Industri Pariwisata Thailand Terpukul akibat Krisis Ekonomi Rusia

  • Steve Herman

Wistawan asing di pantai Pattaya, Thailand (foto: dok). Jumlah wisatawan Rusia yang berkunjung ke Thailand berkurang drastis sejak Rusia mengalami krisis mata uang.

Anjloknya nilai tukar mata uang Rusia menyebabkan kecemasan serius bagi industri pariwisata Thailand, yang sudah sengsara setahun ini akibat pergolakan politik yang berujung pada kudeta militer Mei lalu.

Warga Rusia mulai mengurangi pengeluaran, termasuk perjalanan keluar negeri, karena nilai mata uang rubel yang anjlok ke tingkat terendahnya terhadap dolar Amerika.

Dampak penghematan itu juga terasa di luar Rusia seperti di kota wisata pantai Pattaya, di pesisir timur Teluk Thailand.

Menurut Asosiasi Hotel Thailand, jumlah pemesanan hotel dari para wisatawan Rusia yang dikenal tidak segan mengeluarkan uang telah turun 70 persen untuk puncak musim liburan mendatang antara 28 Desember hingga 15 Januari.

Suladda Sarutilavan, direktur cabang asosiasi itu di Pattaya, mengatakan kepada VOA wisatawan Rusia adalah favorit utama bagi tempat wisata pantai itu yang terkenal dengan kehidupan malamnya.

Sekitar 1,4 juta orang Rusia telah mengunjungi Thailand hingga November tahun ini. Tetapi proyeksi untuk Desember tampaknya buruk dan asosiasi operator hotel nasional memperkirakan jumlah wisatawan Rusia yang datang kesana tahun ini akan turun 50 persen dibandingkan tahun lalu.

Suladda mengatakan tempat-tempat wisata populer seperti Pattaya, Phuket dan Samui – yang sangat bergantung pada wisatawan Rusia – memperkirakan kondisi buruk itu tidak akan berubah paling tidak dalam enam bulan mendatang.

“Kami tidak tahu kapan ini akan berakhir. Bagi operator tur dan hotel yang bergantung pada konsumen Rusia, mereka cukup cemas. Kini mereka inigin menutup anjloknya turis Rusia dengan berusaha memikat wisatawan dari negara-negara lain,” ungkap Suladda.

Banyak daerah kota dan pantai wisata itu mulai menerapkan teknik pemasaran darurat untuk menarik minat wisatawan dari negara tetangga seperti China dan negara anggota ASEAN.

Dalam beberapa tahun ini, wisatawan Rusia adalah pengunjung ketiga terbanyak ke Thailand. Bagi warga Rusia yang masih ingin berlibur dan menghindari musim dingin panjang, mereka dilaporkan lebih memilih Vietnam dan Myanmar yang lebih murah.

Presiden Rusia Vladimir Putin hari Kamis mengatakan “situasi tak menguntungkan” yang dialami mata uang rubel mungkin akan membaik menjelang pertengahan tahun 2015 tetapi mungkin juga berlangsung selama dua tahun.