan.
Aspek kunci dalam pertempuran tiruan itu mencakup perencanaan, pengerahan pasukan, persiapan logistik dan urusan darurat. Semua aspek tersebut lalu dinilai oleh penilai militer di bidang efesiensi tempur. [jm/ka/rs]